Senin, 10 Maret 2014

RESOURCE BASE STRATEGY (STRATEGI BERBASIS SUMBER DAYA) - Whidya Utami

Salam Entrepreneur, saya Widya Utami pada kesempatan kali ini ingin berbagi sharing bersama dengan UC Onliner berkaitan dengan strategi berbasis sumber daya atau resourse-based strategy. Strategi berbasis sumber daya ini coba saya kemas secara lebih sederhana untuk bisa diaplikasikan bagi UC Onliner yang sedang mengembangkan usaha kecil dan usaha menengah.
Strategi berbasis sumber daya atau resourse-based strategy ini dikembangkan oleh Mahoney dan Pandini pada tahun 1992, yang prinsipnya adalah ada empat hal yang perlu dikembangkan dalam proses mengembangkan sebuah bisnis usaha kecil atau usaha menengah. Empat hal itu adalah yang pertama pola organisasi dan administrasi yang baik. Kemudian yang kedua, perpaduan aset fisik berwujud sebagai sumber daya manusia alam, serta aset yang tidak berwujud seperti hal-hal yang mungkin bisa digali dari sesuatu yang menjadi value dari usaha kecil menengah tersebut. Yang ketiga adalah bagaimana sebuah UMKM itu bisa secara adaptif merespon pasar yang selalu berfluktuasi. Yang keempat adalah budaya organisasi.
UC Onliner, karekteristik dari usaha kecil menengah adalah merupakan usaha yang mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan dengan usaha dengan skala besar. Karena itu maka usaha kecil dan menengah perlu mempunyai kita-kita yang khusus untuk bisa mengembangkan, mengelola, dan mengkoordinasikan semua resources yang dimiliki oleh usaha kecil menengah tersebut.
Kita akan beranjak pada pembahasan atau sharing dari satu resouces yang tadi saya sebutkan empat resources di dalam resources-based strategy. Yang pertama yaitu berkaitan dengan pola organisasi dan administrasi yang baik. UC onliner, seringkali usaha kecil dan menengah dikembangkan dari sebuah usaha yang berangkat dari passion, dari masing-masing orang yang ingin masuk menjadi seorang entrepreneur. Karena itu biasanya mereka tidak mempunyai pengetahuan dan knowledge yang cukup bagus berkaitan dengan pengembangan sebuah pola organisasi. Untuk itu maka kita akan mencoba mensharingkan bagaimana sebaiknya pola organisasi dan administrasi yang baik dikembangkan untuk sebuah usaha kecil dan menengah. Sederhana sekali. Kita tidak perlu membandingkan atau melihat bagaimana struktur organisasi menengah dan struktur organisasi besar. Dimana struktur organisasi menengah dan organisasi besar tentunya mempunyai struktur organisasi yang sangat panjang ataupun juga yang sangat lebar atau sangat luas.
Struktur organisasi dari usaha kecil atau menengah kita buat sesederhana mungkin dengan jenjang atau hirarki yang tidak terlalu panjang. Dan itu menjadi sebuah keunggulan dimana seorang entrepreneur sebagai seorang CEO didalam usaha kecil dan menengah itu akan bisa secara langsung berkomunikasi mendelegasikan tugas kepada bawahannya. Dengan struktur organisasi yang cukup pendek, dengan hirarki yang cukup singkat.
Bagaimana dengan administrasi yang baik? Sebuah usaha kecil dan menengah biasanya masih mengalami kesulitan untuk membangun sebuah struktur administrasi yang baik. Sebagai misal sederhana adalah berkaitan dengan pembukuan atau pencatatan keuangan. Seringkali usaha kecil dan menengah masih mencampur-adukkan antara pembukuan atau pencatatan keuangan pribadi dengan pencatatan atau keuangan usaha. Untuk itu UC Onliner, tentunya bisa diawali dengan memisahkan pencatatan aset atau pencatatan usaha yang dilakukan yang berkaitan dengan usaha Anda, dan itu terpisah dari pencatatan keuangan pribadi Anda. Misalkan, berapa uang yang setiap hari tercatat masuk sebagai pendapatan atau penghasilan usaha Anda? Dicatat secara terpisah. Kemudian Anda juga bisa melakukan pencatatan terhadap biaya atau cost yang dikeluarkan setiap hari, setiap periodenya, dan itu juga harus terpisah dari pencatatan keuangan pribadi Anda.
Yang kedua, masih berkaitan dengan pola organisasi dan administrasi yang baik, UC Onliner juga bisa melakukan pemisahan terhadap aset usaha atau pribadi. Jadi, mulai dikembangkan upaya-upaya untuk mengidentifikasi mana aset pribadi, dan mana aset usaha. Misalkan, kalau Anda mempunyai sebuah toko, maka toko ini dianggap sebagai aset usaha yang terpisah dari aset pribasi Anda. Kendaraan yang mensupport usaha Anda, tentunya juga harus dipisahkan sebagai aset usaha dibandingkan, atau jangan dicampurkan dengan sebagai aset pribadi.
Kemudian yang ketiga, masih berkaitan dengan resources yang pertama kita yaitu berkaitan pola organisasi dan administrasi yang baik, UC Onliner bisa juga mengawali dengan menciptakan suatu mekanisme atau standar untuk menetukan pemilihan supplier atau pemasok yang cukup baik. Karena ini juga menjadi sebuah aset sebenarnya bagi usaha Anda. Mengapa supplier yang baik itu merupakan aset bagi usaha Anda? Karena supplier yang baik akan memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap kelangsungan bisnis Anda. Dalam arti Anda akan mendapat jaminan untuk mendapatkan supply bahan baku yang kualitasnya baik dengan mungkin mekanisme pembayaran yang cukup fleksibel. Untuk itu tentunya Anda harus melakukan relasi yang cukup baik untuk mengembangkan jaringan usaha dengan para supplier Anda.
Contoh yang lain yang masih berkaitan dengan resource yang pertama kita yaitu pola organisasi dan administrasi yang baik, misalkan seringkali kita melihat bahwa usaha kecil dan usaha menengah dikelola oleh sumber daya yang sangat terbatas, karyawan-karyawan yang masih terbatas, dengan demikian maka biasanya pemilik akan terlibat di dalam proses pengelolaan usaha kecil dan usaha menengah tersebut. Kadangkala kita tidak menganggap atau tidak menghitung biaya dari tenaga kerja yang dikeluarkan oleh si pemilik itu sebagai sebuah biaya yang termasuk di dalam biaya operasional usaha kecil dan menengah.
Tenaga kerja yang disampaikan atau yang dikontribusikan oleh pemilik usaha kecil dan menengah seringkali tidak dihargai sebagai biaya di dalam operasional kegiatan usaha kecil dan menengah tersebut. Ini adalah hal yang mengindikasikan bahwa usaha kecil dan menengah masih belum dikelola dengan pola organisasi dan administrasi yang baik.
UC Onliner, kita beranjak kepada resources yang kedua. Resources yang kedua yaitu perpaduan antara aset fisik dan aset yang tidak berwujud. Usaha kecil dan menengah itu seringkali lemah dalam konteks aset fisik dari usaha. UC Onliner tentunya mengawali usaha dihadapkan pada situasi yang sangat terbatas dalam hal aset yang dimiliki. Aset dalam hal ini adalah modal usaha. Baik modal itu berwujud aset yang berwujud lokasi, tempat usaha, peralatan usaha, dan sebagainya. Namun, jangan lupa UC Onliner, bahwa kekuatan dari usaha kecil dan menengah adalah kondisi dimana usaha kecil dan menengah itu memiliki sumber daya yang cukup bernilai. Karena itu di dalam resources yang ketiga, kita akan diskusikan, kita akan sharingkan, bagaimana perpaduan aset fisik dan aset yang tidak berwujud ini akan memberikan kontribusi yang luar biasa bagi usaha kecil dan menengah.
