Selasa, 25 Februari 2014

DETERMINASI - Ciputra

Kenapa determinasi itu penting? Sejak kapan Pak Ciputra memiliki determinasi yang tinggi?

Baiklah. Saya sangat berbahagia. Senang sekali untuk dapat bertemu dengan UC Onliners. Dan topik pada hari ini adalah tentang determinasi. Tapi sebelum itu, salam dulu, Salam Entrepreneur untuk pada Onliners. Semoga anda selalu sukses dalam perjalanan anda untuk menjadi entrepreneur yang sejati.

Nah, hari ini kita akan bicara tentang determinasi atau suatu tekad, suatu keinginan, suatu janji, suatu ikrar untuk melaksanankan susuatu yang mempunyai nilai sukses. Tapi lebih dari sukses adalah kalau sukses itu mempunyai arti, mempunyai nilai untuk hubungannya dengan diri kita sendiri tapi untuk orang lain juga.

Kita sebagai entrepreneur, kita ingin mempunyai cita-cita untuk berhasil. Untuk itu kita butuhkan suatu target yang kita ingin capai sebaik mungkin. Suatu tekad untuk mencapai tersebut. Nah, bagaimana supaya kita tetap bersemangat dengan tekad yang luar biasa untuk mencapai hal tersebut? Kita harus membayangkan tentang manfaat, hasilnya apabila kita mencapai hal tersebut. Beda antara manusia dan binatang. Binatang, dia hanya hidup adalah untuk saat itu saja. Dia tidak memikirkan untuk hari depan. Tapi manusia memikirkan hari depan. Jadi mempunyai wawasan. Apa yang saya akan hasilkan pada hari depan tersebut kalau tekad kita dengan determinasi yang luar biasa. Semua kita lakukan yang halal dan yang baik untuk mencapai hal tersebut.

Nah, tentu anda bertanya. Kenapa saya ingin menjadi, kenapa saya mempunyai tekad? Kenapa saya mempunyai determinasi untuk menjadi seorang entrepreneur? Dimulai pada waktu ayah saya meninggal. Meninggal dengan cara tidak wajar. Ditangkap oleh pemerintah kolonial pada waktu itu, pada tahun ’44, dimasukkan penjara. Dan meninggal di penjara tanpa sekarang saya tidak tahu di mana kuburnya. Jadi saya mau merasa pada waktu itu saya harus bangkit. Saya waktu itu umur 12 tahun. Saya harus bangkit. Itu membikin saya tekad, determinasi bahwa saya harus melawan penderitaan tersebut oleh diri saya sendiri. Nah, mulai itu saya bilang ,tidak. Untuk itu saya harus bersekolah. Saya harus bersekolah terus. Waktu itu saya umur dua belas tahun, baru kelas dua sekolah dasar. Bayangkan. Tapi, tiba-tiba datang suatu tekad bahwa saya harus bersekolah dan dengan sekolah itu saya bisa cara yang terbaik untuk mencapai sukses.

Jadi, triggernya. Ayah saya meninggal tidak wajar, saya masih muda, kita hidup marginal sekali. Nah, itu yang mendorong saya. Sekarang bayangkan, kalau saya tidak bersekolah terus, tidak menjadi arsitek, maka hidup saya akan menjadi petani yang bekerja dengan penderitaan fisik yang luar biasa. Dan hasilnya hanya cukup untuk makan. Jadi, itulah penting sekali cita-cita tersebut. Jadi, kalau anda supaya anda bisa tetap tekun dengan determinasi penuh, anda juga harus bayar hasilnya. Kalau saya jadi arsitek, maka saya keluarkan dari kemiskinan, saya keluarkan dari penderitaan, dan saya bisa turut serta membangun negara kita ini. Kita bisa membangun rumah, kita bisa membangun gedung, dan sebagainya. Kalau tidak saya akan mencangkul tanah. Nah, itu salah satu unsur-unsurnya. kita harus bayangkan supaya kita tetap setia untuk bekerja keras, untuk belajar keras.


Adakah sebuah pengalaman khusus yang hampir membuat Pak Ciputra menyerah, namun kemudian berhasil bangkit dan menang? Apa rahasianya?

Nah, saya ditanyakan, dalam keadaan apa, dalam keadaan bagaimana saya pernah hampir kehilangan determinasi? Terus terang pada waktu krisis tahun ’97-’98, saya telah mendirikan tiga grup perusahaan. Jaya Grup, Metropolitan Grup, dan Ciputra Grup. Tiba-tiba datang krisis yang luar biasa di Indonesia. Kita seolah sudah bangkrut, utang kita menumpuk, aset kita, rumah-rumah yang kita bangun tidak bisa dijual dan tidak punya harga. Seolah saya mau putus asa. Untuk itu saya mikir, Indonesia mungkin tidak tepat buat saya. Saya harus melakukan pemikiran, introspeksi, melakukan survey. Melakukan survey ke Tiongkok. Saya melakukan survey ke Amerika, saya melakukan survey ke Australia. Sebab saya seolah-olah merasa bahwa Indonesia tidak punya hari depan. Sebab waktu itu datang tiba-tiba krisis tersebut. Tapi kemudian saya mengambil kesimpulan tempat yang paling baik adalah Indonesia untuk saya bekerja terus karena tujuan saya bukan terutama untuk mencari kekayaan. Saya mempunyai hidup, mempunyai tujuan hidup bukan hanya mencari sukses, tapi hidup mempunyai nilai. Hidup mempunyai nilai berarti bisa berbuat untuk sesama manusia. Jadi saya putuskan, tidak. Saya harus tetap di Indonesia dan marilah kegagalan yang lain yang lalu itu merupakan guru yang baik. Atau pengalaman yang tertunda. Dan saya kembali bekerja keras di Indonesia dengan mempelajari, mengambil pengalaman yang lalu, apa yang salah? Ternyata kesalahan saya, saya bisa hitung satu, dua, tuga, empat, lima. Nah, saya tidak mau mengulangi lima kesalahan tersebut. Maka saya bangkit dan ternyata kami berhasil seperti sekarang ini. Kami bisa membangun gedung-gedung, bahkan lebih hebat dari sebelum krisis yang lalu.


Apa rahasia Pak Ciputra dalam menjaga semangat dan determinasi?

Nah, umpama kata tadi contoh determinasi tadi contoh pada waktu krisis. Contoh misalnya kita sekarang berada di Orchard road. Di Ciputra World 1. Kita ingin untuk maju, untuk kembali berhasil. Sebagai contoh, sejak lima puluh tahun yang lalu, lima puluh tahun yang lalu saya berkunjung ke Jepang, ke Paris, ke Singapore. Saya ingin bahwa tiap kota, ibu kota perlu salah satu jalan pariwisata dan perdagangan retail. Saya ingin seperti Jepang ada Ginza, saya ingin seperti Paris ada champs de ellise, dan Singapore ada Orchard road. Mereka itu selalu terngiang-ngiang saya ingin lakukan tersebut. Akhirnya tepat dua puluh tahun yang lalu kami ambil kesimpulan, kita akan mulai, kita memilih jalan Dr. Satrio sebagai jalan pariwisata dan retail. Mulai itulah kita membeli tanah sekitar ini. Dan sekarang terwujud apa yang telah kami tentukan keinginan lima puluh tahun yang lalu, dua puluh tahun yang lalu, yang dilakukan karena krisis, tapi kita bangkit, kita lakukan terus. Nah itu sebagai contoh determinasi.

Juga determinasi yang lain. Misalnya waktu kami sudah yakin bahwa entrepreneur adalah cara yang terbaik untuk merubah nasib bangsa, untuk menghilangkan kemiskinan, kemelaratan suatu bangsa. kami mulai promosi. Kami menghubungi beberapa pejabat pemerintah supaya entrepreneur diterapkan di Indonesia, ada kami bersyukur. Ada yang bersemangat sekali, kami bersyukur. Ada yang setuju tapi kelihatan tidak ada artinya, kami berterimakasih. Dan ada yang tidak setuju seolah-olah entrepreneur tidak perlu dilatih, tidak perlu diajarkan, kami tetap sabar saja. Tapi determinasi kita karena pikiran kita, mindset kita pada waktu kita menemui pejabat, dia setuju atau tidak setuju, kita akan jalan terus.

Nah, makanya sekarang kita ingin mengembangkan. Saya pribadi sudah turut membangun empat universitas. Kami dari Ciputra Entrepreneurship Universitas Ciputra sudah melatih lebih dari pada empat ribu dosen dan guru-guru. Bahkan sebagian kami telah kirimkan ke luar negeri. Tapi kita merasa nggak cukup. Kita rasa mesti seluruh Indonesia, kita ingin membantu menciptakan empat juta entrepreneur baru buat Indonesia. Maka kita sekarang lakukan secara online. Kita kasih gratis. Sekarang kita sesudah itu kita berusaha bagaimana supaya inkubator-inkubator diciptakan di Indonesia. Sudah kita mulai sebagai Inkubator, sekarang kita ingin scale-up. Yang tidak punya usaha, memulai usaha. Yang masih kecil menjadi menengah. Yang menengah menjadi besar. Dan yang besar menjadi Internasional. Nah, itu keinginan kita. Determinasi kita, cita-cita kita dengan penuh tekad kita akan lakukan. Dan semoga Tuhan menyertai kita sehingga cita-cita kita, determinasi kita tetap terpelihara. Ini dari kami.


Apa pesan Pak Ciputra agar pada UC Onliners, entrepreneur pemula dapat memiliki determinasi?

