Salam Entrepreneur..
Perkenalkan nama saya Teddy Saputra dan saat ini saya bergabung di dalam Universitas
Ciputra sebagai dosen pengajar. Di samping itu saya juga seorang entrepreneur yang
sedikit banyak saya pernah mengalami kegagalan, kemudian saya berusaha bangkit lagi,
kemudian pernah mengalami kegagalan lagi, tetapi saya dari segala pengalaman saya
itu saya belajar bahwa justru kegagalan itulah yang menjadi suatu hal yang berharga
ketika kita melangkah lebih jauh lagi dalam perjalanan entrepreneurship kita. Karena
itu pada kesempatan kali ini saya akan berbagi kepada para UC Onliners yang menyaksikan
pada kesempatan ini. Bagaimana sih ketika saya memulai usaha, kemudian
saya gagal, dan kemudian saya belajar dari kegagalan itu. Di mana pada akhirnya saya
berharap agar teman-teman dari UC Onliners bisa melihat bahwa kegagalan itu sangat
berharga dan kedua saya juga berharap agar kegagalan yang saya rasakan, kegalan yang
saya alami kemarin itu tidak terjadi pada diri Anda. Jadi, Anda bisa belajar dari
pengalaman saya ini. Seperti itu. Karena itu kita mulai saja program ini.
Saya sebagai entrepreneur saya melihat ada tiga sisi yang mudah, tiga langkah yang
kita miliki sebagai entrepreneur. Yang pertama adalah penting sekali bagi kita untuk
menemukan apa passion kita sebenarnya. Siapa diri kita sebenarnya. Apa keunggulan
kita. Dan juga apa kelemahan kita. Dari situ kita dapat mengembangkan bisnis apa
yang akan kita laksanakan.
Mengapa passion ini menjadi sangat penting? Karena bagi saya jikalau kita
bekerja sesuai dengan passion kita, maka apa pun yang akan kita kerjakan ini
tidak membuat kita merasa lelah. Juga kita tidak merasa kalau kita gagal atau gimana,
kita akan merasa saya harus lebih maju, lebih baik lagi. Itu kalau misalkan kita
bertindak, berjalan atau memulai bisnis berdasarkan passion yang kita miliki.
Kedua, penting sekali bagi kita untuk memahami teknik-teknik dalam bisnis yang saya
pikir rekan-rekan dosen-dosen yang lain sebelumnya juga menyampaikan banyak hal tentang
bagaimana teknik bisnis yang baik. Dan akhirnya, setelah kita mengetahui passion kita
apa, kemudian kita juga mengetahui bagaimana kita berbisnis dengan teknik yang baik,
baru kemudian kita mengubah passion ini menjadi suatu bisnis yang baik di
mana passion kita ini akan menghasilkan sesuatu yang bernilai buat orang
lain sehingga orang lain ini akan bersedia untuk membayar kepada kita dalam memperoleh
produk dan jasa yang kita hasilkan ini.
Saya tinggal di kota Bogor. Dan saya lahir di sana, besar di sana, sekolah di sana,
sampai dengan SMA. Dan kota Bogor ini perlu diketahui bahwa kota Bogor ini sangat
berdekatan dengan Jakarta. Jadi berbatasan langsung dengan Jakarta, dimana kota Bogor
ini mempunyai penduduk sejumlah 4,7 juta jiwa. Alasan saya waktu itu cukup sederhana
yaitu bahwa saya tahu kota Bogor dengan baik dan saya pikir saya bisa dengan pengalaman
saya di kota Bogor, dengan pengetahuan saya tentang kota Bogor, ini adalah peluang
yang baik buat saya memulai bisnis di kota Bogor. Just that. Itu pemikiran
saya pasa awalnya. Dan saya ingin memulai bisnis di kota Bogor.
Di kota Bogor itu ada satu universitas swasta yang cukup besar. Setelah saya cari
tahu jumlahnya ada 20 ribu mahasiswa. 20 ribu mahasiswa dan universitas ini adanya
di pinggir jalan. Jadi bisa dibayangkan kalau kita berdagang di depannya, berarti
kita bisa mentargetkan market 20 ribu mahasiswa di dalamnya kemudian juga
orang-orang yang ada di sekitar kampus. Saya pikir, “Wah, ini adalah pasar-pasar
yang sangat-sangat luar biasa”. 20 ribu mahasiswa dan terkotak di dalam satu
daerah itu di kota Bogor. Setelah saya bicara-bicara, Saya ngomong-ngomong sama teman.