Apa yang dimaksud dengan aset fisik? Hal itu sudah saya jelaskan di depan sedangkan kita nanti berikut ini akan mencoba untuk mensharingkan apa yang dimaksud dengan aset tidak berwujud. Aset tidak berwujud yang dimiliki usaha kecil dan menengah salah satunya adalah upaya-upaya yang sangat kreatif yang dimiliki oleh orang-orang yang terlibat dalam pengelolaan usaha kecil dan mengah.Seorang entrepreneur atau pelaku yang mengembangkan usaha kecil dan menengah bisa dipastikan merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan lebih, tough,ulet, dan tangguh dalam mengelola usaha-usaha mereka.
Kebiasaan berpikir kreatif dan inovatif inilah yang memungkinkan usaha kecil dan menengah mampu bertahan dalam kondisi perekonomian dan kondisi persaingan yang luar biasa saat ini. Jadi aset yang tidak berwujud dalam bentuk hal-hal seperti ini lah yang bisa menjadi value dari resources usaha kecil dan menengah.
Apa lagi UC Onliner yang bisa dikategorikan sebagai aset tidak berwujud dari usaha kecil dan menengah? Hal yang lain yang bisa dicontohkan adalah misalnya bagaimana good will dari merek produk yang dikembangkan. Hal ini tentunya butuh waktu. Usaha kecil dan menengah yang masih dalam kondisi start up tentunya tidak memiliki aset yang tidak berwujud seperti ini. Biasanya adalah usaha kecil dan menengah yang sudah mengalami fase scale up atau bertumbuh, mereka tentunya bisa mengembangkan brand yang memiliki good will yang luar biasa bagi usaha kecil dan menengah. Hal ini tentunya bisa UC Onlier lihat dari banyaknya franchise- franchise yang dikembangkan oleh usaha kecil dan menengah. Franchise ini tentunya akan bernilai luar biasa dan menjadi aset tidak berwujud bagi usaha kecil dan menengah. Bagaimana UC Onliner? Ada keinginan untuk mengembangkan good will berupa brand dalam bentuk aktivitas mengembangkan franchise? Tentunya ini menjadi peluang usaha yang luar biasa.
Contoh lain dari aset yang tidak berwujud adalah misalkan tentang relasi personal yang dimiliki oleh usaha kecil dan menengah baik itu terhadap pelanggan, baik itu terhadap supplier, baik itu terhadap relasi-relasi bisnis mereka. Hal ini seringkali tidak dimiliki oleh usaha dalam skala besar dan dalam usaha yang lebih besar dari usaha kecil dan menengah.
UC Onliner, untuk itu kita dapat beranjak pada resources yang ketiga, yaitu adanya kemampuan untuk melakukan adaptasi terhadap pasar. Jadi, resources yang ketiga menyoroti bahwa usaha kecil dan menengah itu mampu memiliki fleksibilitas dan adaptabilitas yang luar biasa terhadap pasar. Ini adalah resources yang ketiga dari konsep empat resources yang kita kembangkan berdasarkan dari konsep Mahoney dan Pandini tahun ’99. Bagaimana UC Onliner dikatakan bahwa usaha kecil dan menengah mempunyai kemampuan adaptabilitas yang luar biasa terhadap pasar? Kita lihat bagaimana sebuah usaha kecil dan menengah dalam jumlah yang luar biasa secara kuantitas mampu bertahan dalam kondisi perekonomian yang cukup menekan dalam dewasa ini.
 Bagaimana fleksibilitas itu bisa diciptakan? Hal ini tentunya karena mereka mempunyai kriteria skala usaha yang belum terlalu besar dengan pola struktur organisasi yang belum terlalu rumit sehingga mereka cukup fleksibel dan adaptif melihat peluang pasar. Salah satu contohnya adalah, kita ambil saja bahwa usaha kecil dan menengah itu sangat tergantung pada lokasi. Pemilihan lokasi adalah pemilihan yang sangat krusial dalam mengembangkan usaha kecil dan menengah. Lokasi usaha the most important thing di dalam sebuah usaha kecil dan menengah. Bagaimana fleksibilitas dari usaha kecil dan menengah untuk bisa menentukan lokasi? Mereka jauh sangat fleksibel. Kesalahan dalam penentuan lokasi akan bisa diupayakan untuk dicari jalan keluarnya karena mereka tidak terlalu besar dalam menginvestasikan asetnya, menginvestasikan dananya berkaitan dengan lokasi. Dibandingkan dengan usaha dengan skala besar. Usaha dengan skala besar, apabila mereka mengalami kesalahan dalam menentukan lokasi usahanya, maka mereka akan terlibat dalam kesulitan terkait dalam investasi dalam jumlah yang cukup besar. Fleksibilitas seperti inilah yang bisa menjadi value resources bagi pengembangan usaha kecil dan menengah.
UC Onliner, hal yang lain yang bisa saya contohkan berkaitan dengan adaptabilitas dari usaha kecil dan menengah adalah berkaitan dengan pemilihan jalur distribusi. Bagaimana usaha kecil dan menengah memiliki kemampuan yang sangat fleksibel di dalam mengambil keputusan jalur distribusinya. Apakah mereka akan menggunakan jalur distribusi langsung bertemu dengan konsumen akhir, atau mereka menggunakan pihik-pihak sebagai perantara di dalam menyampaikan jasa mereka, di dalam menyampaikan produk mereka, ini adalah merupakan keputusan yang sangat fleksibel. Dengan demikian maka resource yang ketiga ini menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi pengembangan usaha kecil dan menengah.
Resource yang keempat berkaitan dengan budaya organisasi. Apa yang dimaksud dengan budaya organisasi? UC Onliner, tentunya kita pahami bahwa sebuah organisasi itu tentunya akan berkembang sejalan dengan adanya interaksi dari semua entitas atau semua unsur yang ada di dalam sebuah organisasi. Entitas ini akan berinteraksi satu dengan yang lain untuk mengembangkan apa yang disebut dengan budaya organisasi. Bisa kita bayangkan bahwa dalam usaha kecil dan menengah maka budaya organisasi yang bisa dikembangkan akan menjadi budaya organisasi yang sangat kuat karena di dalam usaha kecil dan menengah terdiri dari entitas-entitas yang biasanya memiliki satu kesamaan visi atau satu kesamaan tujuan untuk mengembangkan usaha mereka.
Budaya organisasi yang baik itu bisa dibangun dengan adanya entrepreneur-entrepreneur yang handal yang terlibat di dalam usaha kecil dan menengah tersebut. Entrepreneur-entreprenur handal ini biasanya akan memiliki jiwa-jiwa, kiat-kiat usaha yang luar biasa. Salah satunya adalah mereka memiliki upaya untuk selalu melakukan calculated risk taking. Jadi, mengelola atau mencoba untuk meminimumkan resiko dengan betul-betul mengkalkulasikan kemungkinan keuntungan dan kerugiannya. Entrepreneur sejati akan membangun budaya di dalam usaha kecil dan menengah itu dengan keuletan mereka dalam berusaha. Entrepreneur sejati akan mengembangkan upaya-upaya yang kreatif untuk mengembangkan usaha mereka dan membangun budaya organisasi di dalam usaha kecil dan usaha menengah mereka. Di sampung itu entrepreneur-entrepreneur sejati juga akan mengembangkan efisiensi dan efektivitas kerja yang luar biasa karena mereka secara aset berwujud, secara aset fisik masih mengalami keterbatasan. Dengan demikian mereka punya usaha yang luar biasa keras untuk mewujudkan efisiensi dan efektivitas sebagai pedoman di dalam mengembangkan budaya organisasi mereka.
Demikian UC Onliner kita sudah sharing dan berdiskusi tentang strategi berbasis sumber daya atau resource-based strategy yang dikembangkan oleh Mahoney dan Pandini sebagai sesuatu yang coba kita adopsikan untuk diimplementasikan di dalam upaya untuk mengelola usaha kecil dan usaha menengah yang ingin kita kembangkan. 
Saya Widya Utami, salam entrepreneur..