Kepada para UC Onliners, anda jangan takut untuk mengalami halangan-halangan. Saya mengalami begitu banyak kegagalan, bagaimana mengalami begitu banyak kekecewaan, saya hampir putus asa, tetapi saya tidak putus asa. Saya kehilangan semangat beberapa kali, tapi saya tidak putus asa. Kami mengalami kegagalan, hasilnya dengan kegagalan tersebut, dengan kekecewaan tersebut anda makin mantap. Anda seolah ditempa diri anda, ditempa hati anda, ditempa semangat anda, ditempa pikiran anda, bahkan anda makin menjadi hebat. Anda seolah diperlengkapi dengan kekuatan yang baru. Jadi, anda teruskan. Dalam sajak saya, sepuluh kali jatuh sebelas kali bangkit. Jadi, lakukan terus seperti tahun ’98. Kami seolah sudah bangkrut. Tapi sekarang kami sudah bangkit kembali. Dan jangan lupa terus berdoa kepada Tuhan.

Tuhan kiranya menyertai kita semua dan sekali lagi, salam entrepreneur.

Semoga sukses..

Sumber : Entrepreneurship Ciputra Way (Batch 2)
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online

ATTITUDE TO FACE THE FAILURE - Teddy Saputra

Salam Entrepreneur..
Perkenalkan nama saya Teddy Saputra dan saat ini saya bergabung di dalam Universitas Ciputra sebagai dosen pengajar. Di samping itu saya juga seorang entrepreneur yang sedikit banyak saya pernah mengalami kegagalan, kemudian saya berusaha bangkit lagi, kemudian pernah mengalami kegagalan lagi, tetapi saya dari segala pengalaman saya itu saya belajar bahwa justru kegagalan itulah yang menjadi suatu hal yang berharga ketika kita melangkah lebih jauh lagi dalam perjalanan entrepreneurship kita. Karena itu pada kesempatan kali ini saya akan berbagi kepada para UC Onliners yang menyaksikan pada kesempatan ini. Bagaimana sih ketika saya memulai usaha,  kemudian saya gagal, dan kemudian saya belajar dari kegagalan itu. Di mana pada akhirnya saya berharap agar teman-teman dari UC Onliners bisa melihat bahwa kegagalan itu sangat berharga dan kedua saya juga berharap agar kegagalan yang saya rasakan, kegalan yang saya alami kemarin itu tidak terjadi pada diri Anda. Jadi, Anda bisa belajar dari pengalaman saya ini. Seperti itu. Karena itu kita mulai saja program ini.
Saya sebagai entrepreneur saya melihat ada tiga sisi yang mudah, tiga langkah yang kita miliki sebagai entrepreneur. Yang pertama adalah penting sekali bagi kita untuk menemukan apa passion kita sebenarnya. Siapa diri kita sebenarnya. Apa keunggulan kita. Dan juga apa kelemahan kita. Dari situ kita dapat mengembangkan bisnis apa yang akan kita laksanakan.
Mengapa passion ini menjadi sangat penting? Karena bagi saya jikalau kita bekerja sesuai dengan passion kita, maka apa pun yang akan kita kerjakan ini tidak membuat kita merasa lelah. Juga kita tidak merasa kalau kita gagal atau gimana, kita akan merasa saya harus lebih maju, lebih baik lagi. Itu kalau misalkan kita bertindak, berjalan atau memulai bisnis berdasarkan passion yang kita miliki. Kedua, penting sekali bagi kita untuk memahami teknik-teknik dalam bisnis yang saya pikir rekan-rekan dosen-dosen yang lain sebelumnya juga menyampaikan banyak hal tentang bagaimana teknik bisnis yang baik. Dan akhirnya, setelah kita mengetahui passion kita apa, kemudian kita juga mengetahui bagaimana kita berbisnis dengan teknik yang baik, baru kemudian kita mengubah passion ini menjadi suatu bisnis yang baik di mana passion kita ini akan menghasilkan sesuatu yang bernilai buat orang lain sehingga orang lain ini akan bersedia untuk membayar kepada kita dalam memperoleh produk dan jasa yang kita hasilkan ini.
Saya tinggal di kota Bogor. Dan saya lahir di sana, besar di sana, sekolah di sana, sampai dengan SMA. Dan kota Bogor ini perlu diketahui bahwa kota Bogor ini sangat berdekatan dengan Jakarta. Jadi berbatasan langsung dengan Jakarta, dimana kota Bogor ini mempunyai penduduk sejumlah 4,7 juta jiwa. Alasan saya waktu itu cukup sederhana yaitu bahwa saya tahu kota Bogor dengan baik dan saya pikir saya bisa dengan pengalaman saya di kota Bogor, dengan pengetahuan saya tentang kota Bogor, ini adalah peluang yang baik buat saya memulai bisnis di kota Bogor. Just that. Itu pemikiran saya pasa awalnya. Dan saya ingin memulai bisnis di kota Bogor.
Di kota Bogor itu ada satu universitas swasta yang cukup besar. Setelah saya cari tahu jumlahnya ada 20 ribu mahasiswa. 20 ribu mahasiswa dan universitas ini adanya di pinggir jalan. Jadi bisa dibayangkan kalau kita berdagang di depannya, berarti kita bisa mentargetkan market 20 ribu mahasiswa di dalamnya kemudian juga orang-orang yang ada di sekitar kampus. Saya pikir, “Wah, ini adalah pasar-pasar yang sangat-sangat luar biasa”. 20 ribu mahasiswa dan terkotak di dalam satu daerah itu di kota Bogor. Setelah saya bicara-bicara, Saya ngomong-ngomong sama teman. Kebetulan ada teman saya yang ahli dalam bikin mie ayam ceritanya. Inisialnya “I”. Nah, teman saya ini teman SMA. “I dan IR”. Jadi ada dua teman saya, I dan IR. Waktu itu kita duduk bareng. Kebetulan lagi bicara-bicara. Anak muda ya.
Kita bertiga mempunyai cita-cita yang sama yaitu kita pengen bisnis di Bogor. Nah, salah satu teman saya si I ini kebetulan punya kehlian membuat mie ayam. Waah, cocok ini saya pikir ya. Gimana kalau misalkan kita sewa tempat di depan universitas ini. I ini yang masak, yang menyediakan produksi mie ayamnya ini. Kita sasar target 20 ribu mahasiswa. Tentu ini akan jadi sesuatu yang sangat-sangat menarik. Waktu itu sampai posisi ini kami berpikir ini akan sangat mudah sekali dijalankan dan akan sangat laku. Kira-kira seperti itu. Nah, survei-survei saya laksanakan bertiga dan saya ngelihat sepintas-sepintas saja lah. Ini salah satu kesalahan saya, UC Onliners. Di mana kita sebenarnya ketika memulai suatu bisnis kita harus mempelajari lingkungan tempat kita akan berbisnis. Kita harus mempelajari pasar, mempelajari persaingan, pesaing-pesaing di sekitar kita.
Kami waktu itu memang mempelajari. Tetapi dengan menggunakan cara yang gampang. Nah ini salah satu yang saya ingin bagikan kepada UC Onliners. Kita lihat power point saya, yang diatas itu salah satu tukang mie ayam yang ada di depan universitas ini tapi lokasinya agak-agak lebih mojok. Jadi di pojokan. Saya ke sana saya ngelihat. O, ini pesaing saya ini. Saya langsung menilai. Wah, tempatnya jelek. Kalau saya bikin misalnya tempatnya lebih bagus. Thats it, saya akan menang. Sesimpel itu saja waktu itu. Kemudian yang kedua saya beli mie ayamnya. Dan saya perhatiin. Di power point saya foto itu saya kasih fotonya. Mie ayamnya seperti itu. Yang saya lihat yang langsung jadi perhatian saya adalah ayam yang ada di dalam mie ayam itu. Ayamnya berwarna coklat, yang saya juga tentu saya pikir akan menumbuhkan pertanyaan bagi para konsumen, ini ayam apa bukan? Dan saya rencananya, saya akan memproduksi yang lebih baik lagi daripada ini.
Ini pesaing saya. Ternyata dengan tempat yang seperti ini, yang menurut saya jelek, kembali lagi saya tekankan ya. Bahwa menurut kami jelek. Dan mie ayam yang menurut kami ini tidak ideal, ternyata dia mampu menjual 300 mangkuk setiap hari di harga 8.000 per mangkuk. Kalau misalkan kita kalkulasi dalam satu bulan misalkan 20 hari kerja berarti 30 juta itu omsetnya dalam satu bulan. Tentu saja kami bertiga semakin tertarik dengan bisnis ini. Dan kami bertekad, semakin bertekad akan menjadi pesaing yang kuat baginya. Ini kalkulasi, kemudian kami membuat kalkulasi sederhana bahwa ternyata biaya pokok semangkuk mie ayam itu cuma 3.000 lho. Kemudian dia, pesaing saya jual harga per mangkuk 8.000. Artinya saingan saya untung 5.000 per mangkuk. Kalo misalkan satu hari mereka jual 300 mangkuk, yang artinya mereka untung, mereka mendapatkan omset 1,5 juta per hari, sorry, mereka akan mendapatkan untung 1,5 juta per hari, dan mendapatkan untung bersih, untung kotor 30 juta per bulan. Wow, ini luar biasa ini. Tentu kami makin bertiga semakin melihat bisnis ini, kembali lagi saya semakin ngiler saudara-saudara. Dan saya akan mulai melakukan action bersama teman-teman saya.
So, setelah kita berkumpul, apa yang akan kita perbuat sekarang? Saya mulai mencari tempat. Tempat yang lebih baik, tempat yang lebih strategis. Kalau tadi pesaing saya posisinya ini adalah universitasnya pesaing saya itu posisinya ada di ujung sebelah kiri, agak jauh. Kesempatan saya mendapatkan tempat yang akan saya sewa itu persisi di depan pintu keluar dari kampus. Dan lihat saja itu gambarnya. Tentu lebih baik ya. Kondisi dari tempatnya juga lebih bagus, lebih bersih. Yang artinya saya semakin optimis. Dalam pikiran saya, “Wah, kalau tempat dia sekedar seperti itu, saya tempatnya lebih bagus, maka saya akan menang persaingan”. Pertimbangan saya sesederhana itu waktu itu. Ini perbandingannya. Sebelah kiri, itu teman saya IR yang di atas. Kemudian yang di bawah bajunya doang itu kelihatan. Itu I. Dan ini tempat saya yang lebih jauh lebih bagus tentunya ya? Semua pasti setuju ya UC Onliners?
Kalau dengan tempat saya, dibandingkan dengan tempat pesaing, tentu lebih baik tempat saya, tempat kami. Masalah produk, ini adalah mie ayam yang kami ciptakan. Kemudian kami branding namanya Mie Ayam 77. Pemikiran sederhananya seperti ini. Kompetitor kami mempunyai bentuk ayam yang Anda bisa lihat power point, warnanya coklat karena dikasih kecap yang lumayan banyak. Tetapi tidak berwujud ayam. Jadi, kami berpikir bertiga. Kembali lagi kami bertiga berpikir bahwa, “Wah, kalo misalkan kita bikin ayamnya yang kelihatan bentuk ayamnya, tentu ini akan lebih bagus dong”. Karena orang-orang akan melihat, wah ini ayam bener ini, ayam bener.
Oke, akhirnya kita jalan. Setelah kita mendevelop produk, dan jadi deh itu. Mie Ayam 77. Tampilannya tentu lebih baik ya? Harga? Kita juga menang. Kita mau pasang harga Rp 6.000,00 dalam satu mangkuk. Pesaing 8.000. Lebih murah ke kita 6.000. Dari tempat kita menang, kemudian dari bentuk juga kita pikir kita menang, dan harga juga kita pikir kita menang. Tiga kemenangan, tiga perhitungan kita ini, tiga penilaian kita, tiga aspek kita merasa labih kuat daripada pesaing. Dan kita siap mulai.
Dengan modal 30 juta. Untuk tempat kami harus  sewa 30 juta. 30 juta untuk satu tahun. Ini besar. Ini cukup mahal tapi waktu itu kami pertimbangkan bahwa posisinya sangat strategis. Ada persis di depan pintu keluar kampus di mana 20.000 mahasiswa yang keluar masuk tiap hari. 30 juta lumayan worthed lah ya kami pikir waktu iitu. Kemudian kami juga menginvestasikan 5 juta untuk pembelian bahan baku awal. Dan peralatan, dan sebagainya, siap untuk memulai usaha. Langkah satu sudah kamu laksanakan. Ini tempat kami. Dan ini rekan saya. Kami mulai memperbaiki semuanya. Siap-siap bertarung di pasar. Langkah kedua, kami mulai menata dekorasi ruangan lebih rapi dari pesaing. Setuju khan ya? Lebih bagus. Kami beli tempatnya lebih mahal, kemudian kursinya bisa Anda lihat. Bahkan sausnya juga kami menggunakan saus yang lebih mahal. Kami sangat-sangat ingin bersaing dan ingin menang ini. Langkah ketiga kami mulai buka. Ini tempat kami dan kami mulai buka ini.