Kebetulan ada teman saya yang ahli dalam bikin mie ayam ceritanya. Inisialnya “I”.
Nah, teman saya ini teman SMA. “I dan IR”. Jadi ada dua teman saya, I
dan IR. Waktu itu kita duduk bareng. Kebetulan lagi bicara-bicara. Anak muda
ya.
Kita bertiga mempunyai cita-cita yang sama yaitu kita pengen bisnis di Bogor. Nah,
salah satu teman saya si I ini kebetulan punya kehlian membuat mie ayam. Waah, cocok
ini saya pikir ya. Gimana kalau misalkan kita sewa tempat di depan universitas ini.
I ini yang masak, yang menyediakan produksi mie ayamnya ini. Kita sasar target 20
ribu mahasiswa. Tentu ini akan jadi sesuatu yang sangat-sangat menarik. Waktu itu
sampai posisi ini kami berpikir ini akan sangat mudah sekali dijalankan dan akan
sangat laku. Kira-kira seperti itu. Nah, survei-survei saya laksanakan bertiga dan
saya ngelihat sepintas-sepintas saja lah. Ini salah satu kesalahan saya, UC
Onliners. Di mana kita sebenarnya ketika memulai suatu bisnis kita harus mempelajari
lingkungan tempat kita akan berbisnis. Kita harus mempelajari pasar, mempelajari
persaingan, pesaing-pesaing di sekitar kita.
Kami waktu itu memang mempelajari. Tetapi dengan menggunakan cara yang gampang.
Nah ini salah satu yang saya ingin bagikan kepada UC Onliners. Kita lihat power point
saya, yang diatas itu salah satu tukang mie ayam yang ada di depan universitas ini
tapi lokasinya agak-agak lebih mojok. Jadi di pojokan. Saya ke sana saya ngelihat.
O, ini pesaing saya ini. Saya langsung menilai. Wah, tempatnya jelek. Kalau saya bikin misalnya
tempatnya lebih bagus. Thats it, saya akan menang. Sesimpel itu saja waktu
itu. Kemudian yang kedua saya beli mie ayamnya. Dan saya perhatiin. Di power point
saya foto itu saya kasih fotonya. Mie ayamnya seperti itu. Yang saya lihat yang langsung
jadi perhatian saya adalah ayam yang ada di dalam mie ayam itu. Ayamnya berwarna
coklat, yang saya juga tentu saya pikir akan menumbuhkan pertanyaan bagi para konsumen,
ini ayam apa bukan? Dan saya rencananya, saya akan memproduksi yang lebih baik lagi
daripada ini.
Ini pesaing saya. Ternyata dengan tempat yang seperti ini, yang menurut saya jelek,
kembali lagi saya tekankan ya. Bahwa menurut kami jelek. Dan mie ayam yang menurut
kami ini tidak ideal, ternyata dia mampu menjual 300 mangkuk setiap hari di harga
8.000 per mangkuk. Kalau misalkan kita kalkulasi dalam satu bulan misalkan 20 hari
kerja berarti 30 juta itu omsetnya dalam satu bulan. Tentu saja kami bertiga semakin
tertarik dengan bisnis ini. Dan kami bertekad, semakin bertekad akan menjadi pesaing
yang kuat baginya. Ini kalkulasi, kemudian kami membuat kalkulasi sederhana bahwa
ternyata biaya pokok semangkuk mie ayam itu cuma 3.000 lho. Kemudian dia,
pesaing saya jual harga per mangkuk 8.000. Artinya saingan saya untung 5.000 per
mangkuk. Kalo misalkan satu hari mereka jual 300 mangkuk, yang artinya mereka untung,
mereka mendapatkan omset 1,5 juta per hari, sorry, mereka akan mendapatkan
untung 1,5 juta per hari, dan mendapatkan untung bersih, untung kotor 30 juta per
bulan. Wow, ini luar biasa ini. Tentu kami makin bertiga semakin melihat bisnis ini,
kembali lagi saya semakin ngiler saudara-saudara. Dan saya akan mulai melakukan action bersama
teman-teman saya.