Sumber : T100
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online 

Selasa, 25 Februari 2014

KNOWLEDGE MANAGEMENT KUNCI SUSTAINABLE ENTERPRISE

Memasuki era knowledge-based economy, korporasi harus mampu menjadi learning organization yang melahirkan para knowledge worker, yang merupakan faktor penting dalam meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.
Setelah revolusi teknologi informasi, masalah utama abad ini adalah bagaimana memanfaatkan informasi dan data menjadi knowledge yang melahirkan informasi. Kemampuan knowledge management sangat penting namun belum banyak disentuh dan dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis di Indonesia.
Mengembangkan kultur yang membiasakan setiap orang semakin kritis dalam menganalisis fakta dan data sehingga menjadi knowledge yang akan melahirkan kreativitas dan inovasi yang mampu memberikan value added bagi perusahaan. Kultur ini pada akhirnya akan mendukung terwujudnya sustainable enterprise.
Mengembangkan kemampuan analytical ability para karyawan, akan membiasakan setiap orang cermat menganalisis data dan informasi, sehingga mendalami bidang pekerjaannya dan mampu memberikan penilaian yang kritis. Dalam setiap rapat, kami terbiasa dengan format ringkas yang berbicara data (format seven sheets). Melalui kemampuan analisis yang tajam, masalah yang kompleks harus dapat dipresentasikan dalam format maksimal tujuh slide saja.
Pada akhirnya, kemampuan knowledge management (KM) ini harus bisa membuat setiap bagian mampu mengembangkan sendiri model of excellence di bagiannya masing-masing. Ini bagian dari functional management system. Pada hakikatnya esensi bisnis itu sudah bukan lagi persaingan antara barang dan jasa melainkan sudah menjadi persaingan kompetensi. Bisnis sudah harus dapat dilihat dengan pengertian ini. Sebuah perusahaan untuk memenangkan persaingan perlu mengembangkan aspek kompetensinya. Karyawan harus terus mengalami proses pengembangan kompetensi, baik dari skill, knowledge, hingga understanding dan attitude-nya.

Proses pengembangan kompetensi dimulai dari:

  • Menggali core compentence karyawan dengan menilai generic competency, hingga masing-masing karyawan mendapatkan grade-nya. 
  • Membekali karyawan dengan specific competency yang sesuai spesifikasi pekerjaannya.
  • Mengembangkan tingkat kompetensi karyawan hingga mencapai wisdom dan intuition, supaya mereka semakin peka dan terlatih melakukan penilaian-penilaian yang tepat. Kemampuan ini akan mendukung proses kreatif dan inovasi. Jika proses ini dilakukan terus menerus akan menghasilkan sustainable enterprise.
  • Menerapkan project management bagi karyawan bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada setiap karyawan bisa belajar di tempat lain atau di bidang-bidang lain melalui beberapa proyek tertentu. Dengan cara ini setiap orang disiapkan untuk menjadi generalis, sehingga pada waktu perusahaan berkembang mereka siap mengisi berbagai kemungkinan posisi yang ada. Selain memberikan peluang career path yang lebih luas, cara ini juga akan membiasakan para karyawan bekerja sama dengan kolega-kolega yang lain dan membuat perusahaan tidak bergantung pada satu orang tertentu.

Pengembangan multi-kompetensi ini manfaatnya sangat strategis. 
Merencanakan bisnis baru berarti ada calon project manager baru (internal promotion). Karyawan diarahkan untuk menjadi KNOWLEDGE WORKER untuk melahirkan PRODUK INOVATIF.

 
Sumber:
Judul Buku: Corporate Culture Challenge to Excellence (hal 51-53)
Editor: Dr. Djokosantoso Moeljono & Steve Sudjatmiko
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun 2007

REVIEW : FIXED MINDSET vs GROWTH MINDSET - Nur Agustinus

Salam entrepreneur UC Onliner..

Dalam minggu pertama ini kita bahas tentang mindset. Mengapa mindset itu penting? Sudah dijelaskanoleh para narasumber yang lain. Para entrepreneur yang sukses selalu mengatakan bahwa mindset itu adalah satu hal yang sangat penting. Ada sebuah buku yang sangat menarik yang berjudul dengan Change Your Mindset, Change Your Life. Pengarang buku ini Carol S. Dweck, mengatakan ada dua jenis mindset. Pertama adalah mindset yang bersifat tetap atau fixed mindset, dan growth mindset. Apa bedanya? Mari kita simak bersama-sama.

Dua mindset yang dijelaskan oleh pengarang buku ini yaitu Fixed Mindset dan Growth Mindset, apa bedanya? Pertama, orang yang mempunyai fixed mindset itu ciri-cirinya biasanya orang itu selalu berusaha untuk sempurna dan biasanya juga takut untuk gagal sehingga dia merasa bahwa dirinya sudah seperti itu, harusnya seperti itu. Ini berbeda dengan seorang yang memiliki mindset untuk bertumbuh di mana dia terus menerus ingin belajar, selalu ingin mencoba, dan memiliki kualitas untuk yang selalu ditempa, artinya dia selalu menempa dirinya menjadi lebih baik, dan lebih baik.

Ini adalah perbedaan. Kita bisa melihat dua tipe orang ini yang menunjukkan mana yang fixed mindset dan mana yang growth mindset. Kita tahu ada banyak sekali dalam pembahasan tentang gelas yang berisi air namun hanya setengahnya saja. Ada orang yang mengatakan ini air atau gelas berisi setangah penuh, atau setengah kosong? Ini juga membedakan minset orang tersebut. Orang yang mengatakan setengah penuh, berbeda dengan yang mengatakan setengah kosong. Ada sebuah cerita lain yang berhubungan dengan mindset ini. Mungkin kita pernah tahu bahwa gajah di sirkus atau mungkin di kebun binatang itu hanya diikat oleh tali dan dipasang di sebuah pasak. Sebagai seekor gajah yang sangat besar tentunya dia sangat mudah sekali untuk melepaskan dirinya dari ikatan itu. Tapi karena gajah itu sudah dari kecil dia diikat seperti itu dan dia tidak bisa bergerak karena masih kecil, ketika makin besar, makin besar, dia tetap merasa bahwa dirinya tidak bisa bebas. Ini adalah mindset juga. Gajah yang sedemikian besar, hanya dengan seutas tali yang kecil takhluk. Dia tidak bisa, tidak punya keberanian untuk membebaskan dirinya.

