Kamis, 10 April 2014

FROM SUCCESS TO SIGNIFICANT - Sudhamek AWS

Salam entrepreneur UC Onlier. Seperti yang dikatakan oleh Schumpeter bahwa sebuah negara itu maju Schumpeter itu salah satu ekonom terkemuka. Dia mengatakan bahwa satu negara itu ekonominya akan maju, salah satunya tadi selain dilahirkannya entrepreneur-entrepreneur juga adalah yang kedua adalah dibangunnya sebuah sistem yang bisa mendorong terjadinya kreativitas dan inovasi dan yang ketiga tentunya adalah inovasi itu sendiri. Kalau ini sistemnya yang kedua yang ketiga ini  ini lebih kepada hasil konkrit dari inovasi itu sendiri. Inovasi ini adalah memang kunci utama bisnis apapun pada akhirnya untuk bisa bukan hanya survive tapi menjadi pemenang dalam jangka panjang memang di inovasi.
Inovasi itu sendiri bisa dari dalam bisa dari luar, bisa karena karya dari pemikiran seseorang bisa juga karena dia itu output dari bekerjanya sebuah sistem. Artinya untuk melalukan inovasi itu perlu juga dibangun sebuah sistem sehingga bisa terdorong lahirnya inovasi tadi. Makanya Schumpeter tadi mengatakan sebagaia poin yang kedua.
Nah kalau dari pengalaman saya sendiri, yang dikatakan inovasi itu kan ada yang merumuskan inovasi itu adalah formula dari invention plus commercialization, artinya ada temuan-temuan, tapi temuan itu bisa menjadi komersil. Anda menemukan sebuah produk anda bisa membikin sebuah katakanlah sebuah pesawat super sonic, tapi kalau tidak ada nilai komersilnya that is not a innovation, that is only invention dan bisnis yang diperlukan adalah innovation dan di dalam innovation ada invention, yang kita butuhkan bukan hanya invention. Nah kedua seperti itu.
Ketiga juga yang perlu diingat yang namanya inovasi itu prosesnya, itu dimulai dari ideation, dari ideation itulah keluar creativity, creativity itulah diwujudkan dengan outcome tertentu atau output tertentu di situlah akan terjadi innovation itu yang ketiga.
Yang keempat  inovation itu bisa dilihat, jangan dilihat maksud saya bahwa itu dalam artian produk inovation proses pun juga sebuah inovation, produk itu juga bisa sebuah innovation, proses pun itu juga sebuah innovation. Nah termasuk strategi dan strategi itu adalah innovation yang paling impactfull adalah innovation dalam sebuah strategi itu yang dampaknya paling besar dia, bahkan lebih besar dari produk innovation.
Ini yang kemudian apa namanya tinggal kita sikapi kalau perusahaan kita masih kecil ya kita belum bisa muluk-muluk melakukan inovasinya dalam membangun sistem segala macam, ya sudah di sinilah lalu balik lagi peranan dari pendiri tersebut memeras otaknya keluarlah ide-ide terobosan dan kemudian ide-ide itu dia wujudkan dari sebuah ideation menjadi sebuah inovation.
Misalnya pada waktu saya ya pertama kali masuk di bisnis minuman. Saya tahu bahwa kita sebagai new player di minuman. Pemain minuman sudah cukup banyak gitu, maka saya berpikirnya masuk dari satu pintu yang dimana istilahnya kalau menyerbu ke sarang musuh kita pilih pintu gerbang yang penjaga paling lemah dan sekali lagi penjagaan itu lemah atau tidak lemah itu relatif. Relatifitas itu terletak kepada kemudian balik lagi ini inovasi yang kita lakukan baik dalam strategi, produk, preses segala macam. Pada saat itu kemudian saya masuk minuman itu dengan memperkenalkan jenis minuman yang memang belum ada di pasar balik lagi ini differentation ini saya katakan. Yang disebut namanya jelly itu adalah masuk dalam kategori confectionary itu bukan minuman, itu di situ kemudian saya modifikasi sedemikian rupa jelly itu saya buat lebih encer sehingga dia bisa diklip menjadi jelly drink minuman tapi bukannya hanya sekedar bentuk minuman jelly drink tapi saya tambahkan ingredient tertentu yang memberikan nilai tambah bagi konsumen kita. Terus ada differentationnya itupun saya luncurkan dengan packaging yang sedemikian rupa yang di pasar saat itu belum ada. Singkat kata dari packaging, dari produknya  dari apa cara menjualnya dari komunikasinya semua kita bikin memang berbeda dan perbedaan itu sekali lagi di appreciate oleh konsumen dan itu yang kemudian membuat menjadi sebuah keberhasilan. Okky Jelly Drink itu kan riwayatnya seperti itu, jadi sekedar contoh saja
jadi seperti yang saya katakan tadi bahwa kalau bisnis itu kita lihat bukan  sebagai sebuah prasarana menghasilkan profit yang sebesar-besarnya. Itu dulu kalau kita kuliah kan diajari ekonomi terutama dalam pengantar ilmu ekonomi itu kan prinsip ekonomi itu adalah bagaimana dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya menghasilkan yang sebesar-besarnya. Itu saya bilang itu prinsipnya orang judi. Tentu maksudnya tidak seperti itu, sebetulnya kalau dijabarkan kan jadi dua prinsip kan dengan pengorbanan sekecil-kecilnya menghasilkan hasil yang tertentu, dengan pengorbanan tertentu menghasilkan hasil sebesar-besarnya. Itu baru lebih make sense ya kan. Nah, di situ memang lalu kemudian sebuah bisnis di situ dengan pengorbanan tertentu menghasilkan yang sebesar-besarnya, yang sekecil-kecilnya menghasilkan  yang tertentu di sini tentunya akan menghasilkan nilai tambah. Nilai tambah dalam bahasa seorang accounting disebut dengan profit, bahasanya accounting itu profit, kalau sebagai konsumen lain lagi dengan nilai tambah karena konsep value itu tergantung pakai konsepnya orang keuangan atau konsepnya seorang filosof atau konsepnya orang makro itu sudah beda pengertian nilai itu. Nah dalam konteks ini, profit itu memang diperlukan seperti apa yang saya katakan tapi itu untuk menumbuhkan usaha. Itulah pertumbuhan usaha yang paling sehat sumbernya uangnya itu dari mana bukan dari bank, dari hasil operation. Hasil operation itu baru akan ada uang lebih kalau ada profit.
Kalau uang yang dihasilkan sama dengan pada waktu dia beli bahan mentah dan untuk membayar gaji karyawan uangnya itu berputarnya ke situ terus nggak ada cash flow yang lebih. Free cash flow inilah yang diperlukan supaya bisa tumbuh lebih besar lagi, tapi sekali lagi seperti tadi yang saya katakan kalau bisnis itu hanya orientasinya kepada profit maka suatu ketika kita akan di tingkat economic animal ini yang mesti hati-hati.
Manusia kalau ditanya semua pasti kepengennya hidup untuk bahagia, nggak ada satu orangpun yang ditanya eh ada nggak kamu ada yang bercita-cita suatu ketika kamu kepengen semakin lama semakin menderita, saya percaya nggak ada satu manusia pun yang seperti itu. Dan unfortunately kebahagiaan itu bukan hanya monopoli orang kaya, kebahagiaan itu bukan terkait soal apa yang dimiliki, karena kebahagiaan itu sebetulnya rumusnya adalah total possesion dibagi desire itu happines. Apa yang dimiliki itu dibagi dengan apa yang diinginkan, kalau yang dimiliki itu tertentu keinginannya tambah lama tambah membesar sebuah bilangan dibagi dengan bilangan tambah besar hasilnya tambah kecil, kebahagiannya turun. Sebaliknya dia punya hanya punya secukupnya saja keinginannya sangat terkendali bahkan sangat minimal sekali sebuah bilangan tertentu dibagi dengan bilangan semakin kecil hasilnya semakin bertambah besar. Nah ini yang perlu disadari bahwa kita kepengen semuanya bahagia.
Bisnis itu bukan tujuan akhirnya untuk mencari profit, bisnis itu hanya sekedar sarana supaya mengisi kehidupan kita supaya lebih bermakna itu yang sering saya katakan from succes to significant, dari keberhasilan menuju ke bermaknaan dan kita baru sekali lagi mengatakan menuju kebermaknaan kalau memang bisnis yang kita bangun itu berfaedah bagi banyak orang balik lagi urip iki urup, jadi hidup itu memang harus berfaedah untuk banyak orang. Dan sekali saja anda memiliki motivasi yang mulia seperti itu energi akan mengalir dengan sendirinya anda tidak akan merasa lelah atau kelelahan didalam membangun dalam bisnis mengembangkan bisnis bukan karena keserakahan bukan karena lebih ingin mengejar profit bukan karena kepengen menjadi monopolistik, tapi karena ada tujuan-tujuan lain yang lebih mulia yang ingin dihasilkan. Kalau seperti itu dijamin orang itu pasti akan lebih bahagia, saya tidak mengatakan pasti bahagia, karena bahagia itu sesuatu yang  mudah diucapkan susah dicapai pasti lebih bahagia lebih tapi belum tentu bahagia tapi kan sudah mending tambah kaya tambah bahagia, bukan tambah kaya tambah menderita. Lebih celaka lagi tambah tidak punya tambah menderita. Seorang entrepreneur harus punya nilai-nilai luhur seperti itu, itu sekali lagi membedakan entrepreneur dengan seorang saudagar pedagang semata-mata.
Sampai jumpa UC Onliner..