So, setelah kita berkumpul, apa yang akan kita perbuat sekarang? Saya mulai mencari
tempat. Tempat yang lebih baik, tempat yang lebih strategis. Kalau tadi pesaing saya
posisinya ini adalah universitasnya pesaing saya itu posisinya ada di ujung sebelah
kiri, agak jauh. Kesempatan saya mendapatkan tempat yang akan saya sewa itu persisi
di depan pintu keluar dari kampus. Dan lihat saja itu gambarnya. Tentu lebih baik
ya. Kondisi dari tempatnya juga lebih bagus, lebih bersih. Yang artinya saya semakin
optimis. Dalam pikiran saya, “Wah, kalau tempat dia sekedar seperti itu, saya
tempatnya lebih bagus, maka saya akan menang persaingan”. Pertimbangan saya
sesederhana itu waktu itu. Ini perbandingannya. Sebelah kiri, itu teman saya IR yang
di atas. Kemudian yang di bawah bajunya doang itu kelihatan. Itu I. Dan
ini tempat saya yang lebih jauh lebih bagus tentunya ya? Semua pasti setuju ya UC
Onliners?
Kalau dengan tempat saya, dibandingkan dengan tempat pesaing, tentu lebih baik tempat
saya, tempat kami. Masalah produk, ini adalah mie ayam yang kami ciptakan. Kemudian
kami branding namanya Mie Ayam 77. Pemikiran sederhananya seperti ini. Kompetitor
kami mempunyai bentuk ayam yang Anda bisa lihat power point, warnanya coklat karena
dikasih kecap yang lumayan banyak. Tetapi tidak berwujud ayam. Jadi, kami berpikir
bertiga. Kembali lagi kami bertiga berpikir bahwa, “Wah, kalo misalkan kita
bikin ayamnya yang kelihatan bentuk ayamnya, tentu ini akan lebih bagus dong”.
Karena orang-orang akan melihat, wah ini ayam bener ini, ayam bener.
Oke, akhirnya kita jalan. Setelah kita mendevelop produk, dan jadi deh itu.
Mie Ayam 77. Tampilannya tentu lebih baik ya? Harga? Kita juga menang. Kita mau pasang
harga Rp 6.000,00 dalam satu mangkuk. Pesaing 8.000. Lebih murah ke kita 6.000. Dari
tempat kita menang, kemudian dari bentuk juga kita pikir kita menang, dan harga juga
kita pikir kita menang. Tiga kemenangan, tiga perhitungan kita ini, tiga penilaian
kita, tiga aspek kita merasa labih kuat daripada pesaing. Dan kita siap mulai.
Dengan modal 30 juta. Untuk tempat kami harus sewa 30 juta. 30 juta untuk
satu tahun. Ini besar. Ini cukup mahal tapi waktu itu kami pertimbangkan bahwa posisinya
sangat strategis. Ada persis di depan pintu keluar kampus di mana 20.000 mahasiswa
yang keluar masuk tiap hari. 30 juta lumayan worthed lah ya kami pikir
waktu iitu. Kemudian kami juga menginvestasikan 5 juta untuk pembelian bahan baku
awal. Dan peralatan, dan sebagainya, siap untuk memulai usaha. Langkah satu sudah
kamu laksanakan. Ini tempat kami. Dan ini rekan saya. Kami mulai memperbaiki semuanya.
Siap-siap bertarung di pasar. Langkah kedua, kami mulai menata dekorasi ruangan lebih
rapi dari pesaing. Setuju khan ya? Lebih bagus. Kami beli tempatnya lebih mahal,
kemudian kursinya bisa Anda lihat. Bahkan sausnya juga kami menggunakan saus yang
lebih mahal. Kami sangat-sangat ingin bersaing dan ingin menang ini. Langkah ketiga
kami mulai buka. Ini tempat kami dan kami mulai buka ini.