Ada banyak cerita lain.Perumpamaan-perumpamaan seperti seekor anak elang yang dirawat atau hidup di antara anak-anak ayam. Dia tidak tahu bahwa dirinya adalah seekor elang. Dia melihat elang di langit, oleh teman-temannya atau saudaranya yang lain dikatakan, “Hati-hati dengan elang di atas itu, dia akan mengambil kamu dan memakan”. Padahal dia adalah elang. Dan dia tidak akan pernah bisa terbang karena dia berada di kumpulan para anak-anak ayam itu.

Bagaimana kita mengubah mindset? Inilah yang dijelaskan oleh Carol dalam bukunya mindset, bahwa kita harus punya mindset betumbuh. Ada orang yang mengatakan bahwa kecerdasan itu sifatnya tetap, tidak berubah. Orang yang dengan mindset bertumbuh punya keyakinan yang berbeda. Dia yakin bahwa kecerdasan itu bisa berubah. Dia yakin bahwa dengan pengalaman, dengan belajar, semuanya bisa berubah. Yang penting adalah sebuah dorongan hati ingin berubah. Karena tanpa itu perubahan juga tidak akan terjadi.

Kalau kita lihat dalam gambar slide ini, orang-orang yang memiliki fixed mindset atau mindset yang tidak mau berubah, bisanya mereka selalu menjauhi atau menghindari tantangan. Sangat mudah sekali untuk menyerah. Ada hambatan sedikit sudah langsung menyerah. Dan buruknya, kalau dia dikritik, cenderung diabaikan atau cenderung tersinggung. Dan kalau ada tugas, dia akan cenderung  memilih tugas-tugas yang mudah. Cenderung defensif, seperti saya sebutkan tadi mudah tersinggung. Dan yang lebih buruk, berbuat curang. Ini berbeda dengan orang yang memiliki mindset untuk bertumbuh. Ada hal yang buruk pada orang-orang yang selalu mengalami kesuksesan yaitu justru orang-orang ini takut mengahadapi resiko. Mengapa? Karena mereka tidak terbiasa mengahadapi kegagalan. Banyak orang-orang yang di level, “Kamu itu orang-orang yang hebat, jenius, rajin”. Justu dalam hal keentrepreneuran mungkin akan mengalami hambatan karena orang-orang ini justru takut mengahadapi resiko, takut berusaha atau takut sampai dia kemudian dianggap tidak lagi pintar. Ini adalah sebuah hambatan. Termasuk salah satu bentuk dari sebuah fixed mindset.

Padahal seorang entrepreneur itu perlu mengembangkan sikap berani mengambil resiko. Tentunya yang terukur. Berani untuk mengubah. Artinya dia tidak mau sekedar hanya itu-itu saja. Memberikan sebuah harapan entah bagi dirinya sendiri, keluarganya orang lain, masyarakat, bangsa, bahwa dengan apa yang dia lakukan bisa membawa sebuah perubahan. Ini adalah hal-hal yang dibutuhkan atau harus ada pada seorang yang memiliki mindset bertumbuh. Orang-orang dengan minset bertumbuh mempunyai sikap yang persistance terhadap usahanya. Dia tidah mudah menyerah. Dia belajar dari kritik-kritik yang dilontarkan kepadanya. Kritik bukan dianggap sebuah serangan, tetapi jusutru memacunya untuk introspeksi menghasilkan yang lebih baik karena dia tidak menjauhi tantangan, tetapi justru dia menghadapi tantangan itu dengan lebih baik.

Bagi orang yang memiliki mindset untuk bertumbuh, kecerdasan itu merupakan hasil dari tempaan hidup dan selalu punya keinginan untuk mempelajari hal yang baru sehingga dia tidak mau hanya itu-itu saja. Dia tidak mau terikat dalam keadaan yang status quo. Dia selalu cari tantangan. Dia adalah pekerja yang keras dan ia bangga katanya. Kalaupun dia mengahadapi kegagalan, berbeda dengan orang yang mempunyai fixed mindset, atau mindset yang tidak mau bertumbuh, yang cenderung dia sendiri menyalahkan orang lain atau pihak lain, atau mengatakan bahwa ini bukan salahku, tapi orang yang memiliki mindset bertumbuh, dia selalu berkata atau berintrospeksi “Apa yang bsia saya pelajari dari pengalaman ini?”. Ini bedanya.

Nah, UC Onliner, bukankah kita ingin menjadi sosok yang memiliki mindset bertumbuh? Sebab kita jangan terkungkung dalam sebuah mindset yang tidak bertumbuh. Kita harus yakin bahwa kita memang mau menjadi lebih baik. Artinya, kita percaya bahwa hidup kita itu tidak sekedar ini-ini saja. Kita percaya bahwa sesuatu itu bisa kita raih dengan ebih baik. Kita percaya bahwa kita bisa mengubah diri kita. Kita percaya bahwa kita bisa belajar dari pengalaman. Itu sebabnya gagal sepuluh kali, bangkit sebelas kali. Dan kegagalan itu kita hadapi dengan sikap yang positif, artinya apa yang bisa kita pelajari. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama.

UC Onliner, tentu ada banyak orang yang memiliki yang tidak mau berubah. Walaupun ada yang mewujudkannya dalam sikap yang angkuh misalnya. Tapi kadang-kadang juga ada yang negatif. Misalnya gini, ketika dia mengalami kegagalan dia akan mengatakan, “Ya, saya ini memang bodoh. Saya ini memang tidak bisa”. Nah, sebagai seorang yang ingin bertumbuh, jangan melakukan hal itu. Kita harus bisa mengubah. Memang kita mungkin melakukan kesalahan, tapi jangan terpuruk atau jangan kemudian mengulang-ulang, “Ini adalah salahku”. Atau mungkin sebaliknya, “Ini bukan salahku”. Tapi apa yang bisa kita pelajari supaya kita melakukan perbaikan, perbaikan, dan perbaikan.

Inilah yang dikatakan oleh Carol S. Dweck, dalam bukunya. Bahwa, kalau kita bisa mengubah mindset kita, kita bisa mengubah hidup kita. Kita yakin kalau kita ditanya apakah Anda tidak ingin bertumbuh? Apakah usaha Anda tidak ingin lebih besar? Semua orang akan menjawab, “Ya, saya ingin lebih besar. Saya ingin menjadi lebih baik”. Tapi kadang-kadang kita itu terkungkung sendiri oleh mindset kita. Mindset inilah yang membatasi. Kita tahu bahwa musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Kalau itu kita sudah paham. Tapi, kita juga kadang-kadang acah tak acuh atau membiarkan diri kita terbawa oleh musuh besar kita itu sendiri. Bagaimana kita melakukan perubahan? Bagaimana kita mempunyai mindset untuk bertumbuh?