Sumber: T100
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online

MEMBANGUN BISNIS GLOBAL - Ciputra

Hari ini pertanyaan bahwa brand lokal bisa bersaing dengan brand luar negeri. Anda harus menjadi leader di dalam negeri, baru Anda akan bisa bersaing dengan brand luar negeri. Ada orang memikir, “Saya ingin bersaing dengan produk luar negeri”, tapi di dalam negeri pun dia belum menjadi leader. Itu terlalu cepat. Kita menciptakan brand yang menjadi ingatan untuk menjadi ingatan untuk semua orang dalam negeri. Kami teringat pada kira-kira lima belas tahun yang lalu. Kami pergi ke vietnam untuk investasi. Dalam project di Vietnam kurang lebih dari 300 hektar lebih di dalam kota. Sekarang menjadi icon daripada kota Vietnam. Kami membawa, kenapa kita di Vietnam? Inilah key factor effect sebab entrepreneur cepat memikirkan sesuatu yang baru. Kita mau pikirkan yang baru, kita usul bahwa ada yang baru, yang masuk diakal. Dia mungkin ditolak karena pertama-tama mungkin ditolak.
Saya waktu itu datang sampai menemui presiden dari Vietnam, yaitu ketua partai komunis. Mereka mengundang kita untuk investasi di luar negeri. Saya katakan kepada presiden Vietnam, “Ini memasuki globalisasi, Anda perlu kota yang standarnya internasional. Jadi, saya sudah membangun Indonesia beberapa kota yang standarnya internasional. Saya memakai referensi keberhasilan saya di Indonesia, tambah saya mempunyai usul membangun kota internasional. Termasuk fasilitas yang internasional. Itulah menjadi keberhasilan saya membangun dan kota itu sukses sekali. Tiap orang datang ke kota ibu kota Vietnam yang Hanoi selalu harus melalui proyek kita. Pintu gerbang namanya juga Ciputra International.
Jadi, brand lokal ingin menang persaingan di internasional apabila dalam negerinya sudah mempunyai prestasi. Seperti Martha Tilaar tadi, kalau dia dalam negeri belum menjadi leader di sini, jangan coba-coba datang ke sana. Dalam negeri pun belum menjadi leader, jadi Anda harus berusaha untuk menjadi leader dalam negeri, menjadi brand image dalam negeri, menjadi ikon dalam negeri maka itu referensi yang paling baik.