Ini hasilnya. Pada bulan pertama, kami mencapai 30 mangkuk satu hari. Pada bulan pertama lho. 30, wah oke lah saya bilang ya. Kalau tiga puluh mangkuk pertama, ini oke ini. Dan saya makin bersemangat. Tetapi pada bulan kedua, ada penurunan. Menjadi dua puluh lima mangkuk satu hari. Perhari ini. Bulan ketiga, sepuluh mangkuk per hari. Mulai ketakutan. Pada bulan ke empat, percaya atau tidak, mie ayam yang tadi kami develop seperti itu cuma laku 2 mangkuk per hari. Wah, ini luar biasa sekali ini. Apa yang kami pelajari saat itu? Kemudian kami mulai bertiga, kalau misalkan bisnis mulai rusak, saya bertiga teman mulai berdebat. Berdebatnya mulai berdebat keras ya. Mulai menyalahkan satu sama lain. Apa ini? Kesalahannya apa? Kenapa bisa begini? Tempat kita lebih bagus, produknya lebih bagus, dan ketiga lokasinya jauh lebih strategis daripada pesaing. Ternyata 300 mangkuk itu paling cuma lari ke kita 30 per hari. Kemudian makin lama jelas sekali dari angka-angka itu terlihat ya, pelanggan tidak balik lagi. Tidak senang. Dari 30, 25, 20, bahkan pada bulan ke empat itu rata-rata cuma dua mangkuk sehari. Kami terkalahkan. Terus terang saja waktu itu kami merasa kami benar-benar digebukin itu sama si tukang mie ayam yang kelihatannya lebih sederhana ya?

Why? Why ini yang harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Pertama, kita lihat prosesnya. Ketika saya mulai menjadi seorang akademisi saya mulai rapi ini melihat ini. Ini prosesnya. Pertama saya cuma melihat bahwa ada 20.000 mahasiswa. Saya cuma melihat itu saja. Bukankah itu yang sering kita lakukan UC Onliners? Cuma melihat market begitu besar. Saya juga waktu itu melakukan itu. 20.000 mahasiswa. Keluar langsung, ini  adalah pasar yang sangat luar biasa besar. Kesimpulannya sangat sederhana waktu itu ya? Kemudian kedua, setelah mempelajari semuanya dengan sederhana sekali, langsung kita invest 30 juta. Kebetulan ada uang, jalan langsung 35 juta. Sewa tempat, tanpa berhitung lebih dalam, bagaimana ini. Tanpa melakukan eksplorasi dan sebagainya, kita ambil tempatnya langsung. Ketiga, kita langsung melihat  bahwa lokasinya sangat-sangat strategis. Di depan pintu keluar kampus. Semakin pede. Kemudian yang keempat, kita langsung menata dekorasi ruangan lebih bagus daripada pesaing. Prediksi, kemudian terakhir kita langsung grand opening.

So, mana yang salah? Saudara-saudara UC Onliners sekalian. Saya akui pada waktu itu kami bertiga sama sekali tidak memikirkan apa-apa. Strategi bisnis tidak ada, visi bisnis tidak ada, semuanya hanya bisa dikatakan langkah bisnis yang terburu-buru ya. Terburu-buru dan berdasarkan data-data yang sangat-sangat sekilas saja. Bahwa market yang cukup besar, kami mampu membuat lebih baik. Semuanya menurut kami, menurut kami, menurut kami.

Mie ayamnya lebih bagus itu menurut kami lho. Bukan menurut pasar. Apakah tempatnya lebih bagus? Itu menurut kami juga. Dan itu menjadi kesalahan yang sangat saya sesalkan selama ini. Semuanya pertimbangan pada waktu itu, menurut kami. Itu yang tidak boleh. Apa yang terjadi? Saya bertanya terhadap seratus mahasiswa di sana secara diam-diam. Setelah kejadian. Harusnya ini dilakukan di awal. Saya karena penasaran kenapa saya sampai gagal, saya tanya sama seratus mahasiswa di sana. Secara diam-diam. Why? Kenapa kamu nggak berbalik lagi?

Ternyata ada perhitungan yang saya lewatkan. Di sana, mahasiswa, 20.000 mahasiswa yang ada di sana ternyata merupakan mayoritas beragama muslim. Dari daerah. Muslim dari daerah. Bukan dari kota Bogor, tapi dari daerah. Ya, dari daerah-daerah terpencil. Kebanyakan mereka beragama muslim. Ayam berwarna putih. Ternyata ini yang kami bangga-banggakan, eh ternyata merupakan kesalahan. Kenapa? Ini ayam kami nih. Berwarna putih. Bagi customer, ayam yang berwarna putih justru itu itu yang dikira babi saudara-saudara UC Onliners. Karena kebanyakan pada mahasiswa di sana yang berasal dari daerah ini makan mie ayam ya seperti yang ini. Seperti yang pesaing kami ini. Di mana ada hitamnya. Lihat kompetitor tetangga, ya itu. Itu mie ayam menurut mereka. Ketika kamu mengeluarkan produk baru yang menurut kami lebih baik, justru mereka menilai, mempertimbangkan bahwa yang putih itu adalah babi. Ini cukup fatal sekali ya. Cukup fatal sekali, dan saya baru tahu setelah saya bertanya kepada seratus mahasiswa.

Kemudian kedua, teman saya I itu, adalah beretnis tionghoa. Ini saya tidak bermaksud untuk mengedepankan SARA atau bagaimana ya. Tatapi ini kenyataan ini. Bahwa ada kesalahan di sana ketika teman saya yang berjualan berlatar belakang etnis tionghoa, dengan tampilan mie ayam putih yang seperti babi, semakin meyakinkan customer bahwa ini bukan ayam tetapi ada campuran babi di dalamnya. Dan ketiga, tidak ada tanda “halal”, maupun suatu upaya promosi bahwa itu halal. Ini yang menjadi kesalahan kami yang luar biasa pada waktu itu. Dan akhirnya pada akhirnya kami mengambil, ini yang menjadi suatu kesimpulan yang berharga buat saya dan saya ingin berbagi dengan pada UC Onliners yang nanti akan memulai usahanya bahwa, satu, ketika kita, kita harus mempelajari lingkungan bisnis terlebih dahulu, sebelum akhirnya kita memulai bisnis kita. Mempelajari pasar, mempelajari persaingan, mempelajari lingkungan tempat bisnis kita ada di sana. Kedua, jangan pernah menilai sesuai dengan apa yang kita bilang ini benar. Seperti tadi pengalaman saya tadi itu lho. jangan pernah lupa bahwa tiga kemenangan, tiga poin kenggulan saya dibanding pesaing itu menurut saya, menurut teman saya, dan menurut teman saya. Menurut kami. Itu adalah kesalahan yang sangat fatal. Kita tetap harus berpikir bahwa penilaian yang baik adalah penilaian yang dapat kita ambil dari masyarakat. Dari market kita sendiri.