Dalam buku ini juga dikatakan kalau kita memiliki mindset yang bertumbuh, kita akan bisa meraih sukses. Tentu sekali lagi, bukan hal yang mudah. Karena mengubah mindset itu juga tidak segampang yang diomongkan dalam banyak seminar, training, atau banyak motivasi-motivasi, tetapi kalau kita punya keyakinan dan punya keinginan yang sangat besar, sangat sungguh-sungguh, maka itu akan pasti bisa. Saya ingin memberikan satu contoh dalam buku ini dikatakan bahwa salah satunya adalah rasa malu. “Rasa malu yang dimiliki manusia dapat mencegah mereka dari upaya mencari teman dan mengembangkan hubungan”. Padahal kita tahu sebagai seorang entrepreneur, perlu kita itu menjalin network.

Nah, ada orang yang kemudian mengatakan bahwa, “Ya, saya ini memang tidak bisa berteman dengan orang lain, saya ini memang tidak bisa memulai percakapan”. Ini adalah contoh fixed mindset. Dia merasa bahwa dia sudah sejak lahirnya atau ketika dia saat ini tidak bisa membuat sebuah hubungan dengan orang lain. Padahal kalau kita punya growth mindset, atau mindset yang bertumbuh, kita punya keyakinan bahwa kita bisa mengubah diri kita, kita bisa melatih diri kita untuk menjadi lebih percaya diri, lebih berani menjalin sebuah hubungan, sehingga kita bisa lebih sukses dalam berentrepreneur.

Kita tahu contoh yang lain, Einstein, fisikawan terkemuka, ketika masih kecil atau masih sekolah gurunya mengatakan bahwa, “Ah, kamu itu mana bisa sukses? Wong nilai pelajaranmu jelek”. Tapi Einstein membuktikan bahwa itu tidak benar. Dia bisa berubah. Kalau seseorang punya mindset bertumbuh, dia bisa berubah. Itu prinsip yang penting. Artinya apa? Seringkali kalau kita punya bisnis dan kemudian bertemu dengan teman, terutama dengan teman lama yang sudah lama tidak berjumpa, kemudian melihat bahwa kita sudah sukses berbisnis dan kemudian dia mengatakan bahwa, “sebetulnya kalau saya lihat kamu itu bisa lho lebih sukses dari sekarang”. “Ah, buat apa? Sekarang saya merasa sudah cukup”. Berarti kembali lagi fixed mindset. Tapikalau kita yakin bukan sekedar kita cari untung lebih banyak, lebih banyak, lebih banyak. Bukan. Tapi bagaimana kita punya mindset bahwa kita ini adalah manusia yang selalu bertumbuh, itu lah yang penting. Mindset bertumbuh itu akan membawa pengaruh pada keentrepreneuran kita membawa usaha kita menjadi lebih besar. Lebih besar berarti juga membawa manfaat buat orang lain.

Inilah intisari dari bagaimana kita mempunyai mindset yang bertumbuh. Satu hal yang sangat penting bagi seorang entrepreneur yang ingin mengembangkan usahanya.

Sebelum kita akhiri review minggu pertama ini, ada sebuah video yang ingin saya sampaikan supaya dapat kita lihat bersama apa perbedaan antara fixed mindset dengan growth mindset secara multimedia. Saya Nur Agustinus, Semoga pembelajaran minggu ini bermanfaat bagi kita semua. Salam Entrepreneur..

Sumber : T100
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online 

REVIEW : INTENTIONS TO GROWTH - Antonius Tanan

Salam entrepreneur UC Onliner..
Kami berharap UC Onliner menikmati inspirasi dari pak Ciputra, dari pak Dahlan, dari pak Sudhamek, dan juga dari pak Sandiaga Uno. Keempat orang itu sudah pernah membesarkan usaha lebih dari 100 kali dan membesarkan usaha merupakan keahlian yang sudah melekat dalam diri mereka karena sudah sering dilakukan. Saya ingin menyimpulkan bahwa mereka semua mengatakan bahwa untuk membesarkan usaha mulai dari diri sendiri. Mereka mengatakan mulai dari mindset kita. Mulai dari diri kita sendiri mempunyai kehendak yang kuat untuk membesarkan usaha. Pak Sandiaga mengatakan, “jangan berada dalam comfort zone”. Beliau juga mengatakan “Jangan jalan di tempat”. Pak Ci juga mengatakan hal yang serupa. Harus ada keinginan yang kuat dari dalam diri kita.
Pertanyaannya, bagaimana supaya kehendak untuk membesarkan usaha itu besar di dalam diri kita? Menggelora di dalam diri kita. Untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin berbagi kepada UC Onliner apa yang dikatakan oleh teori. Kenapa kita menggunakan teori? Tujuan daripada teori adalah untuk menjelaskan, untuk menolong kita untuk memahami sebuah fenomena sosial. Darimana dilahirkan teori? Teori dilahirkan dari sebuah kajian dan juga riset. Jadi, ketika kita menggunakan suatu teori, sebenarnya kita belajar dari kesalahan orang lain dan belajar dari kesuksesan orang lain. Jadi dengan kita mengambil suatu teori, kita mempercepat proses belajar kita. Namun, saya juga ingin tambahkan satu fenomena sosial dari berbagai sisi. Oleh karena itu teorinya mungkin tidak hanya satu. Sehingga setelah saya mencoba menjelaskan dari sisi sebuah teori, maka pak Nur Agustinus juga akan menjelaskan dari teori yang lain.
Teori yang akan saya jelaskan kepada UC Onliner bersal dari textbook ini. Judulnya Understanding The Entrepreneurial Mind. Nah, sekarang mari kita lihat gambar dari teori itu di sebelah saya. Di sini dikatakan bahwa Intention, saya menulis dalam bahasa Indonesia di sini sebagai kehendak. Itu adalah gabungan dari Desirability atau keinginan dan Feasibility atau kelayakan. Sejauh mana apa yang ingin kita lakukan layak atau tidak. Kalau kehendaknya ingin besar, harus ada gabungan dari kedua hal itu. Sehingga saya coba menggambarkan dalam dua buah lingkaran.
Ada lingkaran keinginan, ada lingkaran kelayakan atau kesanggupan. Yang di tengah itu kehendak. Jadi, kalau kehendaknya ingin kuat, alternatif pertama, Keinginannya dibesarkan. Pertanyaannya, bagaimana caranya? Saya memperbesar keinginan saya untuk memperbesar usaha, untuk meluaskan usaha. Usul kami, buka hidup kita terhadap inspirasi-inspirasi dari pada entrepreneur yang sudah berhasil. Baca riwayat hidup mereka. Lihat usaha mereka. Pelajarai pengalaman hidup mereka. Kelilingi dengan orang-orang yang menginspirasi Anda menjadi Entrepreneur. Perbesar keinginan adalah melalui inspirasi.
Yang kedua, bagaimana cara meningkatkan kesanggupan kita sehingga waktu kita melihat sesuatu, kita merasa ini layak dilakukan. Ada dua hal menurut pendapat kami. Yang pertama, perbesar informasi kita. Informasi apa? Informasi tentang hal yang ingin Anda lakukan. Kalau Anda ingin melakukan usaha tentang kuliner, Anda harus paham banyak tentang kuliner. Harus bisa membedakan makanan yang enak denga yang tidak enak. Makanan yang dicari orang dengan yang tidak dicari orang. Dan kedua, Anda juga harus tahu informasi tentang industrinya. Berapa besar marketnya. Orang kelompok ini suka makanan apa. Kenapa mereka suka ini. Kenapa mereka berani membayar dengan harga mahal. Di daerah yang lain mungkin makanan yang lain. Berapa besar pasarnya. Berapa banyak bertumbuhnya. Dalam satu tahun bertumbuh berapa persen. Kenali industrinya,bukan sekedar kenali subjeknya. Itu yang pertama tentang informasi. Dan yang kedua, kenali ilmunya. Khususnya ilmu entrepreneurshipnya. Bagaimana Anda mengentrepreneurkan bidang ini. Pelajari itu. Dengan Anda hadir di tempat ini, di UC Online, Anda sedang memperbesar bagian kelayakan atau kesanggupannya.
UC Onliner, itulah yang bisa saya simpulkan tentang apa yang bisa kita tingkatkan sehingga kehendak kita sehingga mindset kita untuk melakukan sebuah usaha Entrepreneur dan memperbesarnya itu menjadi milik kita. Salam entrepreneur. Selamat berjuang. Semoga usaha Anda terus berkembang menjadi makin besar. 