Sumber:T100
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online

MENINGKATKAN PROFIT & KAPASITAS USAHA - Nur Agustinus

Salam entrepreneur UC Online. Kali ini saya akan membahas bagaimana cara mengembangkan usaha. Sebetulnya ada tiga hal yang bisa mendongkrak usaha kita. Yaitu, pertama adalah network yang kita miliki atau siapa saja yang kita kenal. Jaringan yang kita punya. Yang kedua adalah masalah uang. Modal. Dengan uang tentunya uang yang untuk investasi akan bisa menghasilkan sebuah kontribusi buat usaha kita. Yang ketiga adalah penggunaan teknologi. Teknologi ini bisa mempermudah pekerjaan, bisa menambah produktivitas dan sebagainya. Namun sebagai pengusaha tentunya kita ingin usaha kita itu mengalami keuntungan. Bagaimana cara kita meningkatkan keuntungan?
Pada dasarnya ada tiga hal atau tiga cara untuk meningkatkan keuntungan yaitu yang pertama adalah menaikkan harga. Yang kedua adalah kita harus melakukan penghematan atau efisiensi. Dan yang ketiga adalah kita menjual lebih banyak. Nah, tiga cara ini sebetulnya berawal dari rumus bahwa profit adalah pendapatan dikurangi biaya. Ketika pendapatan kita lebih besar daripada biaya maka kita akan mendapatkan keuntungan. Jadi, kita harus bisa memperbesar beda antara pendapatan dengan biaya tersebut. Ini adalah cara meningkatkan profit karena perusahaan yang mendapatkan profit adalah perusahaan yang mempunyai peluang untuk bertumbuh.
Kalau kita sudah tahu bahwa bagaimana cara kita untuk meningkatkan profit atau laba usaha kita, maka sebenarnya ada tiga cara untuk mengembangkan usaha yang perlu diperhatikan. Pertama adalah cobalah untuk meningkatkan atau memperbanyak jumlah pelanggan Anda. Pelanggan kita misalnya anggap saja 100 orang. Cobalah Anda lakukan strategi atau cara untuk membuat pelanggan Anda semakin banyak. Misalnya menjadi 200, menjadi 300, dan seterusnya. Berlipat-lipat lebih banyak. Yang kedua, kalau pelanggan Anda misalnya ada seratus, cobalah tingkatkan frekuensi pembeliannya. Misalnya, buatlah pembelian yang dilakukan oleh pelanggan Anda itu menjadi lebih sering. Misalnya, kalau dulunya satu pelanggan itu membelinya seminggu sekali, buatlah dia bisa membeli dalam seminggu dua kali atau lebih sering. Dan yang ketiga, tingkatkan jumlah unit barang yang dijual. Artinya, buat pelanggan bisa beli lebih banyak atau perbanyak jenis barang yang Anda jual. Jadi, kalau misalnya Anda sebelumnya menjual hanya beberapa item barang, lebih banyaklah supaya pembelu atau pelanggan Anda mempunyai pilihan-pilihan untuk membelanjakan lebih banyak lagi. Tentunya ini tidak lepas dari sumber daya yang kita miliki sebagai pemilik usaha.
Setelah kita mengetahui tiga hal untuk mengembangkan usaha tadi, ada lima hal yang perlu untuk dilakukan. Pertama adalah, perhatikan masalah kapasitas usaha yang Anda miliki. Kapasitas usaha ini contohnya dalah sebagai berikut. Misalnya ada seorang pengusaha mikro, dia usahanya berjualan nasi bungkus dengan motor, dengan gerobaknya. Dimana satu gerobaknya itu dia hanya bisa membawa maksimum lima puluh atau anggaplah seratus nasi bungkus. Maka kalaupun misalnya ada permintaan dua ratus, dua nggak akan bisa. Karena apa? Karena kapasitasnya memang sudah begitu. Untuk bisa membuat atau mengambangkan usahanya, dia harus mengubah kapasitas usahanya itu. Seringkali kapasitas usaha juga tergantung dari seberapa besar tempat yang kita miliki. Misalnya kita punya rumah makan, rumah makan itu luasnya sekian meter persegi. Kemudian itu hanya bisa ditempati oleh beberapa orang sekaligus. Kadang-kadang ketika begitu banyak permintaan, akhirnya kita tidak bisa menampungnya dengan baik. Atau juga misalnya saja kita berusaha di bidang sablon. Kapasitas sablon kita misalnya satu hari sekian banyak kos misalnya. Begitu melebihi kapasitas mungkin akan menjadi persoalan. Kalau kita mau mengembangkan usaha, memang kapasitas usaha ini harus ditingkatkan juga.
Yang berikutnya adalah cobalah untuk membuat orang lebih banyak membeli. Jadi artinya kita membuat daya tarik itu makin besar sehingga pelanggan itu makin banyak yang datang kepada kita. Ini ada banyak cara. Promosi dan sebagainya. Lalu cobalah untuk melakukan upgrade pelanggan yang sudah ada. Yang biasanya beli lima puluh cobalah untuk membeli seratus kemudian yang beli seminggu sekali buatlah menjadi seminggu dua kali. Lalu yang paling penting, ketika proses pengembangan usaha ini ada hal yang tidak boleh dilupakan yaitu masalah internal usaha. Yaitu Anda perlu meningkatkan moral kerja internal. Artinya, staff atau pegawai Anda termotivasi dan terinspirasi sebab mereka tanpa mengerti apa untungnya buat mereka dengan besarnya atau makin besarnya usaha ini, mereka juga akan tidak begitu termotivasi. Ini perlu bersama-sama. Jadi, di sini unsur leadership atau kepemimpinan sangat penting. Lalu, buat juga pilihan usaha yang lebih baik. Lebih banyak juga. Sebab produk yang lain atau jika perlu seperti kata pak Ciputra, lakukan diversifikasi usaha. Buka usaha baru. Jadi semuanya adalah hal-hal yang perlu dilakukan untuk membangun usaha, mengembangkan usaha supaya menjadi lebih besar.
Saya Nur Agustinus. Salam entrepreneur..

Sumber: T100
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneursip Online

MENGIDENTIFIKASI PELUANG DARI PELANGGAN UNTUK BERTUMBUH (Bag. 4) - Antonius Tanan

Salam Entrepreneur UC Onliner..