Ini hasilnya. Pada bulan pertama, kami mencapai 30 mangkuk satu hari. Pada bulan
pertama lho. 30, wah oke lah saya bilang ya. Kalau tiga puluh mangkuk pertama, ini
oke ini. Dan saya makin bersemangat. Tetapi pada bulan kedua, ada penurunan. Menjadi
dua puluh lima mangkuk satu hari. Perhari ini. Bulan ketiga, sepuluh mangkuk per
hari. Mulai ketakutan. Pada bulan ke empat, percaya atau tidak, mie ayam yang tadi
kami develop seperti itu cuma laku 2 mangkuk per hari. Wah, ini luar biasa
sekali ini. Apa yang kami pelajari saat itu? Kemudian kami mulai bertiga, kalau misalkan
bisnis mulai rusak, saya bertiga teman mulai berdebat. Berdebatnya mulai berdebat
keras ya. Mulai menyalahkan satu sama lain. Apa ini? Kesalahannya apa? Kenapa bisa
begini? Tempat kita lebih bagus, produknya lebih bagus, dan ketiga lokasinya jauh
lebih strategis daripada pesaing. Ternyata 300 mangkuk itu paling cuma lari ke kita
30 per hari. Kemudian makin lama jelas sekali dari angka-angka itu terlihat ya, pelanggan
tidak balik lagi. Tidak senang. Dari 30, 25, 20, bahkan pada bulan ke empat itu rata-rata
cuma dua mangkuk sehari. Kami terkalahkan. Terus terang saja waktu itu kami merasa
kami benar-benar digebukin itu sama si tukang mie ayam yang kelihatannya lebih sederhana
ya?
Why? Why ini yang harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Pertama, kita
lihat prosesnya. Ketika saya mulai menjadi seorang akademisi saya mulai rapi ini
melihat ini. Ini prosesnya. Pertama saya cuma melihat bahwa ada 20.000 mahasiswa.
Saya cuma melihat itu saja. Bukankah itu yang sering kita lakukan UC Onliners? Cuma
melihat market begitu besar. Saya juga waktu itu melakukan itu. 20.000 mahasiswa.
Keluar langsung, ini adalah pasar yang sangat luar biasa besar. Kesimpulannya
sangat sederhana waktu itu ya? Kemudian kedua, setelah mempelajari semuanya dengan
sederhana sekali, langsung kita invest 30 juta. Kebetulan ada uang, jalan langsung
35 juta. Sewa tempat, tanpa berhitung lebih dalam, bagaimana ini. Tanpa melakukan
eksplorasi dan sebagainya, kita ambil tempatnya langsung. Ketiga, kita langsung melihat
bahwa lokasinya sangat-sangat strategis. Di depan pintu keluar kampus. Semakin pede.
Kemudian yang keempat, kita langsung menata dekorasi ruangan lebih bagus daripada
pesaing. Prediksi, kemudian terakhir kita langsung grand opening.
So, mana yang salah? Saudara-saudara UC Onliners sekalian. Saya akui pada waktu
itu kami bertiga sama sekali tidak memikirkan apa-apa. Strategi bisnis tidak ada,
visi bisnis tidak ada, semuanya hanya bisa dikatakan langkah bisnis yang terburu-buru
ya. Terburu-buru dan berdasarkan data-data yang sangat-sangat sekilas saja. Bahwa market yang
cukup besar, kami mampu membuat lebih baik. Semuanya menurut kami, menurut kami,
menurut kami.
Mie ayamnya lebih bagus itu menurut kami lho. Bukan menurut pasar. Apakah tempatnya
lebih bagus? Itu menurut kami juga. Dan itu menjadi kesalahan yang sangat saya sesalkan
selama ini. Semuanya pertimbangan pada waktu itu, menurut kami. Itu yang tidak boleh.
Apa yang terjadi? Saya bertanya terhadap seratus mahasiswa di sana secara diam-diam.
Setelah kejadian. Harusnya ini dilakukan di awal. Saya karena penasaran kenapa saya
sampai gagal, saya tanya sama seratus mahasiswa di sana. Secara diam-diam. Why?
Kenapa kamu nggak berbalik lagi?
Ternyata ada perhitungan yang saya lewatkan. Di sana, mahasiswa, 20.000 mahasiswa
yang ada di sana ternyata merupakan mayoritas beragama muslim. Dari daerah. Muslim
dari daerah. Bukan dari kota Bogor, tapi dari daerah. Ya, dari daerah-daerah terpencil.
Kebanyakan mereka beragama muslim. Ayam berwarna putih. Ternyata ini yang kami bangga-banggakan,
eh ternyata merupakan kesalahan. Kenapa? Ini ayam kami nih. Berwarna putih.
Bagi customer, ayam yang berwarna putih justru itu itu yang dikira babi saudara-saudara
UC Onliners. Karena kebanyakan pada mahasiswa di sana yang berasal dari daerah ini
makan mie ayam ya seperti yang ini. Seperti yang pesaing kami ini. Di mana ada hitamnya.