Sumber : T100
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online

A NEW MINDSET FOR SCALING UP - Sandiaga Uno

Salam Entrepreneur UC Onliner

Jadi kalau kita melihat memang suatu konsep memulai usaha dan kalau saya bisa merefleksikan kembali ke awal tahun 1997 waktu saya memulai usaha itu situasinya memang sangat berbeda. Start up yang saya lakukan itu bukan karena peluang, tapi karena saya sedih. Saya waktu itu di-PHK dari satu pekerjaan. Satu yang melandasi kita waktu memulai periode itu adalah survival. Dalam suatu survival, acuan survival itu adalah apa aja kita kerjain. Pokoknya dimana kita harus bisa tetap survival. Ibarat kita kecemplung ke air, kita harus pakai gaya apa pun untuk supaya mengapung.

Kalau kita berbicara mengenai scale up, ini betul-betul a different ball game of together. Karena kalau kita untuk survival, start up itu bisa gaya ngapung model kiri kanan, tangan ke samping ke kiri ke kanan yang penting asal ngapung, kita bisa lakukan itu. Tapi begitu kita memiliki suatu tujuan, dan memulai menata daripada business plan kita, kita harus belajar betul-betul skill untuk scale up. Bagaimana kita belajar beranang gaya bebas, gaya dada, bagaimana kita teknik pernapasan, bagaimana kita bisa membaca arus, bagaimana kita bisa mempelajari rythm, sehingga kita bisa mencapai tujuan itu dengan baik.

Nah, dengan perusahaan itu juga sama. Scale up itu sangat-sangat penting untuk terutama kalau kita melihat banyak sekali teman-teman di UKM itu kalau dilihat kita kan sekarang punya 55 juta lebih pelaku usaha mikro kecil menengah dan 99% itu adalah usaha mikro. Kalau kita datang, saya kebetulan itu SMA di Jakarta Selatan nglihat usaha mikro yang sekitar sekolah saya itu sepuluh tahun setelah itu, dua puluh tahun setelah itu, tiga puluh tahun setelah itu begitu saya kembali, pelakunya masih sama, berjalan di tempat. Kenapa? Karena mereka kembali hanya berkutat pada suatu survival skill ability saja. Mereka belum meikirkan bagaimana untuk scale up. Kalau saya tanya pada mereka, “Pak, kenapa masih berjualan nine to five?” Atau jam sembilan sampai jam lima. Ya, karena ada tugas-tugas lain. Yang penting katanya satu, anak sudah bisa disekolahkan, saya sudah bisa makan, sudah bisa melihat anak saya menikah, dan lain-lain. Tidak ada keinginan untuk meng-scale up.

Ini challenge pertama dari pada scale up itu adalah mindset. Bahwa kita sebagai entrepreneur itu bukan hanya berjalan di tempat tapi kita harus bertumbuh. Tantangan kita sebagai entrepreneur setelah kita melakukan strart up adalah mengembangkan usaha kita, bagaimana kita bisa menciptakan lapangan kerja, bagaimana kita scale up our business sehingga dampaknya kepada society itu jauh lebih besar. Ini yang menjadi tantangan buat kita.

Teman-teman itu setelah kita coba challenge mindsetnya, kita ubah scale up, challenge kedua adalah comfort zone. Selalu mereka mengatakan bahwa, “Begini aja sudah cukup kok”. Dalam sesuatu comfort zone itu banyaknya kategori professional. Dalam entrepreneur ada juga comfort zone. Begitu mereka merasakan hal yang sudah cukup nyaman, kira-kira cukup yang dia dapatkan, aman dan nyaman, jadi dia nggak berkembang. Dia bilang, “Udahlah, segini aja cukup”. Itu banyak saya temuin di beberapa UMKM yang sudah masuk ke skala bukan mikro lagi, kecil tapi nggak bisa naik lagi ke kelas medium. Saya tanya mereka, bagaimana bisa meningkatkan ini? “Ah, sudahlah. Sudah cukup”. Nah, itu namanya comfort zone. Ini yang perlu kita, sekali lagi tantangan kedua, mindsetnya kita ubah bahwa bagaimana mereka meingkatkan usaha mereka dengan tentunya kunci pertama adalah terus meningkatkan keinginan mereka untuk growing.

Kunci ketiga saya rasa inovasi. Scaling up itu tanpa inovasi itu nggak akan mungkin bisa berjalan lancar dan perusahaan yang mencoba scale up tanpa inovasi, pasti tidak akan bisa berdaya saing. Tantangan berinovasi ini sama juga karena kalau kita tidak berubah dengan inovasi, kita pasti akan tertinggal jaman ya. Banyak sekali kita lihat perusahaan-perusahaan yang berhasil melewati comfort zone, tapi tidak melakukan inovasi, dia berjalan di suatu track yang mereka yakini itu adalah track yang sudah aman, ternyata inovasi-inovasi yang muncul dalam teknologi, dalam dunia yang sangat cepat ini bisa mematikan entrepreneur tersebut. Jadi, inovasi itu harus menjadi bagian dari setiap tarikan napas kita, bagaimana kita meleverage daripada bisnis yang sudah kita kelola dan bagaimana caranya kita mendorong terus supaya inovasi ini menjadi suatu solusi bagi bukan hanya kita sebagai entrepreneur, meningkatkan usaha, dan lain-lain, tapi juga sebagai bisnis yang pada ujungnya meningkatkan daya saing bangsa.

Sampai jumpa UC Onliner. Salam entrepreneur.