Sekarang kita tiba pada cerita babak akhir dari Joko ini. Setelah joko bisa mengidentifikasi peluang, mengembangkan gagsan yang kreatif dan inovatif, sekarang tiba saatnya dia memverifikasi semua yang sudah dia persiapkan supaya resikonya bisa dikendalikan. Dan di bagian ini juga kita akan bersama-sama akan mendengar tentang kesimpulan dari semua yang sudah kita bahas bersama-sama. Masih ada satu lagi, bagaimana dia mengelola resikonya? Untuk itu ada rumus sederhananya. Namanya VIP supaya kita gampang menghafalnya. Namun, V nya berarti Verifikasi atau menguji dan memastikan. I-nya apa? Ikut sertakan pihak lain untuk kita bisa mengurangi resiko. P-nya apa? Pemesanan dan pembayaran di muka.
Saya akan memberikan contoh. Untuk verifikasi, menguji dan memastikan, maka Joko melakukan berbagai hal ini. Joko membawa gagasan-gagasan kreatifnya kepada komunitas Pansel. Tadi contohnya menu-menu baru yang Jombo, yang langsing, the pansel, kopi pansel, dia buat contohnya. Lalu dia ajak teman-teman komunitas Pansel untuk mencoba, memberikan kritik dan saran lagi. Ah, ternyata mereka menyambut. Jangan lupa UC Onliner, bukankah Joko mengembangkan gagasan itu memang aslinya berasal dari masalah dan saran komunitas ini? Tidak heran ketika pototypingnya dibuat, itu mirip dengan harapannya komunitas Pansel ini. Bahkan komunitas Pansel ini minta saat ulang tahun komunitas dibuatkan menu-menu yang lebih khusus lagi. Namun, Joko kurang puas, dia ingin lebih memastikan dia ingin kurangi resiko kegagalannya sehingga kemudian dia survey, dia cari di Jakarta ini warung Pansel yang paling terkenal dimana? Diadatang ke sana, survey mengamati. Bukanitu saja, istrinya belajar dari seorang ibu ahli masak tentang menu Pansel supaya dia bisa yakin bahwa menu yang dia masak betul-betul cocok dengan lidahnya kelompok masyarakat dari Pantai selatan ini.
Nah itulah berbagai cara yang kita bisa lakukan sebelum kita sungguh-sungguh melakukan bisnisnya, kita melakukan verifikasi dulu. Verifikasi tujuannya menguji dan memastikan apa yang sudah kita siapkan nanti di lapangan bisa terjadi sesuai cita-cita dan harapan kita. Itu yang V.
Sekarang bagaimana yang I? Salah satu cara untuk mengurangi resiko adalah mengikutsertakan pihak lain. Jadi, kita berbagi resiko. Joko ingin mengurangi resiko memiliki persediaan barang. Caranya bagaimana? Dia mengajak teman-teman dari komunitas Pansel untuk ikut menjadi pemasok untuk makanan-makanan camilan. Mengundang mereka untuk menjadi pemasok sehingga berbagi resiko, termasuk berbagi untung. Dengan cara itu bukan saja Joko mengurangi resiko, tapi dia juga membangun pertemanan yang lebih erat. Teman-teman dari komunitas Pansel ini bukan sekedar menjadi pelanggan dia, tapi juga punya kesempatan menjadi pemasok dia. Dengan cara cerdik, dia mengurangi resiko, dan juga dia membangun relasi dengan pelanggannya.
P apa? P adalah pemesanan dan pembayaran di muka. Bagaimana caranya untuk menciptkana ini? Joko kemudian berpikir untuk menawarkan diskon 10 % untuk pelanggan yang mau menyimpan deposit 100 ribu. Jadi pelanggan tidak perlu pusing setiap pesan harus bayar, dia sudah bayar deposit, tinggal dicatat, nanti setiap kali dia belanja depositnya berkurang, setiap akhir minggu dibuat perhitungan. Apakah ini suatu hal yang baik untuk Joko?  Tentu. Joko memastikan pelanggan sementara itu dia juga memastikan barang-barangnya ada yang beli. Bukan kah ketika orang menyimpan deposit, dia cenderung datang ke tempat itu?
UC Onliner sekarang kita tiba pada bagian daripada kesimpulan. Di depan saya berbagai tentang satu filosofi dari Pak Ciputra tentang pelanggan yang mengatakan, Pelanggan adalah sumber informasi, sumber inspirasi, dan sumber inovasi. Kemudian kita berpikir bagaimana mewujudkan ini di lapangan sebagai seorang entrepreneur? Untuk itu, dari panduan utama ini kita bersama-sama belajar bagaimana panduan utama ini kita padukan dengan tiga kata kunci daripada entrepreneruship yaitu peluang, inovasi, dan resiko. Bagaimana kita bisa mengidentifikasi peluang dari pelanggan, berinovasi dari pelanggan dan untuk pelanggan, dan bagaimana kita mengurangi resiko bersama dengan pelanggan.
Untuk memudahkan, kami berbagi kepada Anda beberapa alat bantu. Bagaimana caranya untuk menemukan peluang dari masalah? Yaitu gunakan ABBA. Amati pelanggan, Bertanya pada pelanggan, Berdiskusi dengan pelanggan, kemudian Analisa. Yang kedua, bagaimana mengembangkan gagasan-gagasan yang kreatif supaya gagasannya banyak? A good idea comes from a lot of idea. Gunakan alat bantu TaKuTirRuKo. Apa saja yang bisa ditambahkan? Apa saja yang bisa dikurangkan? Apa yang bisa kita tiru dari orang lain? Apa yang kita bisa ubah? Dan kemudian, apa yang kita bisa kombinasikan dari berbagai hal itu? Itu alat bantunya. Dan yang ketiga, bagaimana cara mengelola resiko supaya resikonya mengecil dan jika perlu hilang. Alat banyunya namanya VIP. V-nya verifikasi, Inya-Ikut sertakan pihak lain, P-nya pemesanan lebih dahulu atau pembayaran lebih dahulu.
UC Onliner, harapan kami Anda semua bersama-sama sudah belajar tetang bagaimana caranya mendaratkan kalimat pak Ciputra yang mengatakan pelanggan adalah sumber informasi, inspirasi dan inovasi. Bagaimana dari pelanggan kita memperoleh informasi dan kemudian menjadi inspirasi, dan kemudian kita berinovasi. Dan dengan cara itu kita menumbuhkan usaha kita. Kami berharap Anda terus mengembangkan usaha Anda, dan Anda menajdi bagian dari perusahaan-perusahaan di Indonesia yang menciptakan lapangan kerja dan ikut serta memakmurkan negeri. Terimakasih atas perhatian Anda. Salam Entrepreneur..