Kemudian yang kedua, ketika kita memulai suatu bisnis, ketika kita memulai start up suatu bisnis, tetap kita harus mempunyai strategi yang mumpuni ya. Tetap harus mempunyai visi, kemana ini usaha kita akan berjalan, dan bagaimana caranya untuk mencapai visi tersebut. Pada bulan ke lima, sesuai kesepakatan, saya ngobrol dengan teman-teman saya. Kondisinya waktu itu sudah nggak enak lho. Karena ya gitu lah ya. Di dalam bisnis di kala semua berjalan tidak sesuai rencana, yang ada kita nyalahin diri kita sendiri dan sebagainya. Dan akhirnya saya bertiga sama teman berdiskusi bahwa kita bilang, “Wah ini kalau diterusin bisa makin hancur ini”. Sekarang saja dua mangkuk per hari khan makin rugi ya. Kedua teman saya itu akhirnya keluar. Dan saya berpikir waktu itu. Waduh, kalau misalkan sudah bayar tiga puluh juta untuk satu tahun dan ini masih jalan lima bulan. Bagaimana ini khan ya? Akhirnya saya mulai menggunakan apa yang saya pelajari, saya mulai melakukan riset, dan melakukan pelajaran yang lebih baik ya. Dan saya tidak mau terjerumus ke dalam kesalahan saya dua kali. Akhirnya saya membuka usaha baru di tempat yang sama untuk menuntaskan masa sewa waktu itu. Dulu pikirannya seperti itu. Saya mulai membeli mesin fotokopi. Membeli peralatan-peralatan dan akhirnya buka satu toko fotokopi dan toko perlengkapan-perlengkapan itu di situ. Ya, sampai saat ini berjalan. Berjalan dengan baik dan bisa menghasilkan keuntungan bagi saya.

Satu kesimpulan yang saya harapkan bisa diambil oleh semua UC Onliners. Yang paling penting adalah, kita tidak pernah boleh merasa apa pun yang kita nilai di dalam bisnis menurut apa yang kita nilai. Atau apa yang menurut kita benar, apa yang menurut kita baik. Tidak bisa begitu dalam bisnis. Market yang selalu pada akhirnya memutuskan apakah Anda berhasil atau tidak.

Demikian apa yang dapat saya bagikan hari ini. Saya Teddy Saputra. Salam Entrepreneur...

Sumber : Entrepreneurship Ciputra Way (Batch 2)
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online

ATTITUDE TO FACE THE FAILURE - Inge Gunawan

Salam Entrepreneur..
Sebelum saya sharing mengenai topik saya pada hari ini, saya akan mengutip sepenggal puisi dari Pak Ciputra. Ada yang berentrepreneur namun tidak berhasil. Sharing saya pada hari ini berjudul Atutide to Face The Failure. Atau sikap dalam menghadapi kegagalan. Bagi seorang entrepreneur, kegagalan itu hal yang biasa. Tetapi bagi kebanyakan orang itu merupakan hal yang sangat menakutkan. Menurut Ciputra Way, seorang entrepreneur adalah An Oppotunity Creator, Innovator, dan juga Risk Taker. Artinya selain seorang entrepreneur itu harus menciptakan kesempatan, juga merupakan seorang inovator, memberikan nilai tambah kepada bisnisnya dan juga seorang risk taker artinya harus berani mengambil resiko.
Menurut Pak Ciputra, founder dan Universitas Ciputra tempat saya mengajar, seorang entrepreneur bisa berasal dari lahir dan karena keluarganya. Yang kedua karena lingkungannya, dan yang ketiga karena dididik dan dilatih. Pak Ciputra pada tahun 2006 mendirikan Universitas Ciputra untuk mendidik dan melatih pada entrepreneur muda Indonesia. Di UC (Universitas Ciputra), mahasiswa dididik dan dilatih menjadi Educated Entrepreneur. Kurikulum yang kami kembangkan berdasarkan project based learning. Artinya, mahasiswa harus melakukan start up bisnis, mengembangkan bisnis, dan menjadikan bisnis yang sustainable. Dari situlah mahasiswa balajar untuk berentrepreneur, mengalami kegagalan, bangkit kembali, dan memiliki bisnis yang besar.
Pak Ciputra memiliki impian, di tahun 2030 Indonesia akan memiliki 6 juta entrepreneur. Saat ini di Inodesia sendiri, entrepreneur baru berjumlah 1,53%. Sementara kalau kita bandingkan dengan Singapura yang merupakan negara yang kecil, entrepreneur di sana sudah mencapai 7%. Oleh karena itu mari kita bersama-sama mewujudkan impian yang luar biasa itu untuk menjadikan Indonesia menjadi negara yang lebih makmur dan menjadi negara yang lebih baik. Di Indonesia, Ernst and Young juga mensupport adanya entrepreneur di Indonesia dengan menyelenggarakan Entrepreneur Of The Year yang di-launching sejak tahun 2001. Ernst and Young memberikan banyak penghargaan kepada pada entrepreneur muda yang berprestasi dan mengembangkan entrepreneurial spirit untuk membawa Indonesia ke ekonomi yang lebih baik, membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang, dan menigkatkan kemakmuran banyak orang.
Saya akan masuk ke topik saya pada hari ini yaitu sikap di dalam menghadapi kegagalan. Saya akan mulai dari penelitian mengenai kegagalan bisnis. Ada dua definisi. Yang pertama adalah definisi secara luas. Menurut Singh, Corner, & Pavlovich tahun 2007, dikatakan definisi yang luas dari kegagalan bisnis adalah entrepreneur exit atau quit dari bisnisnya. Jadi entrepreneur tersebut meninggalkan bisnisnya. Kemudian definisi yang lebih sempit dikatakan oleh Shepherd & Haynie tahun 2011, adalah ketika seorang entrepreneur itu mengalami kebangkrutan atau mengalami kerugian yang besar di dalam bisnisnya.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Harvard business school pada tahun 2010, dikatakan bahwa seorang entrepreneur yang berhasil pertama kali membuka bisnisnya hanya 18% saja. Untuk itu di Universitas Ciputra kami memiliki talk line “Fail Chep, Fail Fast, Fail Early”. Artinya, mahasiswa kami harus gagal semurah mungkin, sedini mungkin, dan secepat mungkin. Di Universitas Ciputra, setiap mahasiswa harus memiliki experience untuk melakukan start up bisnis sejak tahun kedua masa studi mereka.
Di tahun pertama mereka mengalami groundbreaker, artinya pembentukan entrepreneur mindset dan spirit. Kemudian masuk ke semester kedua, mahasisawa belajar untuk melakukan ideasi bisnis, design thinking, identifikasi, prototyping, sampai ke user testing, membuat bisnis model canvas atau B-plan, serta dieksekusi bisnisnya. Dan kemudian masuk di tahun kedua, yaitu di semester ketiga, para mahasiswa tersebut sudah harus melakukan start up bisnis. Di semester ke empat mahasiswa di Universitas Ciputra mengalami pembelajaran bisnis inovation. Artinya mereka harus memberikan inovasi terhadap proses bisnisnya. Kemudian di semester lima melakukan scale up bisnis atau global business experience. Kemudian di semester enam dan tujuh mereka melakukan developing business dan sustainability business.
Mereka diberi kesempatan untuk gagal sedini mungkin, secepat mungkin, semurah mungkin. Sehingga ketika mereka mengalami betul-betul membuka bisnis, ketika mereka lulus dari Universitas Ciputra mereka sudah memiliki experience untuk gagal di bisnis mereka.
Kemudian ada tujuh alasan mengapa seorang entrepreneur gagal di bisnis mereka yang pertama. Alasan pertama adalah Survival Driven atau Seeking Money Before Adding Value  artinya seorang entrepreneur hanya berpikir untuk profit jangka pendek dan tidak memikirkan bisnis jangka panjang. Kemudian alasan yang kedua adalah Inadequate atau Lack of Knowledge artinya seorang entrepreneur tidak memiliki pengetahuan dasar atau pengetahuan yang mendahului ketika dia mau membuka bisnisnya. Untuk itulah dibutuhkan market riset atau eksplorasi ketika seorang entrepreneur mau membuka bisnisnya pertama kali. Saya menyarankan seorang entrepreneur untuk melakukan eksplorasi atau market riset, interview kepada customer, calon customer, kepada kompetitor, kepada suplier untuk mengetahui kemampuan dasar sebelum membuka bisnisnya. Kemudian yang ketiga adalah Lack of Focuks. Kebanyakan seorang entrepreneur ingin membuka bisnis di berbagai bidang. Tidak bisa. Harus fokus terlebih dahulu di bidang tertentu. Kemudian alasan keempat mengapa seorang entrepreneur gagal di bisnis mereka yang pertama adalah Fail of Failure. Artinya entrepreneur tersebut takut untuk melangkah lebih maju lagi di bisnisnya. Kemudian alasan yang kelima adalah Lack of Vision. Artinya entrepreneur tersebut tidak memiliki visi kedepannya bisnis ini mau dibawa ke mana. Kemudian yang berikutnya alasan keenam adalah Poor Money Management atau tidak bisa mengelola keuangannya. Kemudian yang ketujuh atau alasan terakhir mengapa seorang entrepreneur gagal di bisnis mereka yang pertama adalah I can do well all by myself. Artinya dia cenderung untuk bekerja sendiri, tidak mau melakukan networking atau bekerja secara teamwork. Adalah lebih baik untuk menjalin hubungan atau networking dengan berbagai pihak yang bisa menyatukan kekuatan untuk membuat bisnis tersebut menjadi berhasil.