Sumber : T100
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online 

ALL START IS DIFFICULT - Sudhamek AWS

Membesarkan usaha di awal itu lebih sulit daripada mengembangkannya. Bagaimana menurut Pak Sudhamek?
Ya kalau peribahasa sih mengatakan all start is difficult, segala awal itu memang sulit. Seperti kita mendorong mobil, kalau pertama kali kita dorong itu pasti berat, tapi begitu mobil itu sudah mulai bergulir karena dibantu dua-tiga teman habis itu mungkin tidak perlu empat orang, dua orang itu mungkin sudah kuat. Dalam konteks itu memang betul start up bisnis itu resikonya lebih tinggi, makanya bank juga nggak begitu suka dengan start up bisnis . Greenfields itu nggak terlalu, karena resikonya terlalu tinggi. Tapi jangan salah mengerti bahwa pada saat perusahaan tambah besar itu itu berarti lebih mudah, sama sekali tidak. Tantangannya sudah berubah berganti. Kompleksitas di sana jadi ujung-ujungnya bahwa hidup itu memang penuh dengan tantangan. Saya tidak mengatakan mana lebih sulit mana lebih mudah, tapi saya mengatakan masing-masih ada tantangannya sendiri-sendiri, dan oleh sebab itu sebagai seorang entrepreneur kita tidak boleh merasa berpuas diri. Orang tidak berpuas diri itu bukan berarti orang yang tidak pernah mensyukuri. Lain lho ya. Berpuas diri itu dikhawatirkan kita menjadi completion, mapan, lengah jadi tahu-tahu kita menjadi kodok rebus. Itu yang tidak boleh. Tetapi saya ingatkan tidak boleh kemudian ditafsirkan sebagai  tidak pernah bersyukur. Itu konteksnya memang relevan karena memang dalam hidup, sekali lagi supaya kita lebih bahagia memang dalam hidup kita perlu sekali-kali pause, berhenti sebentar, menoleh apa yang sudah kita capai kita syukuri. Jadi ini sampai itu bukan yang hanya diri kita. Termasuk kita bisa memberikan lapangan pekerjaan yang lebih baik bagi karyawan kita itu kebahagiaan tersendiri.
 
Bagaimana Pak Sudhamek mengembangkan usahanya hingga berkembang 100 kali lipat?
Ya, perusahaan itu pada saat masih kecil atau sedang dirintis sebagai sebuah start up bisnis tentu masalah operation sangat perlu diperhatikan sangat ini heavy operation, artinya memang entrepreneur itu dia akan sangat terlibat sangat intensif sekali kepada hal-hal yang sifatnya operasional. Berbicara bisnis, operasional itu tentu yang menentukan sebuah bisnis untuk bisa mulai berjalan itu adalah bisa jualan atau tidak. Jadi ini buat sales manajemen sebetulnya di awal ya. Tentu sales itu yang dijual adalah barang, kalau perusahaannya merchandising company, tentu dia beli lalu dijual, kalau dia manufacturing company kemudian sales itu baru bisa berhasil kalau di back up dengan manufacturingnya yang handal. Tetapi kalau saya cenderung melihatnya di awalnya yang nomor satu yang kita dekati adalah soal sales dulu. Kenapa sales? Karena dari sales lah kita menghasilkan uang sebetulnya. Dengan kita jualan laku, uang itu boleh masuk. Kalu uang sudah mulai masuk dengan asumsi itu dikelola dengan baik, maka di situ akan menghasilkan keuntungan. Bisnis itu baru bisa tumbuh dengan baik kalau dia untung. Jadi keuntungan itu memang diperlukan seperti sebuah nutrisi diperlukan tubuh ini supaya bisa tumbuh. Namun balik lagi kalau ditarik ke belakang keuntungan itu bisa terjadi kalau sudah ada penjualan. Sehingga lalu fokusnya adalah bagaimana kita bisa memastikan supaya penjualan itu bisa terjadi. Nah, ini yang di level-level pertama.
Tentu kalau kita masuk lebih dalam lagi, jualan itu bisa laku kalau, kita memang mempunyai produk atau servis yang berbeda dengan kompetitor. Simple aja sebenarnya bisnis itu filosofinya adalah about differentiation perbedaan saja. Tapi perbedaan bukan saja asal berbeda, tapi juga perbedaan yang memberikan nilai tambah bagi konsumennya. Dan nilai tambah ini adalah nilai tambah yang diperlukan dan dianggap penting oleh konsumen. Nah, lalu differentiation itu bisa differentiation pada produknya, bisa differentiation pada cara mendistribusiannya, bisa differentiation itu pada cara mengkomunikasikannya. Bisa differentiation itu sampai pada hal-hal yang sifatnya intangible yang sudah dalam bentuk brand value itu bagaimana kemudian membangun persepsi benak konsumen kita.
Apapun yang kita lakukan, pastikan kita membangun differensiasi yang dipersepsi itu penting bagi konsumen. Dengan konsumen melihat produk kita berbeda dan memberikan nilai tambah yang dia perlukan di situ dia akan membeli. Jadi kalau kita gunakan konsep yang simple dan klasik, AIDA. Attention, Desire, Intention sama Action itu bagaimana orang bisa dimulai bisa terjadi Attention ya karena dia melihat ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Dan yang perlu diperhatikan dalam konteks ini adalah nilai tambah tadi. Nah di situlah kemudian dia akan membeli. Dia membeli lalu akan terjadi penjualan. Lalu penjualan ini harus ditata cara penjualannya, distribusinya dan sebagainya sehingga barang tersebut bisa mengalir dengan smooth dari satu titik kepada titik yang berikutnya. Dari situ kemudian perusahaan pelan-pelan akan tumbuh. Nah, tentu saat semakin tumbuh ya kompleksitas permasalahannya juga semakin tumbuh.
Sampai jumpa UC Onliners..

Sumber : T100
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online 

MIMPI & FOKUS MENJADI PENGUSAHA BESAR - Dahlan Iskan

Salam Entrepreneur untuk UC Onliner.

Saya waktu masih menjadi pengusaha kecil, tentu mimpi juga menjadi seorang pengusaha besar. Karena saya lihat pengusaha besar itu enak sekali, bebas, mau apa saja bisa, mau beli apa saja bisa, tetapi saya juga sadar bahwa tidak bisa usaha itu tiba-tiba besar. Harus ada unsur kesabaran, tetapi tidak boleh sabar dalam pengertian menyerah. Biasanya kita akan menekuni dulu apa yang sekarang ada, jangan juga bermimpi terlalu banyak, mengerjakan ini, itu, ini, itu, ini, itu, akhirnya tidak fokus, maka yang saya lakukan adalah menekuni apa yang saya tekuni saat itu, sampai betul-betul saya menguasai, mendalami, menjiwai. Mimpi pun mimpi tentang bisnis yang saya lakukan siang malam dan akhirnya timbul ide-ide baru, timbul pikiran-pikiran baru.

Biasanya orang merasa sulit, apa lagi yang harus diperbuat. Apa lagi yang bisa mengembangkan. Tetapi kalau sungguh-sungguh dipikirkan sing malam, pintu itu terbuka sendiri. Kalau pintu tidak terbuka, sebaiknya kita merenung diri apakah kita yang kurang memikirkan. Jadi intinya adalah sungguh-sungguh.

Saya sering mengatakan bahwa sungguh-sungguh itu seperti emas, ada karatnya. Banyak orang mengatakan, “Saya ini sudah sungguh-sungguh pak, tapi kok tidak berhasil?”. Bagi orang yang mengatakan sudah sungguh-sungguh tetapi belum berhasil, itu perlu dipertanyakan, apakah betul dia sungguh-sungguh? Apakah tidak pura-pura sungguh-sungguh? Atau tidak di mulutnya saja sungguh-sungguh? Sebaiknya di-cek tingkat kesungguhan itu.