Sumber: T100
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online

RISK MANAGEMENT (Bag. 3) - Teddy Saputra

Hai. Salam entrepreneur UC onliner. Sekarang kita masuk ke bagian ketiga ya? Pengenalan manajemen resiko. Saya akan memberikan suatu teori mengenai proses manajemen resiko. Pada bagian-bagian sebelumnya, pada bagian pertama kita sudah membahas tentang apa sih itu resiko, sedangkan pada bagian kedua kita sudah membahas jenis-jenis resiko yang kemudian kita tekankan pada resiko-resiko yang akan terjadi pada bisnis Anda yang mengancam bisnis Anda yaitu resiko murni dan resiko spekulatif.
Nah sekarang resiko-resiko tersebut sebagaimana saya sudah jelaskan sebelumnya sebagai entrepreneur Anda tidak bisa, Anda tidak bisa menghindari resiko tersebut. Itu bukan suatu tindakan entrepreneur bukan? Nah justru Anda harus mengahadapi resiko tersebut tetapi mengahadapi resiko tersebut tanpa senjata, tanpa pengetahuan, tanpa persiapan, itu juga konyol karena Anda seperti berperang tanpa senjata. Itu suatu hal yang konyol bukan? Itu juga bukan tindakan entrepreneur. Apa yang harus Anda lakukan sebagai seorang entrepreneur? Sebagai seorang entrepreneur sebagaimana Pak Ci katakan kepada kita semua “Entrepreneur adalah calculated risk taker”. Risk taker, Anda harus berani mengambil resiko tetapi dengan mengkalkulasi resiko tersebut, menghadapinya dan mengubah resiko tersebut menjadi peluang bagi Anda.
Pada bagian ketiga ini kita akan membahas tentang proses bagaimana manajemen resiko itu berjalan. Proses manajemen resiko. Pada dasarnya manajemen resiko dilakukan melalui proses-proses berikut ini. Satu, identifikasi resiko. Anda harus mampu untuk mengidentifikasikan resiko. Kedua, setelah resiko teridentifikasi, Anda harus mampu mengevaluasi dan mengukur resiko tersebut. Dan kemudian yang terakhir adalah mengelola resiko tersebut. Tiga tahap dalam proses resiko. Pertama, Anda harus mampu untuk mengidentifikasikan resiko. “Mas, ini resiko jenis apa?”. Seperti yang tadi saya bilang, resiko murni kah? Resiko spekulatif kah? Atau resiko jenis apa ini yang Anda hadapi, yang Anda akan hadapi. Kedua, setelah Anda mengidentifikasikan resiko tersebut, Anda harus mengevaluasi dan mengukur kemungkinan resiko itu terjadi pada bisnis Anda. Aku bilang Anda melakukan suatu tindakan untuk meningkatkan perusahaan Anda. Anda akan menghadapi resiko. Tapi sebelumnya Anda mengevaluasi dan mengukur resiko-resiko tersebut. Dan terakhir Anda harus mampu untuk mengelola resiko yang akan Anda hadapi itu.
Identifikasi resiko, proses pertama. Ada banyak teknik untuk mengeidentifikasikan resiko ini. Contohnya, menganalisis sequence terjadinya resiko tersebut. Saya kasih contoh yang mudah ya? Misalnya, api terhadap kompor, kemungkinan terjadi resiko kebakaran. Api pada kompor mempunyai rsiko yaitu kebakaran. Kompor merupakan exposuere dari resiko tersebut dan kebakaran adalah peril dari resiko. Paham ya? Ini cara paling mudah menganalisis terjadinya resiko. Mengidentifikasi resiko Anda menggunakannya dengan menganalisis sequence terjadinya resiko tersebut. Satu, api Anda nyalakan diatas kompor. Anda akan berhadapan dengan resiko kebakaran. Seperti itu. Kedua, melihat karakteristik dari suatu bisnis. Contohnya, misalkan bank. Bank akan mengahadapi resiko kredit karena salah satu fungsi bank adalah menyalurkan modal ke masyarakan bukan? Sebagai penyalur masyarakat, bank harus mengerti bahwa pembayaran hutang kemungkinan tidak lancar karena itu bank harus mengerti sebagai bisnis bank, sebagai mengelola suatu bank, mereka akan menghadapi resiko kredit. Begitu juga terhadap perusahaan Anda. Perusahaan Anda yang memberikan piutang kepada toko-toko yang Anda harapkan untuk menjual produk Anda. Atau Anda yang sekarang menjalani perusahaan ritel di desa-desa dimana pembeli-pembeli Anda datang ke toko Anda kemudian berhutang, Anda harus mengerti bahwa pada saat Anda memberikan piutang kepada orang lain, maka Anda akan mengahadapi resiko yang disebut sebagai resiko kredit. Contohnya yang keempat adalah bank yang aktif memperdagangkan sekuritas berupa sahan dan sebagainya akan mengahadapi resiko pasar dimana Anda mengetahui bahwa saham berfluktuasi. Hari ini seribu, besok bisa seripu seratus dan sebagainya.
Yang kedua adalah evaluasi dan pengukuran resiko. Setelah Anda mampu mengidentifikasikan resiko bahwa bisnis Anda akan menghadapi resiko ini. Resiko murni atau menghadapai resiko spekulatif. Misalkan Anda mempunyai usaha pabrik, Anda mempunyai bangunan, Anda harus mengerti  mengidentifikasikan bahwa suatu saat mungkin bangunan Anda akan terbakar. Anda akan mempunyai resiko murni. Setelah diidetifikasikan, Anda harus mampu untuk mengevaluasi dan mengukur resiko tersebut. Bagaimana itu mengevaluasi dan mengukur resiko? Satu, Anda harus mempelajari karakteristik dari resiko yang Anda identifikasikan tersebut, kemudian Anda melakukan pengukuran terhadap resiko. Pengukuran mengukur, mengembangkan ukuran besar kecilnya resiko tersebut. Anda mempunyai usaha pabrik, Anda mempunyai bangunan. Anda harus lihat bagaimana kemungkinan terjadinya resiko bangunan saya akan terbakar. Anda lihat misalkan di samping-samping Anda ada tumbuhan pohon-pohon ilalang, kudian di sebelahnya lagi ada rumah-rumah masyarakat. Anda harus bisa memperhitungkan. Jangan-jangan nanti dari rumah masyarakat ini melempar api ke ilalang, kemudian tumbuhan ilalang tersebut akan membakar bangunan Anda. Contohnya itu. Bagaimana besarnya kemungkinan itu terjadi, itu dinamakan evaluasi dan pengukuran resiko.
Kemudian yang ketiga, mengukur dampak resiko tersebut terhadap organisasi. Bagaimana apabila terjadi bangunan tersebut terbakar? Apa dampaknya terhadap organisasi bisnis Anda keseluruhan? Bagaimana Anda mengukurnya? Apabila bangunana Anda terbakar, di dalamnya ada banyak persediaan Anda, bagaimana dampaknya pada organisasi? Begitu ya? Anda harus mampu mengevaluasi dan mengukur resiko tersebut.