Untuk itulah kami betul-betul membuat mahasiswa mengalami experience untuk membuka bisnis, mengalami kegagalan, dan bangkit kembali sesuai dengan passion mereka.

Kemudian berikutnya saya akan sharing mengenai lima kunci untuk menjadikan kegagalan menjadi kunci sukses. Kunci yang pertama adalah Call Failure Something Else artinya sebut kegagalan itu bukan sebagai kegagalan, tetapi sebagai experience atau pengalaman. Gambarannya seperti ini. Sebuah perusahaan yang besar yang akan meng-hire senior manager tidak mungkin mempekerjakan seorang fresh graduate. Artinya seorang manager yang diharapkan adalah seorang yang memiliki pengalaman menjadi senior manager di tempat lain. Demikian juga ketika seseorang melakukan bisnis, kegagalan sebenarnya bukan kegagalan, tetapi adalah pengalaman yang mengikuti hidupnya. Artinya dia sudah memiliki pengalaman di dalam berbisnis. Oleh karena itu jangan sebut kegagalan sebagai kegagalan. Bagi seorang entrepreneur kegagalan itu adalah sebuah pengalaman, guru yang paling berharga.

Kemudian kunci yang kedua adalah Use Failure as A Stepping Stone, artinya gunakan kegagalan tersebut sebagai batu pijakan untuk membuka bisnis yang lebih baik lagi, yang akan berkembang lebih besar lagi di kemudian hari. Kemudian kunci yang ketiga adalah Never Fail Alone, artinya anda harus memiliki partner bisnis. Anda harus mulai melakukan networking. Jangan gagal sendirian. Kemudian yang keempat Don’t Hide Your Failure, artinya jangan pernah sembunyikan kegagalan itu karena kegagalan itu sebenarnya bukan kegagalan bagi seorang entrepreneur. Kegagalan adalah pangalaman.

Dan kemudian yang kelima atau yang terakhir adalah Find Out Your Passion atau betul-betul temukan passion anda. Karena ketika anda membuka bisnis, di mana itu merupakan passion anda, maka bisnis itu akan lebih memiliki change untuk berhasil.

Saya memberikan ilustrasi seperti ini sebelum saya menutup sharing saya pada hari ini. Ada seorang nenek yang kehilangan liontinnya. Dan kemudian mencari liontin tersebut. Kemudian beberapa orang melihat nenek tersebut sedang mencari-cari liontin. Kemudian orang-orang tersebut mulai membantu mencari liontin nenek itu. Terus beberapa orang lagi bergabung, demikian terus menerus semkin banyak orang yang bergabung untuk mencari liontin tersebut. Sampai berjam-jam dan sampai lama sekali mereka mencari liontin tersebut dan tidak berhasil mendapatkan liontin itu. Sampai akhirnya setelah lama mereka mencari, seseorang bertanya kepada nenek tersebut. “Nek apakah nenek yakin liontin tersebut jatuh atau hilang di sini? Karena di sini tempatnya terang bederang. Dan kita sudah mencari dari tadi. Tetapi kita tidak menjumpai liontin itu”. Dan nenek tersebut mengatakan, “Tidak, liontin itu tidak pernah jatuh di siini. Saya kehilangan liontin itu di seberang jalan. Tetapi karena di sana tempatnya gelap, saya tidak mau mencari di tempat yang gelap itu”.

Demikian juga para entrepreneur. Seringkali kita melakukan atau membuka bisnis pertama kali di tempat yang nyaman atau yang kita perkirakan itu akan mendatangkan keuntungan jangka pendek. Seringkali kita tidak mau bersusah payah, seringkali para entrepreneur ingin melakukan suatu bisnis yang comfort atau nyaman menurut dia. Tetapi itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Dan pasti berujung dengan kegagalan. Oleh karena itu saya betul-betul mendukung anda untuk jangan pernah takut untuk melangkah ke sesuatu yang sulit yang anda pikir anda sulit untuk melakukannya karena anda yakin bahwa seorang ketika menemukan passionnya kemudian melakukan market research untuk meminimumkan kegagalannya pasti seorang itu bisa berhasil menjadi seorang entrepreneur.

Jangan takut untuk gagal karena kegagalan itu adalah pengalaman. Dan seorang entrepreneur tidak harus mengalami kegagalan. Kita bisa meminimumkan kegagalan dan me-manage kegagalan itu menjadi sebuah keberhasilan. Pak Ciputra mengatakan “Entrepreneur Sejati gagal 10 kali, namun bangkit 11 kali”.  Saya percaya bahawa anda yang pernah mengalami kegagalan di dalam bisnis akan menjadikan kegagalan sebagai pengalaman dan stepping stone untuk melangkah menuju keberhasilan di dalam bisnis anda berikutnya.

Saya berharap materi yang saya sharingkan pada hari ini bisa bermanfaat bagi seluruh UC Onliners. 

Saya Inge Gunawan.

Salam Entrepreneur..

Sumber : Entrepreneurship Ciputra Way (Batch 2)
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online

ATTITUDE TO FAILURE - Ciputra

Pada saat-saat seperti ini, saya merasa sangat bahagia. Sedang bertemu dengan Onliners dalam rangka pelatihan dan pendidikan entrepreneurship. Saudara-saudara sekalian, hari ini kita akan bicarakan satu topik yang sangat menarik. Yang diambil dari sajak kami tentang entrepreneur. Dalam sajak tersebut, dalam bait terakhir kami katakan, sepuluh kali gagal, sebelas kali bangkit.

Nah, ini merupakan sajak bahwa seorang entrepreneur jangan takut gagal. Jadi bisa gagal berkali-kali, tapi yang penting semangatnya, spiritnya tidak hilang. Jadi harus bangkit untuk berjuang. Kegagalan anggaplah seperti peribahasa katakan, sukses yang tertunda. Nah, selama kita masih punya semangat, kita supaya bangkit kembali. Kegagalan tersebut ada dua macam. Kegagalan pada waktu dia melakukan inovasi, kreativitas, dan kegagalan dalam bisnis sesungguhnya. Dalam inovasi, mencari ide-ide baru, menciptakan peluang yang baru, itu perlu dilakukan terus-menerus. Itu bukan hanya sepuluh kali gagal, jadi sampai ratusan kali gagal. Terutama kegagalan itu dimulai dari mindset kita.

Ada fase-fase kita lakuakan. Pertama dari mindset kita, kemudian kita bikin percobaan, dan kemudian pada keadaan sesungguhnya. Nah, pada mindset tersebut kita bisa melakukan kegagalan. Kita cari lagi ide-ide baru. Kita uji coba di lapangan dan sebagainya, dan sebagainya. Nanti kita menemukan beberapa yang kita anggap sudah bagus sekali, nah kita coba. Dan biasanya pengalaman saya, pada waktu sudah yakin, biasanya kita berhasil.

Mimpi besar dari orang yang suka bermimpi besar biasanya akan berhasil. Nah, dalam perusahaan, dalam perusahaan bisa juga gagal. Atau kemudian anda lakukan, ternyata anda pikir, wah ini tidak cocok. Hal itu dimulai pada waktu saya masih ITB Bandung. Saya membuka biro perencanaan. Konsultan perencanaan. Ternyata saya gaggal. Karena apa? Ternyata tidak sesuai dengan keinginan saya yang semula di sana saya harus mencari pekerjaan dari teman-teman, mencari peluang dari teman-teman, meminta pekerjaan dari teman-teman, meminta pekerjaan dari pemerintah, meminta pekerjaan daripada para pengusaha. Berikan saya pekerjaan, saya bisa mendesain. Ternyata sukarnya bukan main. Jadi, saya memulai sebagai konsultan perencanaan saya anggap gagal. Tapi saya cari solusi. Saya serahkan kepada teman-teman saya meneruskan usaha tersebut. Saya ingin menciptakan peluang. Menciptakan pekerjaan saya. Maka saya pada waktu saya tamat beralih menjadi developer. Developer, kita menciptakan project. Bukan project diberikan oleh orang lain. Kita yang mencari, kita menciptakan project tersebut.

Nah, jadi saya juga mengalami kegagalan. Kemudian sebagai developer pada tahun ’98. Krisis ekonomi Indonesia. Begitu besar sekali. Utang kami begitu banyak. Karena orang berlari, kami berlari di depan. Dengan cara berhutang. Itu khan kami terpaksa harus tutup hutang-hutang kami. Itu berarti gagal. Dalam bisnis, sudah berusaha bisnis, sudah tepat, tapi usahanya gagal. Tapi kami bangkit. Kami selesaikan hutang-hutang kami. Tidak satu pun pergi ke pengadilan. Kami negosiasi. Kami minta dicicil. Nah, karena kita punya maksud yang baik, dengan tujuan yang baik, kita tangani dengan integritas, dengan profesionalisme, dan entrepreneur, syukur kami berada seperti kami sekarang ini. Jadi, memilih bisnis dahulu sebagai konsultan kami gagal. Sesudah dalam property, menjalankan, kami gagal. Waktu kami di Jaya, beberapa perusahaan yang kami dirikan seperti Jaya Steel, Jaya Alumunium, itu ditutup. Karena ternyata kami tidak berhasil. Tapi dua, lebih dari sepuluh, bidang usaha gagal tetapi yang lain menjadi dasar fondasi daripada bisnis Pembangunan Jaya sekarang ini.