Tingkat kesungguhan itu seperti emas. Ada 24 karat, ada 22 karat, ada 20 karat, ada 18 karat. Kesungguhan juga begitu. Ada orang bilang sungguh-sungguh, tapi sungguh-sungguhnya tidak 24 karat. Sungguh-sungguhnya tidak 20 karat. Sungguh-sungguhnya tidak 22 karat. Mungkin sungguh-sungguhnya cuma 18 karat, bahkan mungkin tidak berkarat sama sekali. Nah, jadi tetep sungguh-sungguh dan sungguh-sungguh itu berbeda, karatnya berbeda, tingkatnya berbeda. Karena itu bagi yang betul-betul sungguh-sungguh, pasti dia berhasil. Karena orang yang sungguh-sungguh itu dari mulai yang jangan memikirkan yang macam-macam dulu, tekun, fokus memikirkan bisnisnya, nanti dengan kesungguhan itu banyak peluang-peluang terbuka. Istilah saya kalau selama ini kalau mau mengerjakan apa ya? Tapi setelah berpikir sungguh-sungguh, tiba-tiba ada pintu terbuka. Kadang-kadang menunggu pintu terbukanya ini perlu waktu. Tapi kalau tidak sungguh-sungguh pintu ini tidak akan terbuka. Bahkan kalau sunggu-sungguhnya 24 karat, itu tiba-tiba pintu satu terbuka, di belakang sana ada pintu lagi terbuka lagi. Di belakang sana ada tiga lagi pintu terbuka lagi. Di belakang sana lagi ada 10 pintu terbuka lagi.

Sebetulnya usaha itu untuk bisa berkembang menjadi besar sebetulnya mula-mula masuk satu pintu, tapi masuknya sungguh-sungguh, mungkin awal masuknya itu kita sulit karena pintunya terkunci harus mencari kunci, tetapi ketika berhasil membuka pintu pertama dan terus berpikir serius, itu akan terbuka pintu kedua, akan terbuka pintu ketiga, empat, lima sekaligus. Terus kemudian nanti enam, tujuh, delapan, Sembilan, sepuluh sekaligus.

Jadi, intinya adalah bagi yang masih menjadi pengusaha kecil, jangan berpikir yang terlalu macam-macam. Nanti baru menjadi pengusaha kecil terus sudah terpikir untuk menjadi tim sukses politik. Masih jadi pengusaha kecil sudah berpikir, kok enak jadi caleg. Masih pengusaha kecil berpikir mau menjadi orang politik, itu akan membuat usaha itu gagal. Lebih baik usaha dulu berhasil, kayak saya lah. Saya sekarang kan jadi orang pemerintah tetapi saya tidak memimpikan jadi menteri. Saya awalnya hanya menekuni usaha yang juga sangat kecil, hampir mati, tapi lama-lama besar, lama-lama serius, dan ketika usaha sudah besar, anak sudah besar, usaha saya serahkan kepada anak-anak saya, saya jadi pengangguran. Tapi toh orang melihat, “Lho, Pak Dahlan ini kok jadi pengangguran?”. Kemudian Bapak Presidan meminta saya menjadi Dirut PLN, saya menolak, tetapi beliau minta betul saya menjadi Dirut PLN, saya hanya mau tiga tahun, tidak mau lima tahun, tapi belum dua tahun Bapak Presiden sudah minta saya menjadi menteri, dan saya sebetulnya juga tidak mau tetapi beliau bilang harus jadi menteri. Begitulah. Tapi awalnya sangat sulit juga.

Jadi, jangan melihat saya sekarang, tetapi lihatlah saya sepuluh tahun pertama ketika umur 28 sampai umur 38. Itu saya bekerja lebih dari 16 jam satu hari. Tidur hanya tiga, empat jam selama sepuluh tahun terus menerus. Tidak ada hari sabtu, tidak ada hari minggu, dan banyak orang sudah lupa awal-awal waktu menjadi pengusaha. Banyak orang mengatakan, “Iya, Pak Dahlah kan enak, sudah besar”. Iya, sekarang. Tapi, sepuluh tahun pertama sama seperti para pengusaha kecil sekarang, sengsaranya bukan main. Tapi kan kita tahu itu ada film yang bagus. Judulnya sengsara membawa nikmat. Ya harus sengsara dulu baru nanti nikmat, daripada nikmat dulu baru sengsara?

Para entrepreneur, saya sudah mengalami jadi karyawan, jadi pengusaha kecil, sudah mengalami jadi pengusaha menengah, sudah mengalami jadi pengusaha besar, sudah mengalami jadi direktur utama BUMN yang sangat besar, dan sekarang mengalami jadi menteri. Dari semua perjalanan saya itu, yang paling membahagiakan dan paling menyenangkan adalah ketika jadi pengusaha. Kenapa? Jadi pengusaha itu bebas, tidak punya atasan, tidak ada yang merintah-merintah, kita sendiri juragannya, kita sendiri atasannya, sehingga ketika saya diminta Bapak Presiden menjadi direktur utama PLN, saya kaget sekali. Biasa saya jadi pengusaha, semuanya tergantung pada saya, saya merdeka sekali, tidak punya atasan sama sekali, apa yang saya katakan harus terjadi, begitu menjadi direktur utama PLN, tiba-tiba “Lho, atasan saya banyak sekali”. Sekali punya atasan banyak banget. Menteri keuangan atasan saya, menteri BUMN atasan saya, menteri ESDM atasan saya, wakil presiden atasan saya, presiden atasan saya, DPR atasan saya, susah banget ini menjadi direktur utama BUMN. Enak jadi pengusaha.

Jadi menteri bagaimana? Sama saja. Tidak enak. Apa lagi tiap hari dihujat orang, sudah kerja juga nggak dipuji, berprestasi juga seperti nggak ada artinya. Saya tetep menganggap bahwa jadi pengusaha lah saat-saat paling membahagiakan karena kemerdekaan ada di kita, mau jungkir balik terserah kita, dan pengusaha adalah manusia yang sangat medeka, dan peranannya bagi Negara, pengusaha lebih besar.

Pada tahun 1945, Indonesia merdeka, yang merebut kemerdekaan adalah ada pejuang, para tentara, para politisi. Kita bisa mengalahkan Belanda waktu itu. Tahun lalu, ekonomi Indonesia itu mengalahkan Belanda. Kalau dulu mengalahkan secara politik, tahun lalu ekonomi Indonesia sudah mengalahkan Belanda. Siapa yang mengalahkan Belanda kali ini? Pengusaha. Karena ekonomi kita besar, karena pengusaha kita maju, bukan karena yang lain-lain maju. Sehingga kalau tahun 45 para pejuang memerdekakan Indonesia, mengalahkan Belanda, tahun 2011, Indonesia mengalahkan ekonomi Belanda, dan yang mengalahkan itu adalah pengusaha. Jadi, pengusaha adalah sama tingkatnya dengan pahlawan kita di masa yang lalu. Dan kalau tiga tahun lagi kita bisa mengalahkan ekonomi Spanyol, maka sekali lagi itu sebetulnya para pengusaha yang bangkit dan mengalahkan ekonomi negara sebesar seperti Spanyol. Dan terus satu per satu negara-negara besar kita kalahkan dan itu oleh para pengusaha. Tidak lagi oleh para pejuang secara fisik.

Terima kasih. Salam Entrepreneur.

Sumber : T100
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online