Kemudian yang keempat adalah evaluasi dan pengukuran resiko bisa digunakan untuk melakukan prioritas resiko. Selanjutnya adalah contoh-contoh teknik bagaimana Anda mengukur resiko tersebut. Dengan probabilitas. Dengan value at risk atau kita kenal sebagai VAR. Kemudian bisa juga dengan metode durasi. Dengan matriks severity atau frekuensi. Bisa dingan standar defiasi secara statistik. Dengan Credit Metrics. Dengan tabel kematian.
Setelah Anda mengukur, setelah Anda mengidentifikasi, kemudian Anda mengukur resiko, yang terakhir Anda hasrus memutuskan bagaimana mengelalo resiko tersebut. Ada beberapa cara untuk mengelola resiko tersebut. Yaitu ada enam cara. Satu, Anda menghindari resiko tersebut. Dua, resiko tersebut Anda tahan. Atau menahan. Retention terhadap resiko tersebut. Ketiga, diversifikasi. Anda mendiversifikasi resiko tersebut. Yang keempat, Anda mentransfer resiko tersebut. Yang kelima, Anda mengendalikan resiko tersebut atau risk control. Yang keenam adalah pendanaan resiko. Anda sudah mempertimbangkan bagaimana apabila resiko tersebut terjadi, Anda mempersiapkan pendanaan bagaimana agar resiko tersebut tidak mengefek kepada organisasi bisnis Anda secara keseluruhan.
Kita bahas satu-satu. Bagaimana Anda menghindari resiko? Ini adalah cara yang paling mudah saudara-saudara. Bagaimana Anda lari terhadap resiko tersebut. Cari aman bahasanya. Anda tahu bahwa apa bila Anda membuka bisnis ini bangunan Anda kemungkinan terbakar, ya jangan membuka bisnis itu. Itu cara satu bagaimana Anda menghindari bisnis. Anda mengetahui resiko, Anda mengidentifikasi, “Ah, nanti terjadi kemungkinan usaha saya bisa kebakar ini. Kemungkinan usaha saya nggak laku”. Apabila Anda bikin usaha contohnya membuka warung, toko Anda nanti resiko nggak? Resiko. Resikonya apa? Nanti tokonya kebakaran atau kedua nanti jangan-jangan tidak laku. Nah, bagaimana Anda memanajemen resiko apabila Anda menghindari resiko tersebut ya jangan membuka bisnis itu. Nggak usah buka toko. Itu bukan tindakan entrepreneur seperti yang saya katakan tadi.
Yang kedua adalah menahan resiko tersebut. Seorang yang menghindari kendaraan dengan tidak mengasuransikan mobil misalnya. Dia tahu bahwa dengan mengendarai kendaraan dia akan mengahadapi resiko mobilnya ketabrak. Terjadinya kecelakaan. Dia nggak usah mengada, “Ya udah lah. Jalani aja”. Nah, itu contohnya metode menahan resiko atau retention.
Yang ketiga adalah diversifikasi. Ini salah satu cara yang baik. Misalkan Anda membuka usaha toko es. Anda menjual es. Menjual es pada musim panas laku esnya. Banyak yang beli tentunya. Tapi apa yang terjadi apabila musim hujan ini? Apabila musim hujan kemungkinan orang yang makan es akan berkurang. Dingin. Bagaimana caranya agar resiko pada musim hujan ini tidak jadi? Jangan-jangan pada musim hujan Anda tidak laku, Anda menghadapi resiko rugi di situ. Bagaimana nih caranya? Dengan metode diversifikasi, berarti Anda membuka suatu usaha lagi. Contohnya dalah pada musim huajn Anda membuka usaha penyewaan payung. Misalnya kayak gitu. Jadi pada saat musim panas Anda menjual es, pada saat musim hujan, musim dingin, es Anda tidak laku, usaha Anda di sini menyewakan payung laku. Mendiversifikasikan resiko seperti itu. Jadi Anda bisa mempunyai dua bisnis, membagi, mendiversifikasikan resiko terhadap dua bisnis tersebut.
Yang keempat adalah transfer resiko. Anda mentransfer resiko. Contohnya adalah asuransi. Misalkan kembali lagi apabila Anda memiliki usaha ritel. Anda memiliki bangunan untuk toko. Anda tahu mengidentifikasikan bahwa bangunan toko saya bisa terbakar. Dengan metode mentrasfer resiko, Anda membeli asuransi kebakaran. Contohnya kayak gitu. Jadi waktu bangunan Anda terbakar, Anda bisa klaim asuransi, asuransi akan membayar kerugian atas bangunan Anda yang terbakar. Ini namanya mentransfer resiko ke perusahaan asuransi.
Kemudian mengendalikan resiko atau risk control. Apa itu pengendalian resiko? Pengendalian resiko dilakukan untuk mencegah atau menurunkan probabilitas terjadinya resiko. Menyiapkan payung sebelum hujan. Misalkan contohnya kayak gitu ya? Bila Anda tahu, bila Anda sudah mengidentifikasikan resiko, apabila Anda mempunyai bangunan toko, Anda akan mengidentifikasikan bahwa ini jangan-jangan suatu hari bangunan saya akan terbakar. Contonya seperti itu. Anda cegah misalkan contohnya Anda menyiapkan alarm asap atau Anda menyiapkan tabung-tabung anti kebakaran. Suatu saat jika bangunan tersebut terbakar, Anda bisa cepat bertindak kemudian menggunakan alat-alat pemadam kebakaran tersebut. Itu contohnya mengendalikan resiko. Ada satu upaya apabila resiko itu terjadi maka Anda mengupayakan sesuatu agar resiko itu tidak menghantam Anda.
Yang terakhir adalah pendanaan resiko. Pendanaan resiko Adalah suatu proses bagaimana mendanai kerugian yang terjadi jika resiko tersebut muncul. Misalkan resiko Anda misalkan kembali lagi ke kasus tadi. Anda mempunyai toko, Anda sudah mengidentifikasikan bahwa toko Anda ini punya toko adalah eksposur bangunan ini adalah eksposur terjadinya peril kebakaran. Toko Anda mempunyai resiko kebakaran. Pendanaan resiko, berarti Anda berpikir, “Wah, kalau sampai kebakaran bagaimana ini?”. Bagaimana Anda menghadapai resiko tersebut? Satu,  Anda bisa mengasuransikan. Misalnya contohnya gitu. Atau bisa dua, menggunakan dana cadangan. Jadi ada dari setiap penjualan produk Anda, Anda menyisihkan beberapa ratus atau beberapa rupian yang Anda tabungkan, yang Anda simpan sebagi dana cadangan apabila terjadi bangunan toko Anda terbakar, Anda mempunyai dana untuk membiayai bangunan-bangunan yang baru. Contohnya itu. Tentu akan lebih baik jika Anda mengasuransikannya ketimbang Anda mengaturnya sendiri seperti itu.
Selesailah bagian ketiga dalam manajemen resiko. Saya berharap semoga apa yang dapat saya sampaikan ini membuka wawasan Anda terhadap manajemen resiko dan mendorong Anda untuk berani mengambil resiko tetapi tidak konyol. Tidak konyol dalam arti mengahadapi resiko tersebut tanpa persiapan apa-apa. Silakan ambil bahan-bahan yang telah saya sampaikan kepada Anda. Sekian kuliah pengantar resiko manajemen. Saya teddy dari UCEO dan salam entrepreneur.