Jadi anda perhitungkan benar-benar. Jangan sampai anda kami katakan jangan takut gagal, tapi anda hanya melakukan serobot kiri, serobot kanan. Itu tidak. Perhitungkan matang-matang. Seperti Jaya Steel, kenapa kami gagal? Karena ternyata pekerjaan steel itu dengan mudah dikerjakan oleh orang lain pada waktu itu. Karena gedung-gedung belum complicated kaya’ sekarang ini. Jadi kompetisi kita adalah tukang-tukang di tepi jalan. Dengan cara yang sederhana kami ucapkan. Demikian juga alumunium. Begitu banyak orang dirikan alumunium. Dengan gedung-gedung sederhana. Jadi kami tutup. Tapi ada yang sisa di Pembangunan Jaya. Ada lima bidang usaha. Property dan konstruksi, dalam training, dalam rekreasi, dan infrastruktur yang jalan terus. Jadi hal itu tidak diteruskan. Yang manufacturing yang sederhana. Jadi sekali lagi, perhitungkan dengan matang-matang. Kalau anda sudah yakin, kerjakan. Kalau gagal, anda perbaiki. Dan anggap itulah sukses yang tertunda.

Peribahasa itu tepat sekali. Dan seharusnya anda jalankan usaha masih banyak rintangan-rintangan yang lain-lain. Pada waktu anda mencari inovasi yang baru, kreatif yang baru, cara sistem marketing yang baru, sistem produksi yang baru, desain gedung yang baru, sistem keuangan yang baru, itu bisa anda mengalami kegagalan. Tapi anda jangan putus asa. Anda harus mencari terus, terus saja mencari. Hanya dengan sesuatu yang baru, dengan inovasi yang baru, anda bisa menang dalam kompetisi anda. Anda bisa menang dalam perjalanan anda dalam rangka mencapai tujuan.

Kalau anda hanya mengerjakan bisnis as usual, anda akan berjalan di tempat. Anda menjadi perusahaan yang marginal. Ya, anda menjadi perusahaan yang marginal. Oleh karena itulah sekali lagi. Gagal berkali-kali, bangkit berkali-kali. Dan pasti akan berhasil. Terimakasih. Sampai ketemu lagi. Salam Entrepreneur. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.

Terimakasih..

Sumber : Entrepreneurship Ciputra Way (Batch 2)
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online

PENGANTAR ETIKA ENTREPRENEURSHIP - Johan Hasan

Para UC Onliners yang budiman. Salam Entrepreneur..
Saya Johan Hasan. Hari ini saya akan membagikan topik perkuliahan online, berjudul integritas moral dan bagaimana menerapkan kerangka berpikir etis dalam Entrepreneurship.
Para UC Onliners, Pak Ciputra pernah menggagas IPE yang sudah diterapkan dalam Grup Ciputra. IPE Adalah singkatan dari integritas, profesionalisme dan entrepreneurship. Pak Ciputra pernah menyatakan bahwa, “Integritas sengaja saya taruh sebagai yang pertama karena saya berpendapat bahwa dua nilai utama yang lain yaitu profesionalisme dan entrepreneurship harus ditopang oleh integritas”.

Mari kalau demikian kita akan coba memahami apa itu integritas moral? Saya akan mengajak para UC Onliners untuk melihat Mitos “The Ring of Gyges”, atau Cincin dari Gyges yang penah ditulis oleh Plato dalam bukunya Republic. Ceritanya begini:

Dahulu kala hidup seorang gembala bernama Gyges dari Libya yang sedang menggembalakan domba-dombanya. Ia saat itu menggembalakan domba-dombanya di sebuah pegunungan. Pada saat itu tidak lama kemudian terjadilah gempa bumi. Gempa itu mengakibatkan terbukalah sebuah goa di pegunungan. Gyges masuk ke dalam goa tersebut dan di dalamnya ia menemukan sebuah kuburan dengan kuda perunggu yang berisi jenazah seorang pria yang bertubuh besar dengan cincin emas di tangannya. Gyges pun kemudian mengantongi cincin itu. Belakangan ia mengetahui bahwa cincin itu memiliki kekuatan tersendiri. Kekuatan yang mengakibatkan sang pemakai tidak terlihat oleh orang lain. Gyges pun menggunakan kekuatan itu untuk membunuh raja Libya, menggantikannya, bahkan mengawini permaisurinya. Tidak ada bukti atau hukuman atas kejahatannya.

Cincin emas dengan kekuatan menghilang itu memang adalah sebuah mitos. Mitos ini pun memberikan ide bagi beberapa film Holywood seperti film Invisible Man, film Lord of The Ring, namun dalam realitas ternyata kekuatan cincin itu juga ada.Cincin itu di jaman sekarang dapat berupa kekuatan uang, sehingga kita dapat menghindari hukuman dengan membayar hakim, jaksa, atau para penegak hukum lainnya. Cincin Gyges itu juga dapat berupa kekuatan kekuatan politik, sehingga kita dapat menghindari diri dari tuduhan kesalahan yang seharusnya kita terima. Juga bisa kekuatan politik dan media masa sehingga hukum dan informasi dapat diputarbalikkan. Atau pun kekuatan teknologi sehingga kita dapat mengaburkan identitas kita atau tidak terdeteksi oleh sistem. Dan lain sebagainya.

Jika kesalahan kita tidak dapat terdeteksi oleh orang lain, atau kita dapat luput dari hukuman. Apakah kita akan tetap menjaga kelakuan kita bermoral? Apakah kita akan tetap bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral yang kita anut? Jika iya, kita akan tetap bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral yang kita anut, terlepas dilihat oleh orang lain atau tidak, terlepas dari ada hukuman atau tidak, inilah yang kita sebut integritas moral. Ujian integritas moral sesungguhnya diukur bagaimana kita jujur terhadap diri kita sendiri di kala tidak ada orang yang melihat, di kala kita bisa luput dari hukuman, apakah kita tetap setia menjalankan nilai-nilai moral yang kita anut?

Tentu bagi umat beragama integritas moral diletakkan juga pada kesadaran bahwa walau orang lain tidak tahu, ada Tuhan yang maha melihat. Pak Ciputra percaya bahwa integritas moral ini adalah bagian yang membentuk karakter seseorang. Suatu fondasi penting untuk berkembang dalam entrepreneurship. Dasar pembentukan karakter kita dan juga dasar bagi kita dapat bekerja sama dengan pihak lain. Sebuah komitmen yang bisa dipegang. Sebuah karakter yang dapat dipercaya oleh konsumen, oleh rekan kerja, oleh para rekan bisnis, oleh pemerintah, dan juga oleh masyarakat luas.

Para UC Onliners, selanjutnya mungkin Anda sekalian bertanya, “Kalau demikian bagaimana menentukan apakah suatu tindakan itu etis atau tidak? Bagaimana penerapannya dalam suatu tindakan?”. Di sini ada dua dasar dalam bertindak secara etis. Pertama, dasar utamanya adalah niat atau kehendak baik. Immanuel Kant, seorang filusuf Jerman pernah menyebutkan, Goodwill atau kehendak baik ini adalah sesuatu yang dapat disebut baik pada dirinya. Kita bisa melihat motivasi atau niat ini juga mendasari apakah suatu perbuatan ini baik atau tidak. Misalnya, kita tentu membedakan pembunuhan yang disengaja atau pembunuhan yang sebenarnya tidak disengaja sebagai sesuatu yang berbada bobotnya.

Kedua, dasar yang lain adalah manusia memiliki akal budi. Manusia yang hanya mengikuti dorongan spontan keinginannya tanpa merefleksikan atau mengambil jarak terhadap tindakannya, justru mengabaikkan kodratnya yaitu akal budi. Karena itu dasar lainnya adalah pertimbangan akal budi ini. Yang pertama kehendak baik itu menyentuh sisi emosional manusia, yang kedua adalah mempertimbangkan akal budi manusia.

Kalau demikian, jika kita sudah punya kehendak baik, apa pertimbangan akal budi yang dapat kita lakukan? Ketika harus mengambil keputusan etis dalam entrepreneurship? Di sini saya menawarkan empat langkah praktis yang sederhana. Petama, identifikasi masalah dengan cermat. Pahami pro dan kontranya. Jangan mengambil sebuah keputusan tanpa memahami persoalan lebih dahulu.

Kedua, saya sebut ujian Deontologis. Ujiannya ini adalah sederhana seperti ini. Apakah tindakan itu menghargai harkat manusia dan tidak menjadikan manusia sebagai alat semata? Apakah tindakan moral itu bersifat universal. Contoh tidakan bersifat moral ini dalam bahasa kaidah emas atau yang biasa disebut golden role, Lakukanlah yang Anda Ingin Orang Lain Lakukan ke Anda. Atau dalam bahasa negatifnya, atau dalam bahasa larangannya, Jangan Lakukan yang Anda Tidak Ingin Orang Lain Lakukan ke Anda atau Keluarga Anda. Misalnya sebagai contoh, ada seseorang yang ingin berternak lele. Mengembangkan bisnis dalam berternak lele. Untuk murahnya, orang tersebut ingin kasih makan lele itu bangkai tikus atau pun kotoran manusia. Pertanyaan sederhana mengikuti kaidah emas, apakah Anda atau saudara Anda, atau anak Anda mau dikasih makan lele tersebut sebelum dijual ke konsumen? Apakah Anda sendiri ingin mengkonsumsi produk Anda sendiri itu? Jika tidak, jangan lakukan ke orang lain.