Lihat kompetitor tetangga, ya itu. Itu mie ayam menurut mereka. Ketika kamu mengeluarkan
produk baru yang menurut kami lebih baik, justru mereka menilai, mempertimbangkan
bahwa yang putih itu adalah babi. Ini cukup fatal sekali ya. Cukup fatal sekali,
dan saya baru tahu setelah saya bertanya kepada seratus mahasiswa.
Kemudian kedua, teman saya I itu, adalah beretnis tionghoa. Ini saya tidak bermaksud
untuk mengedepankan SARA atau bagaimana ya. Tatapi ini kenyataan ini. Bahwa ada kesalahan
di sana ketika teman saya yang berjualan berlatar belakang etnis tionghoa, dengan
tampilan mie ayam putih yang seperti babi, semakin meyakinkan customer bahwa ini
bukan ayam tetapi ada campuran babi di dalamnya. Dan ketiga, tidak ada tanda “halal”,
maupun suatu upaya promosi bahwa itu halal. Ini yang menjadi kesalahan kami yang
luar biasa pada waktu itu. Dan akhirnya pada akhirnya kami mengambil, ini yang menjadi
suatu kesimpulan yang berharga buat saya dan saya ingin berbagi dengan pada UC Onliners
yang nanti akan memulai usahanya bahwa, satu, ketika kita, kita harus mempelajari
lingkungan bisnis terlebih dahulu, sebelum akhirnya kita memulai bisnis kita. Mempelajari
pasar, mempelajari persaingan, mempelajari lingkungan tempat bisnis kita ada di sana.
Kedua, jangan pernah menilai sesuai dengan apa yang kita bilang ini benar. Seperti
tadi pengalaman saya tadi itu lho. jangan pernah lupa bahwa tiga kemenangan,
tiga poin kenggulan saya dibanding pesaing itu menurut saya, menurut teman saya,
dan menurut teman saya. Menurut kami. Itu adalah kesalahan yang sangat fatal. Kita
tetap harus berpikir bahwa penilaian yang baik adalah penilaian yang dapat kita ambil
dari masyarakat. Dari market kita sendiri.
Kemudian yang kedua, ketika kita memulai suatu bisnis, ketika kita memulai start up suatu
bisnis, tetap kita harus mempunyai strategi yang mumpuni ya. Tetap harus
mempunyai visi, kemana ini usaha kita akan berjalan, dan bagaimana caranya untuk
mencapai visi tersebut. Pada bulan ke lima, sesuai kesepakatan, saya ngobrol dengan
teman-teman saya. Kondisinya waktu itu sudah nggak enak lho. Karena
ya gitu lah ya. Di dalam bisnis di kala semua berjalan tidak sesuai rencana,
yang ada kita nyalahin diri kita sendiri dan sebagainya. Dan akhirnya saya
bertiga sama teman berdiskusi bahwa kita bilang, “Wah ini kalau diterusin bisa
makin hancur ini”. Sekarang saja dua mangkuk per hari khan makin rugi
ya. Kedua teman saya itu akhirnya keluar. Dan saya berpikir waktu itu. Waduh, kalau
misalkan sudah bayar tiga puluh juta untuk satu tahun dan ini masih jalan lima bulan.
Bagaimana ini khan ya? Akhirnya saya mulai menggunakan apa yang saya pelajari,
saya mulai melakukan riset, dan melakukan pelajaran yang lebih baik ya. Dan
saya tidak mau terjerumus ke dalam kesalahan saya dua kali. Akhirnya saya membuka
usaha baru di tempat yang sama untuk menuntaskan masa sewa waktu itu. Dulu pikirannya
seperti itu. Saya mulai membeli mesin fotokopi. Membeli peralatan-peralatan dan akhirnya
buka satu toko fotokopi dan toko perlengkapan-perlengkapan itu di situ. Ya, sampai
saat ini berjalan. Berjalan dengan baik dan bisa menghasilkan keuntungan bagi saya.
Satu kesimpulan yang saya harapkan bisa diambil oleh semua UC Onliners. Yang paling
penting adalah, kita tidak pernah boleh merasa apa pun yang kita nilai di dalam bisnis
menurut apa yang kita nilai. Atau apa yang menurut kita benar, apa yang menurut kita
baik. Tidak bisa begitu dalam bisnis. Market yang selalu pada akhirnya memutuskan
apakah Anda berhasil atau tidak.
Demikian apa yang dapat saya bagikan hari ini. Saya Teddy Saputra. Salam Entrepreneur...
Sumber : Entrepreneurship Ciputra Way (Batch 2)
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online