Sumber: T100
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online

RISK MANAGEMENT (Bag. 2) - Teddy Saputra

Salam entrepreneur..
Halo UC Onliner, kita sudah membahas pada bagian pertama adalah mengenai resiko. Pada bagian pertama saya sudah menjelaskan apa itu sebuah resiko, bagaimana resiko itu selalu ada dalam kehidupan kita, dalam kehidupan keseharian kita, apa lagi dalam bisnis kita. Resiko itu selalu ada. Sebagai entreprenur tindakan menghindari resiko bukan pilihan. Atau mengahadapi resiko tersebut tanpa persiapan, itu lebih konyol lagi. Bagaimana anda sebagi entrepreneur menghadapi resiko ini? Anda harus mengenali resiko tersebut agar Anda dapat memeperhitungkan resiko tersebut untuk kemudian Anda menghadapai resiko tersebut. Dan hasilnya Anda harus mampu untuk mengubah resiko yang Anda hadapi menjadi sebuh peluang bisnis.
Pada bagian kedua ini, saya akan memberikan materi mengenai jenis-jenis resiko sehingga kita dapat mengenali resiko ini lebih sistematis lagi. Ada enam jenis resiko. Satu, resiko murni. Dua, resiko spekulatif. Tiga, resiko subjektif. Empat, resiko objektif. Lima, resiko statis. Dan enam, resiko dinamis. Kita bahas satu-satu.
Resiko murni. Apa itu yang disebut resiko murni? Resiko murni adalah suatu resiko dimana kemungkinan kerugian itu pasti ada. Namanya juga resiko. Tetapi kemungkinan keuntungan dibalik resiko tersebut tidak ada. Jadi resiko kerugian ini pasti ada. Keuntungan dibalik resiko ini tidak ada. Contohnya, kebakaran. Apabila bangunan gudang Anda yang Anda miliki saat ini kebakaran, tidak ada potensi keuntungan di dalamnya bukan? Apabila Anda mengalami kecelakaan, tidak ada potensi keuntungannya. Terjadi banjir atau bencana alam, tidak ada satu pun potensi keuntungan di belakangnya. Nah, ini yang disebut sebagai resiko murni. Biasanya resiko murni ini menjadi objek perlindungan asuransi.
Kita lanjut. Yang kedua adalah resiko spekulatif. Tadi sudah resiko murni, yang kedua sekarang adalah resiko spekulatif. Apa itu resiko spekulatif? Resiko spekulatif adalah kemungkinan terjadi kerugian ada. Namanya juga resiko, tetapi dibalik resiko kerugiannya tersebut, dibalik kemungkinan kerugian tersebut, ada tersembunyi keuntungan. Jadi kemungkinan terjadinya keuntungan juga ada. Potensi dari kerugian dan keuntungan yang akan terjadi bersamaan tersebut akan menajadi bahan analisis kita. Contohnya, resiko usaha dalam bisnis Anda. Itu yang disebut resiko spekulatif. Apabila Anda memulai suatu bisnis, anda akan bertanya-tanya, “O, ini laku apa nggak di bisnis?”. Bisa laku, bisa nggak. Kalau nggak laku, Anda akan menghadapi apa yang namanya resiko, tetapi dibalik resiko tersebut jangan-jangan usaha Anda bisa laku. Contohnya seperti itu. Jadi dibalik resiko tersebut ada satu keuntungan. Ini yang bisa dianalisis.
Sekarang yang nomor tiga adalah resiko statis. Resiko statis adalah resiko yang muncul dari kondisi keseimbangan tertentu. Contohnya, resiko terkena petir pada saat kondisi alam tertentu. Misalnya, hujan begitu besar, menyambar-nyambar, Anda keluar, dari situ Anda tahu di situ petir menyambar-nyambar Anda tersambat. Itu resiko statis. Dimana resiko itu muncul  karena suatu kondisi alam tertentu. Kondisi yang tertentu yang Anda sudah tahu bahwa dalam kondisi hujan, penuh dengan petir, apabila Anda keluar Anda akan tersambar petir. Itu namanya diisebut resiko statis.
Yang keempat adalah resiko dinamis. Resiko yang muncul dari perubahan kondisi tertentu. Contohnya, apabila ada perubaha kondisi ekonomi masyarakat, atau perkembangan teknologi yang belakangan ini semakin berkembang, berkembang, berkembang, itu akan memunculkan resiko baru sebenarnya. Jadi, ada perubahan dari suatu kondisi ekonomi contohnya, atau perubahan dari perkembangan teknologi yang belakangan ini sangat demikian cepat. Itu memunculkan suatu resiko.
Yang kelima adalah resiko objektif. Apa itu resiko objektif? Resiko yang didasarkan pada observasi yang objektif. Resiko ini muncul, resiko ini Anda nilai berdasarkan penilaian Anda yang objektif dengan, penelitian dengan observasi, dengan observasi yang lengkap. Anda akan mengenali, “O, Ini resiko saya”. Itu resiko yang objektif.
Sedangkan yang terakhir, yang keenam adalah resiko yang subjektif. Apa itu resiko subjektif? Resiko subjektif adalah resiko yang Anda kenali itu berdasarkan penilaian yang subjekitf yang artinya Anda tidak melakukan penelitian, tidak melakukan observasi, tapi Anda juga mempertimbangkan bahwa suatu kejadian adalah resiko berdasarkan penilaian Anda semata.
Kita akan bahas contoh-contoh resiko murni. Saya akan balik dari pertama tadi itu. Resiko murni adalah resiko yang kemungkinan kerugiannya ada, tetapi kemungkinan keuntungannya tidak ada. Ini yang disebut resiko murni. Contoh, di dalam bisnis ada tiga. Yaitu, resiko aset fisik, resiko karyawan, atau resiko legal. Apa itu resiko aset fisik? Contohnya, resiko aset fisik adalah yang tadi saya berikan contoh pada Anda yaitu kebakaran pada aset Anda, kebakaran pada bangunan Anda, kebakaran pada kantor Anda, atau banjir yang melanda pabrik Anda. Itu semua resiko yang berkaitan dengan resiko aset fisik. Itu resiko murni. Tidak ada potensi keuntungan dibalik resiko tersebut. Yang kedua adalah resiko karyawan. Resiko karena karyawan dalam organisasi Anda mengalami peristiwa yang merugikan. Saya ambil contoh misalkan, karyawan dalam organisasi kita mengalami kecelakaan kerja. Sehingga dengan kecelakaan kerja yang dialami karyawan kita, maka kegiatan operasional perusahaan akan terganggu. Demikian contohnya. Itu disebut sebagai resiko karyawan. Yang ketiga adalah resiko legal. Apa itu resiko legal? Contohnya adalah resiko kontrak yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ini biasanya muncul dari suatu pendokumentasian yang tidak benar. Misalkan Anda sebagai suatu perusahaan berselisih dengan perusahaan lain dimana perusahaan lain ini menuntut ganti rugi kepada Anda karena Anda menyalahi suatu kontrak yang Anda tidak mengerti atau sebagainya. Ini disebut sebagai resiko legal.
Berikutnya adalah resiko spkulatif seperti saya katakan tadi bahwa resiko spekulatif ini adalah salah satu resiko bisnis yang akan Anda hadapi. Contoh-contoh resiko spekulatif apa itu? Ada empat. Satu adalah resiko pasar. Resiko pasar adalah resiko yang terjadi dari pergerakan harga atau kualitas harga pasar. Resiko yang terjadi dari pergerakan harga pasar. Misalkan contohnya, apabila dalam bisnis Anda menjual suatu produk, ketika terjadi kondisi ekonomi tertentu maka harga dari produk yang Anda jual ini turun. Misalkan contohnya seperti itu. Anda tidak bisa berbuat apa-apa karena pasar yang menentukan harganya turun, Anda akan mengalami kerugian. Kedua adalah resiko kredit. Apa itu resiko kredit? Resiko kredit adalah resiko karena counter party atau pihak ketiga gagal memenuhi kewajibannya pada perusahaan Anda. Contohnya, ini sangat-sangat sering terjadi. Contohnya Anda menghasilkan suatu produk, kemudian produk konsumsi, produk consumer goods, Anda menawarkan menjualnya ke konsumer Anda melalui toko-toko, kemudian Anda memberikan piutang ke toko tersebut. Taruh barang di situ. Kemudian sebulan kemudian Anda datang ke toko tersebut Anda menagih. Tenyata toko tersebut tidak membayarnya kepada Anda. Bahkan suatu saat ternyata toko tersebut tutup atau bangkrut. Ini resiko kredit. Nah, yang ketiga adalah resiko likuiditas. Apa itu resiko likuiditas? Resiko likuiditas adalah resiko tidak bisa memenuhi kebutuhan kas. Uang kas Anda habis. Resiko tidak bisa menjual dengan cepat karena ketidaklikuiditasan atau gangguan pasar. Pada posisi tertentu misalkan Anda menjual suatu produk, kemudian perubahan ekonomi berjalan di luar sebagai faktor-faktor yang ekternal bisnis Anda, ekonomi jatuh, daya beli masyarakat turun. Anda tidak bisa menjual barang Anda sedangkan produk-produk Anda di gudang ini cukup banyak. Anda tidak bisa menjualnya. Itu resiko likuiditas. Dengan demikian kalau Anda tidak bisa menjual tentu akhirnya Anda tidak dapat memperoleh kas untuk menjalankan bukan? Ini disebut resiko likuiditas. Yang keempat adalah resiko operasional. Apa itu resiko operasional? Resiko operasional adalah resiko kegiatan operasional yang tidak dapat berjalan dengan lancar dan mengakibatkan kerugian. Kegagalan sistem, human eror, pengendalian dan prosedur yang kurang. Misalkan contohnya, dalam perusahaan Anda, Anda sudah menggunakan komputerisasi yang sangat-sangat canggih, suatu hari komputer Anda terserang virus. Dengan adanya komputer Anda ini terserang virus kegiatan operasional Anda tidak dapat berjalan pada hari itu. Mengakibatkan kerugian pada perusahaan Anda. Ini yang disebut dengan resiko operasional. Saya memberikan contoh dua, yaitu resiko murni dan resiko spekulatif. Dua jenis resiko ini sangat-sangat Anda perlu ketahui, Anda perlu kenali di dalam bisnis terutama bagi Anda yang sudah mempunyai perusahaan dan akan menumbuhkan perusahaan Anda seratus kali lebih besar daripada saat ini. Sekian bagian kedua. Salam entrepreneur..