Ingat, prinsip etis tidak sama dengan hukum. Umumnya hukum didasarkan pada prinsip moral. Tetapi terkadang bisa saja ada aturan moral yang tidak tercakup dalam hukum. Misalnya memberi makan kotoran manusia ke lele. Mungkin tidak tercakup ke hukum. Sebaliknya bisa saja tercipta hukum yang tidak universal. Misalnya ada larangan beribadah bagi umat agama tertentu, walau secara moral ini tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bisa saja suatu pemerintah tertentu melegalkan aturan yang melanggar prinsip moral tersebut. Pertimbangan etis seseorang harus didasarkan pertama-tama pada aspek, atau prinsip moral ini.

Yang ketiga, langkah ketiga saya sebut ujian utilitarianisme. Dalam hal ini ujian utilitarianisme hanya menghitung apa benefit atau keuntungan dan apa kerugian bagi berbagai pihak yang terkait? Biasanya disebut juga stakeholder approach. Bayangkan kita tidak hanya menghitung plus minus bagi perusahaan, tapi kita juga menghitung plus minus bagi konsumen kita, bagi rekan bisnis kita, termasuk juga bagi lingkungan kita. Saat ini pendekatan ini biasanya dikenal juga dengan 3 P, yaitu People, Planet, Profit.

Apa plus minus bagi people, bagi planet, dan apakah itu juga menghasilkan profit sehingga satu venture atau suatu perusahaan bisa berkelanjutan? Bisa menghidupi karyawannya. Kita perlu ingat juga pertimbangan ini tidak hanya dalam bentuk jangka pendek, tetapi juga jangka panjang. Apa yang disebut hindarilah miopia moral atau rabun jauh moral. Terkadang kita melihat hanya keuntungan sesaat, keuntungan jangaka pendek, tapi kita melupakan bahwa ini punya kerugian jangka panjang yang besar. Pak Ci selalu mengingatkan seorang entrepreneur itu meng-create nilai sehingga dapat mengubah kotoran menjadi emas. Entrepreneur itu menciptakan nilai, menciptakan benefit bagi konsumennya. Perusahaan layak mendapatkan profit karena menjawab pertanyaan konsumennya, atau menguntungkan konsumennya. Pekerja ingin bekerja di sebuah perusahaan karena mendapatkan benefit dari perusahaan tersebut, sebaliknya perusahaan pun mendapatkan benefit dari kehadiran pekerjanya.

Demikian secara sederhana filter utilitarianisme bisa membantu kita juga menghitung plus dan minus dalam suatu tindakan. Dengan tiga filter tadi, tiga step atau tiga langkah yang kita harus lakukan tadi. Maka kita melihat, apakah kira-kira suatu tindakan ini lolos dari filter tersebut? Mohon pertimbangan kita dapat kita hindari apa yang disebut dilema semu. Contoh dilema semu, saya ingin nilai bagus, tetapi tidak mau belajar.  Saya ingin cepat kaya, cepat mendapatkan profit, tapi merugikan orang lain. Kalau kita bisa menimbang bahwa suatu tindakan itu lolos dalam tiga langakah yang sudah kita lakukan tadi ternyata bisa memenuhi tiga langkah tersebut, lakukanlah. Itu sudah sesuai dengan prinsip etis yang kita harapkan. Jika tidak bagaimana? Maka di sini perlu kreativitas kita di dalam memecahkan suatu masalah. Pikirkanlah solusi kreatif yang tidak melanggar prinsip moral.

Batas-batas adalah sahabat terbaik seorang kreatif dan seorang kreatif walaupun sering berpikir thinking out of the box, tidak akan melanggar prinsip etis. Boleh kreatif, tetapi tidak untuk prinsip moral. Dalam prinsip moral tidak ada yang boleh dilanggar. Justru kreativitas membantu kita untuk memecahkan masalah tanpa harus melanggar prinsip moral. Di situlah tantangan seorang kreatif.

Bagi kami, melanggar moral, atau merugikan orang lain bukanlah prinsip, bukan sesuatu yang kreatif, tetapi mungkin akan disamakan seperti maling atau pun benalu. Kreativitas justru menuntut bagaimana penciptaan nilai yang menguntungkan bagi banyak pihak. Jadi dalam hal ini bukan zero sum game. Saya Untung Anda rugi, atau lingkungan dirugikan. Kita juga diingatkan untuk apa yang disebut tindakan preventif. Mari kita lakukan tindakan etis ini dari sejak awal. Dari kita sejak musa. Selesaikan sebuah masalah sebelum membasar. Mari membangun network dan berbuat baik bagi banyak orang. Dengan demikian kita sedang memupuk tindakan-tindakan etis kita menjadi satu habbit. Menjadi satu karakter kita sendiri. Saya percaya langkah dalam menjadi karakter bermoral dalam intergritas ini perlu terus dilakukan terus menerus. Hanya dengan komitmen yang terus menerus dan dengan latihan keras langkah berpikir etis dalam pengambilan keputusan, baik di dalam pelbagai studi kasus atau situasi riil, kita dapat membentuk karakter unggul. Setiap tindakan dan kerangka berpikir etis tersebut jika dilakukan terus menerus akan melahirkan kebiasaan dan kebiasaan akan melahirkan karakter bermoral dengan integritas tinggi. Anda bisa dikatakan orang yang dapat dipercaya jika Anda melakukan secara terus menerus menjadi suatu habbit dan akhirnya menjadi karakter Anda.

Demikian UC Onliners . Semoga topik ini bisa berguna bagi pada UC Onliners.

Saya Johan Hasan mengucapkan Salam Entrepreneur...

Sumber : Entrepreneurship Ciputra Way (Batch 2)
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online

ENTREPRENEURIAL LEADERSHIP, 7 SPIRITS OF ENTREPRENEUR - Tony Antonio

Salam Entrepreneur.
Apa kabar UC Onliners?
Perkenalkan nama saya Toni Antonio dari Universitas Ciputra. Pada hari ini kita akan bersama-sama membahas tentang tujuh spirit dari Entrepreneur. Seperti yang terpampang di bagian belakang, tujuh spirit dari entrepreneur ini menjadi jiwa, menjadi napas, menjadi mindset dari Entrepreneur. Beberapa dari bagian-bagian spirit ini. Pernah dibahas, sudah dibahas pada minggu-minggu yang terdahulu. Kita mengulang kembali ketujuh spirit ini kemudian dua di antara tujuh spirit itu akan kita bahas bersama-sama.
Mengapa perlu tujuh spirit? Karena pada dasarnya entrepreneur terdiri dari tiga bagian yaitu pemahaman, keterampilan, dan jiwa. Jadi ada knowledge, ada skill, ada mindset. Nah, tujuh mindset ini, tujuh spirit ini perlu kita miliki karena bukan hanya pengetahuan, bukan hanya keterampilan yang kita perlukan, tapi kita harus mempunyai jiwa yang mendorong kita. Kita pernah membahas tentang passion di salam entrepreneurship. Kita hari ini akan membahas tentang persistence. Kemudian kita juga akan membahas tentang independence, bagaimana kita bisa bekerja tidak bergantung pada orang lain. Kita juga pernah membahas pada minggu-minggu yang lalu tentang opportunity atau market sensitivity, kreativitas dan inovasi, berani mengambil resiko atau calculated risk taker, dan high etical standart atau etika seorang entrepreneur.

Dari ketujuh hal ini dua yang akan kita bahas pada hari ini. Sebelum saya membahas satu per satu, mungkin juga timbul  dari pemikiran bapak ibu sekalian teman-teman semua UC Onliners semua, mengapa kita mengambil tujuh hal ini? Sesungguhnya penelitian-penelitian yang mendalam sudah dilakukan terhadap para entrepreneur. Apa saja yang menjadi ciri-ciri para entrepreneur? Jiwa apa saja yang terdapat dalam seorang entrepreneur? Lalu kita mengadakan pengkajian, kita melakukan riset, kemudian kita membuat matriks dari sekian banyak jiwa, mindset, karakter, spirit entrepreneur, dan kita mengambil tujuh yang dipakai dalam pendidikan di Universitas Ciputra ini. Jadi, ketujuh spirit ini kita peroleh dari pengkajian-pengkajian, kemudian seluruhnya kita terapkan dalam pembelajaran di Universitas Ciputra ini. Baik bagi para mahasiswa, baik bagi para pasca sarjana, maupun dalam latihan-latihan yang kita lakukan di dalam masyarakat. Kami percaya bahwa jika kita mempunyai ketujuh spirit ini maka perjuangan kita untuk menjadi entrepreneur akan mencapai akhir yang baik.

UC Onliners, dari ketujuh hal tadi, kita akan bahas dua, yaitu persistence. Persistence itu artinya mampu tahan uji sampai mencapai garis akhir. Bagaimana kita bisa berjalan, bagaimana kita bisa tahan menghadapi cobaan, bagaimana kita bisa tahan menghadapi banyak rintangan-rintangan supaya kita bisa mencapai tujan akhir dari perjalanan entrepreneurship. Tahun ini di Universitas Ciputra kita mengambil tema Entrepreneurship Journey. Perjalanan seorang Entrepreneur. Karena sebetulnya ketika kita memulai melangakah, kita berharap kita bisa mencapai garis akhir itu. Nah, masalahnya banyak sekali hal-hal yang mengahalangi kita, banyak sekali hal-hal yang merintangi kita, banyak sekali hal-hal yang membuat kita jatuh dan menyerah. sebab itu saya mengusulkan bahwa untuk menjaga persistence ini, untuk menjaga kemampuan kita mencapai sampai akhir ini kita harus bisa mengelola diri kita sendiri. Kita harus belajar mengelola diri kita, managing self, kelemahan-kelemahan kita kita ketahui, kekuatan-kekuatan kita kita ketahui kalau kita memang lemah dalam sesuatu jangan kita coba-coba masuk ke dalam pencobaan seperti itu.