Sumber: T100
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online

RISK MANAGEMENT (Bag. 1) - Teddy Saputra

Salam entrepreneur. Halo UC Onliner. Siapa yang bisa menjadi seorang entrepreneur? Siapa yang bisa menjadi seorang entrepreneur adalah mereka yang siap turun ke lorong, ke lorong ketidakpastian dan ketidak jelasan, namun mereka memiliki tekad yang kuat untuk mencapai tingginya puncak kesuksesan. Tetapi ingat, Anda harus melewati lorong ketidakpastian. Pada satu kesempatan saya teringat bahwa bapak Ciputra pernah berkata, “Saya bisa. Mengapa Anda tidak bisa menjadi seoorang entrepreneur? Apa yang membedakan saya dengan Anda?”. Saya sangat mengingat sekali kata-kata bapak Ciputra ini dan saya berusaha mencari jawaban-jawabannya secara akademik. Dan kemudian saya menemukan bahwa salah satu jawabannya, salah satu jawabannya adalah keberanian bapak Ciputra dan seluruh entreprneur sukses lainnya untuk mengambil dan menghadapi resiko. Resiko. Pertanyaannya adalah, mengapa orang yang behasil mencapai puncak keberhasilannya sebagai seorang entrepreneur berani untuk mengambil dan berhasil dalam menghadapi resiko? Mereka karena mengapa berani mengambil resiko dan mengapa mereka berhasil dalam menghadapi ressiko tersebut?
Jawabannya adalah mereka mampu untuk mengenali resiko. Satu. Karena mereka mampu untuk mengenali resiko yang akan mereka hadapi. Dengan mengenali resiko tersebut mereka mampu untuk memperhitungkan resiko yang akan mereka hadapi serta mengubah resiko yang mereka hadapi tersebut justru menjadi rahasia keberhasilan mereka. Pak Ci mempunyai istilah untuk keadaan seperti ini. Entrepreneur adalah calculated risk taker. Mengambil resiko tetapi dengan memperhitungkan, mengenalinya, kemudian mengahdapi resiko tersebut.
Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan tentang bagaimana Anda untuk mengahadapi resiko tersebut. Ada tiga hal yang akan kita sama-sama bahas yaitu pengertian tentang resiko, kemudian jenis-jenis dari resiko, kemudian bagaimana proses manajemen resiko itu? Akan kita jalankan bersama-sama.
Bagian pertama adalah pengertian resiko. Kita perlu memahami resiko. Menurut para ahli, resiko adalah suatu kondisi dimana kemungkinan terjadinya deviasi antara outcome yang kita harapkan. Menurut Vaughan, risk is condition in wich there is possibility of an adverse deviation, kemungkinan penyelewengan from a desire outcome that is expected or hope for. Yang keduua, kita bisa kutip lagi dari apa yang dikatakan oleh Jones, yaitu risk the uncertainty that expected outcomes will not  be fulfilled. Kita ringkas menjadi apa itu resiko? Satu, adalah kerugian yang tidak kita harapkan. Jadi, resiko itu adalah kerugian yang tidak kita harapkan sama sekali. Dua, penyimpangan dari apa yang kita harapkan. Ketiga, kejadian yang tidak menguntungkan kita. Resiko kita jelaskan menjadi tiga. Kita jelaskan menjadi tiga pengertian yaitu, satu, kerugian yang tidak kita harapkan. Dua, penyimpangan dari yang diharapkan. Dalam satu bisnis kita mengharapkan keuntungan sebesar sepuluh juta. Tetapi kenyataannya kita tidak berhasil mendapatkan satu juta. Maka itu menjadi penyimpangan dari yang kita harapkan. Itu resiko. Yang ketiga adalah kejadian yang tidak menguntungkan.
UC Onliner dimanapun Anda berada saat ini, ketika Anda melihat video ini, bisa jadi Anda adalah satu, seseorang yang bertekad, mempunyai tekad menjadi seorang entrepreneur, tetapi anda tidak berani memulai. Dua, bisa jadi Anda adalah seorang entrepreneur, Anda memiliki perusahaan saat ini. Anda bertekad mengembangkan usaha Anda, menumbuhkan perusahaan Anda tidak dua kali, tidak tiga kali, tidak sepuluh kali, tetapi seratus kali lipat, tetapi Anda tidak berani untuk mengerjakannya. Mengapa? Untuk seorang yang bertekad untuk menjadi seorang entrepreneur tetapi Anda tidak berani untuk memulai, tidak berani untuk melangkah menjadi seorang entrepreneur, karena Anda takut atas resiko-resikonya bukan? Karena Anda mengerti ketika Anda saat ini berada dalam suatu zona kenyamanan, mungkin Anda sekarang sedang bekerja, Anda takut kehilangan penghasilan yang Anda dapat secara rutin, Anda mempertaruhkan itu, dan karena Anda tidak berani, Anda tidak memulainya. Yang kedua, bagi Anda yang saat ini sudah memiliki perusahaan, dan Anda mempunyai keinginan untuk mengembangkan usaha ini bahkan seratus kali, tetapi Anda tidak ingin memulai. Mengapa? Karena Anda takut bukan? Anda takut kehilangan apa yang sudah Anda rintis hingga saat ini. Takut akan apa? Resiko. Resiko selalu menjadi kata kuncinya mengapa kita tidak berani melangkah. Resiko adalah sesuatu yang tidak kita harapakan. Yang sangat-sangat tidak kita harapkan. Dan resiko tetap ada dan selalu menanti Anda.
Sebagai seorang entrepreneur, menghindari resiko bukan suatu jawaban, tetapi mengahadapi resiko tanpa persiapan adalah konyol, yang menjadikan Anda tergantung pada hoki Anda belaka. Bagaimana seharusnya Anda lakukan? Anda harus mengenali resiko, Anda harus menghadapinya, memperhitungkannya dan mengubah resiko tersebut menjadi keuntungan bagi Anda. Itu kuncinya.
Ada dua kata yang saya ingin Anda mengenalinya terlebih dahulu yaitu Eksposur dan Peril. Apa itu Eksposur? Eksposur adalah sumber dari resiko itu sendiri. Misalkan contohnya, suatu bangunan yang bisa terbakar, Anda mempunyai gudang sebagai tempat usaha Anda, Anda tahu ini bisa terbakar suatu saat. Dalam satu kejadian, bagaimana bila bangunan ini terbakar? Di dalamnya banyak persediaan barang Anda. Anda akan menderita kerugian yang luar biasa. Bangunan tersebut dengan resiko kebakaran adalah Eksposurer. Dan kedua adalah Peril. Peril adalah peristiwa yang merugikan. Peristiwanya. Misalkan dalam contoh diatas adalah bangunan yang bisa terbakar. Eksposurenya adalah bangunan, sedangkan Perilnya adalah kebakaran.
Tahukah Anda bahwa seseorang mempunyai kemungkinan, mempunyai resiko tenggelam di dalam bathtub. Anda tahu bathtub, tempat Anda berendam ketika Anda mandi, 1:685.000 ketika Anda mandi. 1:685.000 kemungkinan Anda berendam dan tenggelam di bathtub. Tahukah Anda bahwa 1 dalam 240.000 kemungkinan Anda bisa tersambar petir. Ada lagi, 1:117 kemungkinan Anda terbang menggunakan pesawat dimana pilot pesawat terbang Anda adalah pemabuk. Ada lagi, 1 kemungkinan 1:24.000 kita akan megalami kecelakaan dalam bekerja.  Masih ada lagi, bagi Anda pemain golf, Anda mengerti hole in one? Dengan memukul bola golf kemudian langsung dalam satu kali pukulan masuk ke dalam lubangnya, kemungkinan tersebut ada dalam 1:15.000. Anda juga mempunyai kemungkinan 1:250, Anda mengahasilkan melahirkan bayi yang super jenius. Kemudian ada kemungkinan 1:14 juta Anda memenangkan lotre. Perbandingan-perbandingan tersebut mencerminkan resiko.
Demikian sesi pertama yang dapat saya sampaikan kali ini. Kita akan lanjut pada sesi dua berikutya. Salam entrepreneur.

Sumber: T100
UCEO - Universitas Ciputra Entrepreneurship Online