Jadi, self management. bagaimana kita mengatur diri kita. Di antara self management ini adalah pengaturan waktu. Yang menarik sekali bahwa setiap orang mempunyai kesegaran yang berbeda-beda. Atau prime time yang berbeda. Ada orang yang disebut orang malam yang hanya pada malam hari lah dia menjadi sangat segar dan sangat efisien. Ada orang yang disebut orang subuh, karena pada subuh, pada dini hari dia sangat fresh dan mampu belajar. Kalau kita belajar satu jam pada prime time kita, maka itu akan mempunyai hasil yang sama dengan beberapa jam pada waktu-watu yang lain. Jadi kita kenali prime time kita, kita coba atur time management kita, pengaturan waktu kita, dan yang ketiga, yang perlu kita aminkan, yang perlu kita taruh dalam hidup kita adalah goal setting. Kita mau mencapai sasaran apa. Sasaran itu kita tulis, sasaran itu kita coba raih supaya kita bisa mencapainya dengan baik itu. jadi, dengan menuliskan prime time kita, dengan memilih prime time kita, mengenal prime time kita, kemudian dengan mengatur waktu kita, maka kita bisa membuat diri kita persistence mencapai garis akhir dengan baik.

Hal yang ketiga, hal yang ketiga adalah tentang independence. Jadi sesudah passion, persistence, independence. Passion, persistence, independence. Independence adalah kemampuan kita untuk bekerja tidak bergantung kepada orang lain. Apa maksudnya? Jadi, kadang-kadang ketika kita mengerjakan tugas kita sangat bergantung kepada orang. Kita tidak bisa bekerja karena kita masih menunggu pekerjaan mereka. Nah ini sedapat mungkin kita hindari karena kalau bisa kita bekerja hanya bergantung kepada kita. Kecepatannya kita atur sendiri, tidak bisa bergantung kepada orang lain sehingga pekerjaan kita terhambat karena menunggu pekerjaan orang lain. Harus diatur. Task Management. Kemudian juga hal yang kedua adalah bagaimana independence dalam diri kita adalah kita bisa mengembangkan diri kita.

Di tayangan ini kita melihat ada beberapa hal tentang pola pendidikan abad 21. Pola pendidikan abad 21 dimana kita dituntut mau tidak mau harus belajar sendiri. Kita tidak bisa bergantung kepada sekolah, kita tidak bisa bergantung kepada training. Sekolah dan training akan memperlengkapi kita dengan sangat baik. Tetapi terlalu banyak hal yang harus kita pelajari sendiri. Sebab itu, usul saya, ketika kita memikirkan pengambangan diri, coba kita belajar. Pertama adalah bagaimana self study, bagaimana mengembangkan kemampuan kita untuk belajar. Bagaimana mengembangkan kemampuan kita belajar tidak bergantung pada sekolah, tidak bergantung pada lembaga-lembaga training, tapi tergantung kepada resource, sumber-sumber yang tersedia di masyarakat. Misalkan, internet. Misalkan, buku-buku. Misalkan, koran. Misalkan, tivi. Dan juga seperti kita semua sedang balajar ini UC Online ini menjadi sumber bagi kia untuk balajar sehingga kita bisa mengembangkan diri kita tidak bergantung pada orang lain.

Jadi, independence di dalam penyelesaian tugas, independence dalam pengembangan diri, independence dalam mengelola resource-resource yang ada di sekeliling kita akan membuat diri kita semakin kaya sehingga kita bisa mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi.

Kembali pada tayangan ini. Di sini ada tayangan pola pendidikan abad 21. Kalau kita melihat pola pendidikan abad 21 ini, maka pada bagian tengah disebut Core. Jadi pendidikan abad 21 memang masih memberikan inti, isi, core daripada keilmuan itu. Tetapi kalau kita lihat pada sisi kanan dan sisi kiri, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari. Pertama, pada pendidikan abad 21 sangat bergantung kepada ICT. Tanpa mengenal ICT, kemampuan mengelola internet, kemampuan mengelola komputer, kita akan sangat ketinggalan.  Jadi untuk mencapai pendidikan abad 21, agar pendidikan abad 21 maksimal, kita harus mengerti tentang komputer. Tentang ICT, tentang jaringan. Hal yang kedua ialah life skill.

Bagaimana kita mengembangkan life skill? Tadi kita sudah mengatakan bagaimana kita perlu mengembangkan belajar kita, kemampuan membaca kita, kemampuan menulis kita, kemampuan berkomunikasi. sejak kecil kita belajar membaca, tapi sampai dewasa pun kita harus terus menerus mengembangkan kemampuan membaca kita. Sejak kecil kita belajar menulis, tapi sampai dewasa pun kita harus terus menerus belajar menulis. Bagainama menulis yang baik, mengkomunikasikan ide-ide kita secara tertulis. Sejak kacil kita belajar berbicara, tapi sampai dewasa kita terus harus mengambangkan kemampuan kita berbicara. Bagaimana berbicara efektif, bagaimana berbicara tepat waktu, bagaimana berbicara memotivasi orang, bagaimana berbicara untuk menjual ide-ide kita.

Jadi, life skill itu harus kita kembangkan. Jadi sesudah core, ICT, life skill, maka yang keempat adalah kita harus melihat pada abad 21 ini berbeda dengan abad-abad sebelumnya. Kita mesti paham yang disebut 21 century content. Apa yang sedang terjadi dalam masyarakat? Tren-tren apa yang sedang terjadi di masyarakat? Perubahan-perubahan apa? Misalkan dalam teknologi, handphone berubah begitu cepat sehingga itu bisa kita pakai. Banyak hal bisa berubah. Kondisi masyarakat, budaya masyarakat, politik, kehidupan, perdagangan, dan lain-lain. Dan kita harus memahami. Tanpa memahami itu kita tidak bisa menjadi seorang yang independen. Kita perlu memahami konten dari ada ke-21 ini.

Dan yang terakhir kita juga sebagai seorang yang independen harus mengembangkan kemampuan berpikir. Pada ujungnya kemampuan berpikir kita lah yang akan kita uji. Pada ujungnya kemampuan berpikir kita menentukan langkah kita ke mana. Jadi, bapak ibu sekalian, persistence, dan independence, dua dari tujuh spirit yang harus kita kuasai disamping tujuh hal yang lainnya yaitu passion, persistence, independence, opportunity, kreatif, berani mngambil resiko, dan etika. Maka hari ini kita membahas tentang persistence dan independence.

Saran saya, secara terus menerus marilah kita raih, pahami, taruh dalah hidup kita ketujuh spirit itu. Lalu kita terapkan dalam kehidupan kita terutama dalam pencapaian kita untuk menjadi entrepreneur. Saya Toni Antonio, selamat berentrepreneurship spirit.

Salam Entrepreneur..

Sumber : Entrepreneurship Ciputra Way (Batch 2)
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online

ARTI SALAM ENTREPRENEUR - Ciputra

Salam Entrepreneur..

Saya bahagia untuk bertemu dengan anda semua tentang membicarakan apa arti Salam Entrepreneur. Anda lihat tiga jari ini. Tiga jari ini menggambarkan letter E. Anda lihat bentuk letter E. Nah, tiga jari itu masing-masing jari mempunyai arti.

Yang pertama, Envision. Kedua, Explore. Ketiga, Encounter. Envision, ketiga-tiga letter E dan bentuk letter E secara keseluruhan tiap jari. E, E, dan E. Nah, E yang pertama itu apa? Itu Envision. Vision, wawasan. Nah Entrepreneur itu harus mempunyai wawasan. Tanpa wawasan kita tidak akan mencapai hasil yang maksimum. Bahkan kita salah jalan. Seperti orang mau ke Medan naik plane ke Menado.  Jadi itu salah. Jadi kita mempunyai vision. Apalagi dalam keadaan ekonomi gejolak sekarang. Kalau orang sudah punya vision, dia tidak akan mengalami gejolak sebab dia tahu lebih dahulu. Jadi, Entrepreneurship adalah yang pertama punya wawasan, Envision.

Kedua Explore. Meneliti, menyelidiki, melakukan kreativitas, melakukan inovasi terus menerus. Nah, explore, explore, letter E, letter E. Ingat, Tanpa kita punya kreativitas, tanpa kita melakukan inovasi, tanpa kita terus menerus meneliti, mencari terus, maka tidak akan mencapai tujuan dan hasil Entrepreneurship.

Dan yang ketiga tentu Encounter. Encounter itu menemukan, mendapatkannya. Menemukan, menemukan cara yang tepat. Dan mempraktikannya. Sudah ketemu, masih belum cukup. Nah, dalam encounter itu dia menemukan dan mempraktikannya. Letter E. Sehingga kalau saya menemukan suatu sistem melalui inovasi tentang membangun satu project atau sesuatu hal saya ketemukan. Tetapi saya tidak melaksanakan. Itu masih belum cukup. Mesti sampai menjadi industri, menciptakan lapangan kerja, mendapatkan keuntungan manfaat membayar pajak. Nah, jadi saudara-saudara ini salam entrepreneur. Berarti wawasan, inovasi terus menerus, dan melaksanakan menjadi praktik, menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang sejahtera dan makmur.

Jadi ini Salam Entrepreneur..

Sumber : Entrepreneurship Ciputra Way (Batch 2)
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online